RADAR BALI - Sebuah gol penyeimbang dramatis di menit kesembilan stoppage time oleh 10 pemain Groningen saat menjamu Ajax Amsterdam mengguncang persaingan gelar Eredivisie.
Pertandingan yang berakhir imbang 2-2 tersebut terasa seperti kekalahan bagi Ajax sekaligus memberikan keunggulan kepada PSV Eindhoven menjelang laga terakhir Liga Belanda musim ini.
Skuad Ajax yang dipimpin gelandang Inggris Jordan Henderson sempat unggul sembilan poin di puncak klasemen pada pertengahan April dengan lima pertandingan tersisa.
Mereka hanya membutuhkan enam poin dari lima laga terakhir untuk mengamankan gelar Liga Belanda ke-37.
Namun, rentetan hasil buruk – dua kekalahan telak dan dua hasil imbang – membuka pintu bagi pesaing terdekatnya, PSV Eindhoven.
Kemenangan 4-1 PSV atas Heracles sebelumnya pada hari Rabu membuat mereka kini unggul satu poin atas Ajax menjelang putaran final pertandingan pada hari Minggu.
Dalam laga Groningen vs Ajax, tim tamu sempat unggul melalui gol Anton Gaaei, namun Thom van Bergen berhasil menyamakan kedudukan.
Wout Weghorst kembali membawa Ajax unggul, dan Groningen harus bermain dengan 10 pemain setelah Luciano Valente mendapat kartu merah karena pelanggaran terhadap Henderson di stoppage time.
Keunggulan jumlah pemain tak mampu dimanfaatkan Ajax, karena Thijmen Blokzijl mencetak gol penyeimbang yang dramatis bagi Groningen.
Dengan hasil imbang Groningen vs Ajax ini, PSV kini berada di atas angin.
Pada hari Minggu, PSV akan bertandang ke markas Sparta Rotterdam, sementara Ajax akan menjamu Twente di Amsterdam.
Dari Unggul Sembilan Poin, Kini Ajax Tertinggal
Ajax mengalami musim terburuk sejak pergantian milenium pada 2023/2024.
Mereka finis di urutan kelima dengan rekor poin per pertandingan terlemah sejak 1965.
Ajax pun berbenah dengan mendatangkan pelatih Francesco Farioli dari Nice.
Sempat tertinggal sembilan poin dari PSV pada awal Desember, Ajax menunjukkan kebangkitan luar biasa dengan meraih 13 kemenangan dan satu hasil imbang dalam 14 pertandingan.
Hasil tersebut membawa klub ibu kota tersebut unggul sembilan poin di puncak klasemen.
Namun, kekalahan telak 4-0 di kandang Utrecht pada 20 April tampak menjadi titik balik.
Hasil imbang melawan Sparta Rotterdam, kekalahan 3-0 di kandang dari NEC, dan kini hasil imbang menyakitkan melawan Groningen telah membuat mereka kehilangan posisi puncak klasemen.
Ajax Mengulang Sejarah Kelam
Tragedi Ajax ini mengingatkan pada sejumlah flop lain di akhir musim.
Klub Botafogo di Liga Brasil pada musim 2023 unggul 13 poin setelah 19 pertandingan.
Naas, mereka hanya memenangkan tiga pertandingan di paruh kedua musim dan finis di urutan kelima, memberi jalan pada Palmeiras untuk menjadi juara.
Dua tahun lalu, Arsenal juga unggul delapan poin di puncak Liga Primer Inggris hingga awal April.
Namun, klub ibu kota Inggris itu harus merelakan gelar kepada Manchester City di musim 2023.
Newcastle juga pernah mengalami nasib serupa di musim 1995-96, kehilangan keunggulan 12 poin dari Manchester United.
Di Serie A musim 2001-02, Inter Milan unggul enam poin namun finis di urutan ketiga, dengan Juventus meraih Scudetto.
Real Madrid bahkan pernah unggul 12 poin di La Liga musim 2003-04 namun akhirnya finis di urutan keempat, dengan Valencia menjadi juara.
Nasib Ajax bagaimana pun lebih baik dari Throttur di Liga Islandia pada tahun 2003, yang memuncaki klasemen di pertengahan musim namun akhirnya terdegradasi.
Hasil imbang melawan Groningen memberikan keuntungan besar kepada PSV dalam perburuan gelar Eredivisie musim ini.
Hasil akhir pertandingan Groningen vs Ajax akan menjadi bagian penting dalam narasi dramatis perebutan gelar musim ini, terutama bila PSV menang dalam pertandingan terakhir di akhir pekan nanti. ***