Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ganjar - Mahfud yang Diusung PDIP di Bali Kalah, Benarkah Ada Pengaruh Jokowi Effect?, Begini Faktanya

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 19 Februari 2024 | 14:15 WIB
 

MENGEJUTKAN: Kolase para kandidat paslon capres-cawapres RI di Pemilu 2024. Di Bali malah dimenangkan Prabowo Gibran.
MENGEJUTKAN: Kolase para kandidat paslon capres-cawapres RI di Pemilu 2024. Di Bali malah dimenangkan Prabowo Gibran.

DENPASAR, radarbali.id - Hasil suara pemilihan presiden di Bali  mencengangkan banyak pihak. Meski baru hasil hitungan sementara (quick qount) tapi sudah bisa dinyatakan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka lebih unggul dibandingkan jagoan PDI Perjuangan Ganjar-Mahfud.

Walau disebut di Bali  didominasi oleh partai berlambang kepala banteng gemuk dalam lingkaran tersebut tapi tidak selalu berbanding lurus terhadap pemilihan figur.   

Bagi Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana Kadek Dwita Apriani  berkaca tahun 2013 pemilihan gubernur dimenangkan oleh calon dari Partai Demokrat, Made Mangku Pastika. 

Baca Juga: Lomba Ogoh-Ogoh 2024: Kekuatan Konstruksi dan Ide Jadi Penentu Penilaian, Tim Juri Datang ke Banjar-Banjar, Cek Hadiahnya!

Ia mengingatkan kadang-kadang ada misleading melihat Bali, yang selalu dikatakan kandang banteng. Bali punya sejarah khusus  pemilihan  figur atau orang tidak 100 persen dikaitkan dengan partai pengusung.

“Bali 2013 menjadi bagian penjelasan sejarah kalau di bali masyarakatnya bisa kok proses memilih orang tidak memilih asal partai dominannya. Nah, jadi apa yang terjadi di kondisi saat ini dugaan saya perilaku masyarakat yang memang agak bergeser. Kedekatan psikologi dibagi dua faktor psikologis jangka panjang dan pendek,” katanya.

Peraih gelar Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia ini menjelaskan psikologi jangka panjang berkaitan dengan pemilih tradisional karena  identifikasi partai politik atau party-id, ada kedekatan psikologi pemilih dengan partai tertentu.

Baca Juga: TKD Ganjar-Mahfud Kabupaten Badung Masih Mencari Tahu Penyebab Kekalahan di Pilpres 2024, Pilih Nunggu Real Count

Namun, saat ini berbeda sejak gen z masuk dalam pemilihan umum, yang tidak lagi mendapatkan warisan identifikasi  partai politik dari orang tuanya. 

Gen-Z lebih banyak tumbuh dari terpaan new media dan tidak banyak mendapatkan informasi tentang ideologi. Sehingga beralih menjadi psikologi jangka pendek  berkaitan lebih melihat kandidat dan isu. Isunya relatif jangka pendek.

“Ini menjadi penjelasan kenapa paslon 02 bisa masuk ke pemikiran anak muda ini,” katanya.

 Baca Juga: Arta Sang Petugas KPPS Lega Terjamin JKN dan Persalinan Istri Lancar

Selain itu menangnya pasangan 02 tidak terlepas figur Presiden Jokowi yang dinilai mendukung pasangan Prabowo-Gibran. Dari berbagai survei tingkat kepuasan masyarakat Bali terhadap Jokowi di atas 80 persen.

Tampak terlihat pembangunan yang dilakukan Jokowi di Bali.”Dia melihat Jokowi masih jadi idola di Bali pembangunan yang dilakukan Jokowi  diakui masyarakat Bali. Kepuasan  mereka juga tinggi terhadap proses pembangunan  dilakukan oleh Jokowi. Tadi, dengan melihat masyarakat memandang Jokowi adalah mendukung 02 sesimpel menilai yang  sekarang  dilanjutkan 02,” paparnya. 

Di lain sisi dibandingkan pasangan calon 03 yang dianggap lebih abstraksi  atau berat untuk diserap. Berbeda dengan pasangan Prabowo-Gibran seperti lebih menggaungkan  Kecurangan atau  demokrasi i itu lebih abstrak.

Baca Juga: Bentrok Saling Lempar Batu dan Kayu Antara Warga dan Pekerja Proyek di Balangan Jimbaran, Begini Pemicunya

”Iya berat. Itu mereka generasi z kesulitan  mengabstraksi  sudah tidak bersentuhan  ideologisasi  terus tiba-tiba ada isu demokrasi. Satunya bahwa sifatnya  praktikal sudah jadi dan sudah diterapkan  dirasakan satu bawa poin yang berat,” jelasnya.

 Kadek Dwita juga masih penasaran, sebab ada berapa survei yang keluar menyatakan pasangan Ganjar-Mahfud unggul sekitar 60 persen, namun seketika berubah. Dinamika apa yang terjadi, tapi menurutnya yang masuk akal mengenai psikologi jangka pendek tersebut.

Di satu sisi, Kadek Dwita tidak setuju akan  anggapan dengan media sosial masyarakat semakin peduli dan rasional.

Baca Juga: Suara Pilpres dan Pileg Berkebalikan di Tabanan, Sanjaya Sebut Fenomena Aneh, Ini Analisisnya

Sebab, menurutnya rasional itu perilaku mengharuskan masyarakat mengumpulkan informasi dan dipertimbangkan seluruh informasi tersebut.

Sementara di media sosial algoritma  membuat tidak mencari informasi  dan mencari tahu, tetapi lebih tertarik punya predisposisi terlebih dahulu akhirnya suka dan itu ada tendensi apa yang disukai ditampilkan terus menerus.

“Akhirnya kelengkapan informasi tidak ada pada kita. Jadi  social media merupakan pemilih rasional tunggu dulu pemilih rasional mereka yang memilih berdasarkan informasi yang lengkap dan pertimbangkan   seluruh informasi tersebut untuk untung atau rugi   diri mereka. Itu tidak terpenuhi elemennya jadinya. Paling  tepat psikologi jangka pendek,” paparnya.

 Baca Juga: Bidik Lonjakan Pengunjung, Klungkung Siapkan Dua Festival Bernilai Miliaran Tahun Ini

Selain itu, suara partai yang tinggi dibandingkan presiden karena masyarakat tidak lagi satu jalur, melainkan membagi pemilihan mereka yang disebut  split ticket voting  karena masyarakat mulai sadar ketika memiliki lima surat suara untuk dibagikan pilihannya tidak satu kubu. ***

 
Editor : M.Ridwan
#pdip #02 #kalah #Ganjar Mahfud #Prabowo Gibran #bali