Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sebut Timnya Egois, Pelatih Persijap Jepara Tak Liburkan Skuad Jelang Bertemu Bali United

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 1 Oktober 2025 | 20:49 WIB
BERBENAH - Pemain Persijap Jepara saat melawan Borneo FC. Laskar Kalinyamat tak libur selama jeda kompetisi karena kalah beruntun dari Persita Tangerang dan Persik Kediri.
BERBENAH - Pemain Persijap Jepara saat melawan Borneo FC. Laskar Kalinyamat tak libur selama jeda kompetisi karena kalah beruntun dari Persita Tangerang dan Persik Kediri.

RADAR BALI - Pelatih Persijap Jepara Mario Lemos mengambil langkah tegas menyikapi dua kekalahan beruntun timnya di kandang.

Selama jeda BRI Super League 2025/2026 yang bertepatan dengan agenda FIFA Matchday, skuad berjuluk Laskar Kalinyamat tidak akan menikmati libur panjang.

Keputusan ini diambil setelah laga pekan ke-8 melawan Persebaya Surabaya ditunda, memberi Persijap jeda lebih dari tiga minggu sebelum kembali bertanding.

Lemos menegaskan, ini bukan waktunya untuk bersantai.

"Kami harus terus bekerja. Tidak ada waktu untuk liburan," ujarnya. "Kami baru melewati tujuh laga. Saat Anda kalah, Anda harus tetap bekerja untuk berbenah."

Analisis Kekalahan: Kombinasi Teknis, Mental, dan Egoisme

Dua kekalahan memalukan di Stadion Gelora Bumi Kartini, saat takluk dari Persita Tangerang (1-2) dan Persik Kediri (0-2), menjadi pemicu utama langkah ini.

Lemos menilai kekalahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan:

1. Masalah Penyelesaian Akhir dan Tekanan Psikologis.

Secara teknis, Lemos menyoroti tumpulnya lini depan timnya. Persijap mampu menciptakan banyak peluang, tetapi gagal mengonversinya menjadi gol.

Ketiadaan ketenangan dan presisi terlihat jelas, bahkan saat mendapatkan hadiah penalti melawan Persita yang gagal dieksekusi.

Gagal mencetak gol dari situasi matang membuat para pemain frustrasi, memunculkan tekanan psikologis yang memengaruhi pengambilan keputusan dan akurasi tembakan mereka.

2. Kurangnya Koordinasi dan Egoisme Pemain.

Lebih dalam, Lemos menyebut adanya "ego" dalam permainan anak asuhnya.

Alih-alih mengandalkan kerja sama tim, beberapa pemain justru mencoba menjadi pahlawan tunggal.

Mereka memaksakan diri menggiring bola atau menembak dari posisi sulit, ketimbang mengoper ke rekan yang lebih bebas.

Sikap ini menghambat koordinasi dan memutus alur serangan, membuat pola permainan tim mudah dipatahkan lawan.

Ini juga mencerminkan kurangnya kepercayaan antar pemain. Seorang penyerang lebih memilih mengambil risiko pribadi daripada memercayai rekan setimnya untuk menyelesaikan peluang.

Akibatnya, alih-alih menyerang secara kolektif, serangan Persijap menjadi individualistis dan kurang efektif.

Dengan jeda yang panjang ini, Lemos berharap bisa memperbaiki semua aspek tersebut.

Latihan keras akan menjadi fokus utama untuk mengembalikan ketajaman dan kepercayaan diri tim.

Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian berat bagi Laskar Kalinyamat, saat mereka menjamu Bali United pada pekan ke-9, Minggu (19/10/2025).

Ini adalah pertemuan pertama sejak Persijap promosi ke Super League. Kedua tim pernah bertemu saat Bali United masih bernama Persisam Putra Samarinda pada musim kompetisi 2010/2011.

Dalam dua pertemuan tersebut, Persijap menang sekali dan satu pertandingan lain berakhir imbang. 

Hingga pekan ketujuh, Persijap Jepara kini berada di peringkat ke-13 klasemen sementara dengan delapan poin, turun drastis dari posisi lima besar yang sempat mereka tempati.

 

 

 

 

 

 

 
Editor : Ibnu Yunianto
#Mario Lemos #persijap vs bali united #Super League #bali united #Persebaya #Franca #persijap jepara