DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Banjir menjadi masalah klasik yang tak pernah selesai. Citra pariwisata Denpasar turut berimbas karena genangan air yang berulang kali merendam sudut-sudut kota.
Padahal, Denpasar sangat bergantung pada sektor pariwisata melalui kontribusi Pajak Hotel dan Restoran (PHR) yang menjadi motor utama Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Situasi diperparah dengan gejolak geopolitik global. Ketegangan di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu ketidakpastian keamanan yang berdampak pada banyaknya wisatawan mancanegara membatalkan rencana liburan ke Pulau Dewata.
Imbasnya merembet ke usaha masyarakat kecil, hotel, restoran, hingga objek wisata yang penjualannya merosot. Lesunya aktivitas ini pun hingga ke pasar-pasar tradisional yang mulai sepi pembeli. Fenomena ini menjadi alarm nyata betapa vitalnya peran pariwisata bagi ekonomi Bali.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Denpasar, I Ketut Budiarta, A.Md.Par., S.Sos., menekankan bahwa di tengah tantangan global, pembenahan infrastruktur tidak bisa ditunda. Masalah kemacetan yang kian mengular, pengelolaan sampah, hingga banjir tahunan harus dicarikan solusi permanen.
Apalagi, guyuran hujan lebat beberapa hari lalu kembali menenggelamkan sejumlah titik di Ibu Kota Provinsi Bali ini. Wilayah Denpasar Selatan, mulai dari Sanur, Renon, Sidakarya, Sesetan, hingga Pemogan menjadi kawasan yang paling terdampak banjir.
“Kami mendorong pemerintah segera melakukan langkah konkret melalui normalisasi sungai yang melintasi pemukiman warga. Seperti Tukad Ngenjung di Renon dan Tukad Punggawa di Sidakarya, serta aliran Tukad Badung atau Taman Pancing di Pemogan,” tegas Ketut Budiarta.
Menurutnya, alur sungai yang bermuara langsung ke laut perlu perhatian khusus. Sedimentasi yang memicu pendangkalan serta penyempitan saluran air membuat sungai meluap karena tidak mampu menampung debit air, sehingga air meluber ke rumah-rumah warga.
Selain normalisasi, Budiarta menyarankan penggelontoran drainase secara rutin di titik-titik rawan tersumbat. Untuk kawasan cekungan, ia meminta teknis pembangunan drainase lebih cermat dalam mengatur elevasi agar air tidak menggenang.
Pantauan di lapangan menunjukkan, banjir di gang-gang pemukiman sering kali disebabkan oleh sistem drainase yang buruk, posisi gang yang lebih rendah dari jalan utama, hingga saluran air yang tertutup bangunan warga.
“Aparatur di tingkat bawah harus lebih rajin turun ke lapangan untuk memantau wilayahnya. Masyarakat juga harus proaktif melapor agar penanganan bisa cepat.
Untuk titik yang butuh penyedotan, kami sarankan penambahan unit mesin pompa di BPBD. Personel kita sudah sangat sigap, namun memang masih terkendala sarana prasarana,” imbuhnya.
Tak hanya soal infrastruktur fisik, Budiarta juga menyoroti pentingnya kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi bencana melalui pelatihan sukarelawan secara berkala. Di sisi lain, peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga lingkungan, salah satunya dengan rutin melakukan kerja bakti.
“Mari kita galakkan lagi semangat gotong royong. Bersihkan saluran air di depan rumah, jangan buang sampah sembarangan, dan mulai disiplin memilah sampah organik serta anorganik langsung dari sumbernya,” pungkasnya.
Editor : Rosihan Anwar