DENPASAR, radarbali.id - Hasil suara pemilihan presiden di Bali mencengangkan banyak pihak. Meski baru hasil hitungan sementara (quick qount) tapi sudah bisa dinyatakan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka lebih unggul dibandingkan jagoan PDI Perjuangan Ganjar-Mahfud.
Walau disebut di Bali didominasi oleh partai berlambang kepala banteng gemuk dalam lingkaran tersebut tapi tidak selalu berbanding lurus terhadap pemilihan figur.
Bagi Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana Kadek Dwita Apriani berkaca tahun 2013 pemilihan gubernur dimenangkan oleh calon dari Partai Demokrat, Made Mangku Pastika.
Ia mengingatkan kadang-kadang ada misleading melihat Bali, yang selalu dikatakan kandang banteng. Bali punya sejarah khusus pemilihan figur atau orang tidak 100 persen dikaitkan dengan partai pengusung.
“Bali 2013 menjadi bagian penjelasan sejarah kalau di bali masyarakatnya bisa kok proses memilih orang tidak memilih asal partai dominannya. Nah, jadi apa yang terjadi di kondisi saat ini dugaan saya perilaku masyarakat yang memang agak bergeser. Kedekatan psikologi dibagi dua faktor psikologis jangka panjang dan pendek,” katanya.
Peraih gelar Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia ini menjelaskan psikologi jangka panjang berkaitan dengan pemilih tradisional karena identifikasi partai politik atau party-id, ada kedekatan psikologi pemilih dengan partai tertentu.
Namun, saat ini berbeda sejak gen z masuk dalam pemilihan umum, yang tidak lagi mendapatkan warisan identifikasi partai politik dari orang tuanya.
Gen-Z lebih banyak tumbuh dari terpaan new media dan tidak banyak mendapatkan informasi tentang ideologi. Sehingga beralih menjadi psikologi jangka pendek berkaitan lebih melihat kandidat dan isu. Isunya relatif jangka pendek.
“Ini menjadi penjelasan kenapa paslon 02 bisa masuk ke pemikiran anak muda ini,” katanya.
Baca Juga: Arta Sang Petugas KPPS Lega Terjamin JKN dan Persalinan Istri Lancar
Selain itu menangnya pasangan 02 tidak terlepas figur Presiden Jokowi yang dinilai mendukung pasangan Prabowo-Gibran. Dari berbagai survei tingkat kepuasan masyarakat Bali terhadap Jokowi di atas 80 persen.
Tampak terlihat pembangunan yang dilakukan Jokowi di Bali.”Dia melihat Jokowi masih jadi idola di Bali pembangunan yang dilakukan Jokowi diakui masyarakat Bali. Kepuasan mereka juga tinggi terhadap proses pembangunan dilakukan oleh Jokowi. Tadi, dengan melihat masyarakat memandang Jokowi adalah mendukung 02 sesimpel menilai yang sekarang dilanjutkan 02,” paparnya.
Di lain sisi dibandingkan pasangan calon 03 yang dianggap lebih abstraksi atau berat untuk diserap. Berbeda dengan pasangan Prabowo-Gibran seperti lebih menggaungkan Kecurangan atau demokrasi i itu lebih abstrak.
”Iya berat. Itu mereka generasi z kesulitan mengabstraksi sudah tidak bersentuhan ideologisasi terus tiba-tiba ada isu demokrasi. Satunya bahwa sifatnya praktikal sudah jadi dan sudah diterapkan dirasakan satu bawa poin yang berat,” jelasnya.
Kadek Dwita juga masih penasaran, sebab ada berapa survei yang keluar menyatakan pasangan Ganjar-Mahfud unggul sekitar 60 persen, namun seketika berubah. Dinamika apa yang terjadi, tapi menurutnya yang masuk akal mengenai psikologi jangka pendek tersebut.
Di satu sisi, Kadek Dwita tidak setuju akan anggapan dengan media sosial masyarakat semakin peduli dan rasional.
Baca Juga: Suara Pilpres dan Pileg Berkebalikan di Tabanan, Sanjaya Sebut Fenomena Aneh, Ini Analisisnya
Sebab, menurutnya rasional itu perilaku mengharuskan masyarakat mengumpulkan informasi dan dipertimbangkan seluruh informasi tersebut.
Sementara di media sosial algoritma membuat tidak mencari informasi dan mencari tahu, tetapi lebih tertarik punya predisposisi terlebih dahulu akhirnya suka dan itu ada tendensi apa yang disukai ditampilkan terus menerus.
“Akhirnya kelengkapan informasi tidak ada pada kita. Jadi social media merupakan pemilih rasional tunggu dulu pemilih rasional mereka yang memilih berdasarkan informasi yang lengkap dan pertimbangkan seluruh informasi tersebut untuk untung atau rugi diri mereka. Itu tidak terpenuhi elemennya jadinya. Paling tepat psikologi jangka pendek,” paparnya.
Baca Juga: Bidik Lonjakan Pengunjung, Klungkung Siapkan Dua Festival Bernilai Miliaran Tahun Ini
Selain itu, suara partai yang tinggi dibandingkan presiden karena masyarakat tidak lagi satu jalur, melainkan membagi pemilihan mereka yang disebut split ticket voting karena masyarakat mulai sadar ketika memiliki lima surat suara untuk dibagikan pilihannya tidak satu kubu. ***