Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bobotoh Jangan Panik! Sikap 'Tanpa Target' Igor Tolic di Piala Presiden adalah Strategi Jenius

Dhian Harnia Patrawati • Selasa, 14 Juli 2026 | 11:34 WIB
Gelandang Persib Luciano Guaycochea saat latihan perdana pramusim di lapangan pendamping GBLA Bandung.
Gelandang Persib Luciano Guaycochea saat latihan perdana pramusim di lapangan pendamping GBLA Bandung.

 

RADAR BALI - Turnamen pramusim selalu menjadi panggung yang membingungkan di sepak bola Indonesia. Di satu sisi, ada gengsi yang dipertaruhkan. Di sisi lain, ada jebakan batman bernama kelelahan dan cedera sebelum kompetisi resmi dimulai.

Jelang bergulirnya Piala Presiden 2026, riak kecemasan sempat muncul di kalangan pendukung setia Persib Bandung. Pemicunya adalah pernyataan blak-blakan dari nakhoda anyar Maung Bandung Igor Tolic yang menegaskan bahwa dirinya tidak mematok target juara pada turnamen tersebut.

Bagi sebagian Bobotoh yang terbiasa melihat Persib menargetkan trofi di setiap ajang, sikap ini mungkin terasa kurang ambisius. Namun, jika kita membedah data dan situasi riil yang dihadapi klub saat ini, keputusan pelatih asal Kroasia tersebut bukanlah tanda kepasrahan. Sebaliknya, ini adalah sebuah strategi jenius yang penuh kalkulasi.

Berikut adalah analisis mendalam mengapa Bobotoh justru harus mendukung penuh gaya kalem pelatih Igor Tolic di pramusim kali ini.

1. Menghindari "Kutukan" Pramusim dan Ancaman Cedera

Sejarah mencatat bahwa tim yang terlalu bernafsu membakar seluruh energinya di turnamen pramusim sering kali kehabisan bensin saat kompetisi liga yang sesungguhnya berjalan. Pelatih Igor Tolic sangat menyadari risiko ini.

Apalagi, agenda Persib di musim 2026/2027 bukan hanya kompetisi domestik. Pangeran Biru dihadapkan pada jadwal padat di empat kompetisi sekaligus: Piala Presiden, BRI Super League, babak play-off ACL Two melawan Manila Digger, dan ASEAN Club Championship (ACC) Shopee Cup.

Memaksakan skuad utama tampil dengan intensitas tinggi demi trofi pramusim adalah perjudian yang terlalu mahal. Risiko cedera pemain pilar di fase ini bisa merusak seluruh rencana besar Persib di Asia dan kompetisi domestik yang berdurasi panjang.

2. Lab Eksperimen untuk 10 Wajah Baru

Musim ini, manajemen Persib melakukan evaluasi dan perombakan besar-besaran dengan melepas 10 pemain, termasuk nama-nama seperti Andrew Jung dan Rezaldi Hehanussa. Sebagai gantinya, gerbong pemain baru dengan kualitas menjanjikan didatangkan.

Piala Presiden adalah waktu yang tepat bagi pelatih Igor Tolic untuk menguji kombinasi taktiknya tanpa beban psikologis harus menang di setiap laga. Di turnamen inilah rekrutan anyar seperti Luka Menalo, Balsa Sekulic, dan gelandang asal Jepang Gakuto Notsuda (yang mengenakan nomor punggung 17) bisa membangun chemistry di lapangan.

Menuntut tim yang baru dibongkar-pasang ini untuk langsung tampil sempurna dan juara di Piala Presiden justru kontraproduktif. Mereka membutuhkan menit bermain yang cair, bukan tekanan mental dari papan skor.

3. Panggung Integrasi Duo Mega-Bintang Diaspora

Daya tarik utama Persib musim ini tentu saja terletak pada keberhasilan mendaratkan dua penggawa Timnas Indonesia: Sandy Walsh dan Ragnar Oratmangoen. Sandy Walsh diikat kontrak berdurasi 3 tahun dan siap mengawal sektor bek kanan dengan nomor punggung 6, sementara Ragnar akan menjadi motor serangan baru dari sektor sayap.

Baik Sandy maupun Ragnar datang dari atmosfer kompetisi Eropa yang memiliki perbedaan mencolok dalam hal cuaca, kelembapan udara, dan kultur permainan.

Menurunkan ekspektasi di Piala Presiden memberikan ruang bernapas yang sangat ideal bagi kedua pemain diaspora ini untuk beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia. Pelatih Igor Tolic bisa memainkan mereka secara bertahap, misalnya 30 atau 45 menit per laga, untuk mengukur kebugaran mereka sebelum diturunkan sebagai starter di kompetisi resmi.

4. Menakar Kedalaman Skuad Tanpa Intervensi Hasil

Dengan "jadwal horor" yang dihadapi Persib, rotasi adalah kunci. Pemain senior seperti Adam Alis dan Luciano Guaycochea secara terbuka telah menyatakan optimismenya terhadap kedalaman skuad saat ini. Namun, teori di atas kertas harus diuji dalam pertandingan riil.

Dengan menyatakan 'tanpa target', pelatih Igor Tolic bebas membongkar pasang formasi. Ia bisa melihat sejauh mana pemain pelapis mampu menjalankan instruksinya ketika pilar utama diistirahatkan.

Keberadaan Achmad Jufriyanto yang kini menjabat sebagai asisten pelatih juga menjadi jembatan krusial untuk menjaga stabilitas ruang ganti dan membantu pemain memahami filosofi taktik baru ini tanpa perlu panik jika hasil akhir di pramusim tidak sesuai harapan.

Kesimpulan: Proses adalah Target yang Sesungguhnya

Bobotoh perlu melihat gambaran besar. Target utama Persib Bandung adalah mempertahankan kejayaan di kompetisi domestik dan berbicara banyak di kancah antarklub Asia serta ASEAN.

Piala Presiden 2026 bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana prasarana. Sikap "kalem" dan tanpa beban yang disuntikkan oleh pelatih Igor Tolic justru melindungi para pemain dari tekanan dini, meminimalkan risiko cedera, dan memaksimalkan fungsi pramusim sebagai laboratorium taktik.

Jadi, Bobotoh jangan panik. Mari nikmati prosesnya, karena fondasi juara yang sesungguhnya sedang dibangun dengan kepala dingin!*

Editor : Ibnu Yunianto
Piala Presiden 2026 persib bandung sandy walsh igor tolic Ragnar Oratmangoen