Di tengah gelapnya subuh Bali, ribuan pelari memulai Maybank Marathon 2025. Namun, di antara mereka, dua nama bersinar paling terang: Robi Syianturi dan Odekta Naibaho. Bukan hanya karena kecepatan mereka, tapi karena kisah perjuangan yang mengantarkan mereka memecahkan rekor nasional.
TENTU bukan pekerjaan yang mudah. Menempuh jarak 42,195 km adalah tantangan besar, apalagi dengan rute yang menanjak sejak kilometer ke-6.
"Kami start saat masih gelap. Dari kilometer 6 sampai 10 itu nanjak terus," cerita Robi, yang berhasil mencetak rekor nasional maraton pria dengan waktu 2 jam 29 menit 18 detik. Ia menyebut, lari maraton bukan hanya soal fisik, tapi juga pembuktian diri.
Sementara itu, Odekta menghadapi tantangan tak terduga yang sempat mengancam catatan waktunya. "Saya sempat ke toilet di kilometer 20," ujarnya jujur sambil tertawa. Meski sempat terhenti, Odekta tetap berjuang dan berhasil menuntaskan lomba dengan waktu 2 jam 47 menit 28 detik, memecahkan rekor nasional maraton perempuan. "Ini bukan hanya tentang menang, tapi bagaimana kita mempersiapkan mental dan fisik," tambahnya, menekankan pentingnya ketahanan mental.
Lebih dari sekadar memecahkan rekor, Robi dan Odekta melihat Maybank Marathon sebagai batu loncatan. Kemenangan ini membuka jalan bagi mereka untuk mengikuti pemusatan latihan di Kenya, "tanah" para pelari terbaik dunia.
"Hadiah ini sangat membantu kondisi keuangan kami sebagai atlet," kata Odekta, menyoroti realita profesi atlet di Indonesia. Total hadiah lebih dari Rp2,7 miliar dari Maybank Marathon menjadi bukti komitmen mereka dalam mendukung atlet lokal.
Meskipun rekor kategori terbuka (open) belum terpecahkan, prestasi Robi dan Odekta menjadi sorotan utama. Mereka membuktikan bahwa dengan tekad dan perjuangan, atlet lokal mampu bersaing dan mengukir sejarah. Seperti yang disampaikan Project Director Maybank Marathon, Widya Permana, acara ini bukan hanya ajang lomba, tapi panggung untuk membentuk masa depan lari Indonesia.[*]
Editor : Hari Puspita