DENPASAR,radarbali.id - Tidak hanya manis dimasa lalu, kehidupan sang juara tinju juga berliku-liku. Seperti mantan petinju Pino Jeffta Udayana Bahari atau yang lebih dikenal Pino Bahari. Pino pernah menjadi idola pada masa keemasannya karena garang di ring tinju.
Sekarang kegiatannya lebih banyak di luar ring tinju. Ia sudah pensiun menjadi petinju, sempat menjadi promotor tinju. Tapi kini masih disibukkan melatih dan akan membuat event tinju.
Petinju kelahiran Denpasar 15 Oktober 1972 pensiun sebagai atlet sejak 1996 setelah mempersembahkan medali emas PON untuk yang ke tiga kalinya (1989, 1993 dan 1996) untuk provinsi Bali.
Setelah itu ia mulai melatih tinju dan bekerja membantu almarhum ayahnya mendirikan Daniel Bahari Promotions dalam menggelar pertandingan tinju profesional. Pino mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan program siaran langsung di televisi swasta nasional Indosiar di Jakarta dengan nama acara Gelar Tinju Profesional Indosiar (GTPI) seminggu sekali setiap hari Kamis malam. Dari acara itu telah mencetak banyak petinju profesional menjadi juara nasional, juara internasional region Asia Pacific, berperingkat dunia.
"Seperti Daudi Bahari, Daud Yordan dan Chris John bahkan menjadikan Chris John sebagai juara dunia tinju profesional di badan tinju dunia WBA kelas feather weight. Program TVnya berjalan sejak tahun 1997 hingga tahun 2009 lalu," terangnya.
Usai acara itu bungkus, ia kembali ke Bali melatih di sasana sampai sekarang dan sempat beberapa kali ikut kerja di Jakarta dan Bali. Untuk menambah pendapatan, ia juga bekerja menjadi driver online.
"Melatih member-member yang untuk program kesehatan saja boxing nya," ujar pertinju yang lolos kualifikasi Asia Olympiade 1966 di Atlanta USA.
Ayah dua anak ini memberikan pelatihan di sasana Cakti Bali BC di Badung Sasana Cakti Gibbor BC di Denpasar. Prestasinya peraih medali Emas PON 1989, PON 1993, PON 1996, Taipei Open Tournament 1990 di Taiwan dan Asian Games 1990 di Beijing, China.***
Editor : M.Ridwan