DENPASAR, radarbali.id – Kontingen Bali kloter terakhir tiba di pulau dewata pada Minggu malam (22/9). Ketua KONI Bali, IGN Oka Darmawan pun memberikan semangat kepada para atletnya yang telah berjuang untuk mencapai prestasi tertinggi diajang PON XXI 2024 di Aceh-Sumut.
Target untuk meraih 45 medali emas memang meleset. Banyak cabor andalan yang secara mengejutkan tidak mampu meraih emas. Sebut saja seperti cabor pencak silat dan panjat tebing. Meski begitu, kontingen Bali tetap menciptkan sejarah di PON kali ini.
Dalam catatan yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, raihan total 134 medali yang terdiri dari 36 emas, 38 perak dan 60 perunggu merupakan yang terbesar diperoleh kontingen Bali selama ikut serta sebagai peserta PON pada tahun 1961 silam.
Sebagai informasi, PON pertama kali digelar tahun 1948 di Solo. Namun, Bali pertama kali ikut PON dengan bendera provinsi sendiri pada pesta di Jakarta 1961. PON pertama pada 1948 dan 1951, Provinsi Bali belum terbentuk. Kemudian pada PON III 1954 dan PON IV 1957, Bali masih bergabung dengan NTB-NTT.
Seiring dengan perjalannya waktu, prestasi atlet Bali kian meninggkat, terutama soal jumlah peserta atau atlet yang ikut serta dan juga raihan medali tentunya. Jika dihitung dari PON 2012 saja, Bali mendapatkan 15 medali emas. Kemudian di tahun 2016, Bali meraih 20 emas.
Di tahun 2021 prestasi atlet Bali kian meningkat di mana mampu meraih 28 emas di PON yang digelar di Papua tersebut. Nah di tahun 2024 ini, Bali mampu meraih 36 emas meski meleset dari 45 medali emas yang ditargetkan.
Secara kuantitas, PON yang digelar di Aceh-Sumut ini memang banyak yang diikuti oleh Bali. Di wilayah Aceh, Bali mengikuti 19 cabor yang dipertandingkan dan memperoleh 11 emas, 16 perak dan 27 perunggu. Sedangkan di wilayah Sumut, kontingen Bali mengikuti 18 cabor dengan raihan 25 emas, 22 perak dan 33 perunggu.
Salah satu yang mengejutkan adalah prestasi yang diukir oleh cabor tenis meja. Di mana untuk pertama kalinya meraih emas sejak Bali ikut sebagai peserta PON. Raihan itu disumbangkan oleh pasangan I Komang Sugita dan Ni Made Sisca dalam pertarungan melawan atlet Jawa Timur di GOR Angsapura, Medan pada Minggu (15/9/2024) lalu.
Raihan medali diluar target justru terjadi di KONI daerah. Seperti halnya atlet Badung yang dipasang target 20 emas justru mendapatkan 26 emas dan juga KONI Buleleng yakni memasang 5 medali emas justru mendapatkan 9 medali emas dari atletnya.
Ketut Wiratmaja, Ketua KONI Buleleng saat diwawancara kemarin mengatakan jika pihaknya memasang target 5 medali emas yakni 2 woodball, 1 cabor panjat tebing , 1 cricket dan 1 dari Muaythai. Hal ini didasarkan pada pengalaman 4 tahun lalu dimana cricket dapat meraih medali emas dan perkembangan pesat Desak Rita pada cabang panjat tebing.
Sementara woodball prestasi saat kejurnas dan babak kualifikasi menunjukkan dominasi sehingga dari 8 nomor kita yakin meraih 2 medali emas. Namun raihan ini ternyata melebihi target yakni 9 emas, 7 perak dan 10 perunggu dari kontribusi medali atlet Buleleng untuk Bali di PON XXI Aceh-Sumut 2024 ini
Untuk diketahui Buleleng menyertakan 64 atlet . Sebanyak 27 atlet berhasil meraih medali pada 14 cabang olahraga yakni, cricket, atletik, gateball, karate, panjat tebing, woodball, e sport, aerosport , balap sepeda, menembak, sepak takraw, dansa dan taekwondo. ”Sungguh prestasi yang membanggakan bagi kami,” ujarnya.
Kalau dilihat dari perolehan medali, kontingen Bali mampu menambah pundi medali dibandingkan dengan PON XX Papua yang hanya meraih 28 medali emas. Pada PON tahun ini terdapat kenaikan medali emas 22 persen atau 36 medali emas.
”Pun demikian KONI Bali wajib melakukan evaluasi terhadap cabor- cabor yang belum memenuhi target. Reward and punishment sudah selayaknya diterapkan oleh KONI Bali terhadap capaian masing- masing cabor,” pungkas Wiratmaja. (ara)
Editor : M.Ridwan