Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Revolusi Arsenal: Dari Terpuruk hingga Juara Liga Inggris dan Lolos Final Liga Champions UEFA 2026

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 20 Mei 2026 | 08:56 WIB
Kai Havertz dan Eberechi Eze (Instagram: Arsenal FC)
Kai Havertz dan Eberechi Eze (Instagram: Arsenal FC)

 

RADAR BALI - Perjalanan Arsenal kembali ke papan atas sepak bola Inggris dan Eropa adalah salah satu proyek rekonstruksi klub paling sabar, terstruktur, sekaligus dramatis dalam sejarah modern Premier League.

Setelah era keemasan Arsene Wenger memudar dan periode transisi yang tidak stabil di bawah Unai Emery, Arsenal sempat terlempar dari status mereka sebagai anggota "Big Six" tradisional.

Berikut adalah fase-fase penting revolusi Arsenal dari titik terendah hingga kembali menjadi kekuatan yang ditakuti:

1. Titik Terendah dan Kedatangan Mikel Arteta

Setelah pemecatan Unai Emery pada akhir 2019, Arsenal menunjuk mantan kapten mereka, Mikel Arteta, yang saat itu menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City.

Arteta mewarisi skuad yang rapuh secara mental, memiliki tagihan gaji yang bengkak karena pemain-pemain bintang yang minim kontribusi, dan kehilangan identitas bermain.

Meski sempat memenangkan FA Cup 2020, grafik performa Arsenal di liga justru merosot. Puncaknya terjadi pada musim 2020/2021 ketika mereka finis di peringkat ke-8 dan gagal lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 25 tahun.

Tekanan publik sangat besar, namun manajemen klub di bawah direktur olahraga Edu Gaspar dan pemilik Stan Kroenke memilih untuk mempercayai proses.

2. Pembersihan Skuad Besar-Besaran 

 

Langkah paling krusial dalam revolusi ini adalah keberanian Arteta dan Edu untuk memutus rantai "pemain beracun" di ruang ganti.

Pemain-pemain dengan gaji selangit namun minim disiplin atau tidak sesuai dengan visi taktis jangka panjang dilepas, sering kali dengan pemutusan kontrak yang merugikan klub secara finansial dalam jangka pendek.

Nama-nama besar seperti Mesut Ozil, Pierre-Emerick Aubameyang yang dicopot dari jabatan kapten karena masalah indisipliner, Nicolas Pepe, hingga Alexandre Lacazette dilepas demi membangun budaya baru yang berbasis pada kerja keras, disiplin, dan rasa hormat terhadap logo klub.

Kebijakan Transfer Cerdas dan Berbasis Profil

Alih-alih membeli pemain bintang instan, Arsenal beralih ke strategi perekrutan pemain muda yang lapar, memiliki karakter kuat, dan sesuai dengan skema taktis Arteta.

Fondasi Pertahanan: Perekrutan Aaron Ramsdale, Ben White, Gabriel Magalhaes, dan kembalinya William Saliba dari masa peminjaman mengubah lini belakang Arsenal dari yang dulunya rapuh menjadi salah satu yang paling sulit ditembus.

Kreativitas dan Kepemimpinan: Pembelian Martin Odegaard dari Real Madrid menjadi salah satu keputusan terbaik. Ia tidak hanya menjadi motor serangan, tetapi juga diangkat menjadi kapten baru yang memimpin dengan contoh di lapangan.

Mentalitas Juara: Kehadiran Gabriel Jesus dan Oleksandr Zinchenko dari Manchester City membawa pengalaman dan mentalitas pemenang yang sangat dibutuhkan oleh skuad muda Arsenal.

Transformasi Taktis dan Kematangan Skuad

Arteta menerapkan sepak bola berbasis penguasaan bola yang agresif, mengandalkan struktur pertahanan yang kokoh, high-pressing, dan fleksibilitas taktis (seperti peran bek sayap yang masuk ke tengah atau inverted fullback).

Pemain-pemain akademi seperti Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli berkembang menjadi penyerang sayap kelas dunia di bawah bimbingan Arteta.

Skuad ini terus dimatangkan dengan tambahan pemain kunci seperti Declan Rice di lini tengah, yang memberikan keseimbangan sempurna antara bertahan dan transisi menyerang.

Puncak Revolusi: Konsistensi Domestik dan Eropa

Setelah dua musim berturut-turut menjadi penantang terdekat Manchester City dalam perebutan takhta Premier League, kematangan taktis dan mentalitas skuad yang mengakar akhirnya membuahkan hasil tertinggi.

Arsenal berhasil mematahkan dominasi domestik dengan tampil sangat konsisten di liga, meminimalkan kesalahan-kesalahan konyol masa lalu, dan menunjukkan kedalaman skuad yang luar biasa untuk mengamankan gelar juara Liga Inggris.

Di panggung Eropa, langkah impresif mereka tidak terbendung. Dengan kombinasi pertahanan yang disiplin, transisi yang mematikan, dan atmosfer emirates Stadium yang kembali angker, Arsenal berhasil melewati adangan klub-klub elite Eropa untuk melangkah hingga ke babak final Liga Champions.

Revolusi ini menjadi bukti nyata bahwa kesabaran terhadap sebuah visi, keberanian merombak budaya klub, dan perekrutan yang tepat bisa mengubah klub yang sempat menjadi bahan olok-olok kembali menjadi salah satu kekuatan paling disegani di dunia.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#Arsenal FC #juara premier league 2025 2026 #Revolusi Mikel Arteta #final liga champions uefa 2026 #Kebijakan Transfer Arsenal