Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Lebih Agresif dari STY, Inilah Filosofi Pressing Timur Kapadze yang Cocok untuk Timnas Indonesia

Dhian Harnia Patrawati • Minggu, 23 November 2025 | 19:19 WIB
COCOK - Asisten Pelatih Timnas Uzbekistan Timur Kapadze.
COCOK - Asisten Pelatih Timnas Uzbekistan Timur Kapadze.


RADAR BALI - PSSI dikabarkan sedang melakukan negosiasi dengan Timur Kapadze untuk menukangi tim nasional setelah ditinggalkan Patrick Kluivert pada Oktober lalu.

Juru taktik asal Uzbekistan ini adalah sosok di balik kebangkitan sepak bola negaranya, yang berpuncak pada kelolosan bersejarah ke Piala Dunia FIFA 2026.

Pelatih berusia 44 tahun ini membawa janji filosofi permainan modern yang tak hanya melanjutkan fondasi yang telah dibangun Shin Tae-yong (STY) namun juga meningkatkan intensitas dan agresivitas di lapangan.

Berikut adalah uraian filosofi pressing Timur Kapadze dan mengapa gaya kepelatihan mantan gelandang timnas Uzbekistan ini sangat relevan dan cocok untuk skuad Garuda saat ini.

1. Filosofi Pressing Modern yang Haus Kemenangan

Secara umum, Kapadze menganut gaya permainan yang agresif, menyerang, dan berorientasi pada pressing tinggi terhadap lawan.

Pelatih kelahiran 1981 ini secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan utama dari gaya menyerang tersebut adalah hasil akhir yaitu kemenangan.

Gaya mantan pemain Lokomotiv Tashkent ini sejalan dengan identitas sepak bola modern di Asia dan Eropa, di mana tim harus berani menekan lawan sejak lini pertahanan pertama.

Kapadze ingin timnya tidak hanya menunggu, tetapi menjadi inisiator dalam merebut bola kembali di area pertahanan lawan, yang memungkinkan transisi menyerang yang cepat.

2. Persamaan dan Perbedaan Kunci Kapadze dengan STY dan Kluivert

Filosofi Kapadze memiliki banyak kemiripan dengan pendahulunya, STY, namun membawa dosis agresivitas yang lebih tinggi.

Pelatih kelahiran Fergana ini sangat result-oriented dan fleksibel dalam formasi.

Dia sering menggunakan sistem tiga bek (seperti 3-4-3) dan berani mengorbitkan pemain muda secara masif, menjamin kelanjutan fondasi yang telah dibangun STY.

Jika STY sering fokus pada pertahanan yang sangat solid dan melakukan pressing yang terukur, Kapadze dikenal dengan gaya yang lebih agresif, menyerang, dan high-pressing.

Pria Uzbekistan bertinggi 1,85 meter ini menghendaki timnya memulai tekanan tinggi sejak dari garis depan lawan dan melakukan transisi menyerang super cepat.

Dibandingkan Patrick Kluivert yang dikenal mengusung gaya dominasi penguasaan bola (total football) ala Belanda, Kapadze menekankan intensitas fisik, kecepatan pressing, dan efisiensi untuk meraih hasil.

Sosok ini menawarkan solusi yang terbukti efektif untuk mencapai hasil di level Asia.

3. Arsitek Regenerasi dan Pembentuk Mentalitas Pemenang

Kecocokan terbesar Kapadze dengan Timnas Indonesia adalah komitmennya pada regenerasi.

Mantan pemain Pakhtakor ini adalah "arsitek" yang berhasil membentuk Generasi Emas Uzbekistan, yang dibuktikan dengan lolos ke Olimpiade Paris 2024 dan meraih dua kali Runner-up Piala Asia U-23.

Filosofi pengembangan pemain muda ini sangat cocok dengan komposisi Timnas Indonesia yang didominasi oleh pemain-pemain muda dan naturalisasi yang masih berada di usia emasnya.

Kapadze telah membuktikan bahwa pelatih mampu mematangkan potensi pemain muda di turnamen besar, yang puncaknya adalah memimpin tim senior Uzbekistan lolos ke Piala Dunia 2026.

4. Fleksibilitas Taktik dan Pengalaman di Level Tinggi

Kapadze adalah pelatih yang fleksibel dan tidak terpaku pada satu formasi. Meskipun 4-3-3 menjadi basis, kemampuan taktisnya beradaptasi menggunakan sistem 3-4-3 atau 4-2-3-1.

Fleksibilitas itu memberikan kekayaan taktik yang dibutuhkan Timnas Indonesia untuk menghadapi beragam lawan di Asia Tenggara maupun Asia.

Selain itu, manajer tim nasional Uzbekistan 2025 ini membawa pengalaman meraih gelar juara, yaitu memimpin Timnas Senior Uzbekistan menjuarai CAFA Nations Cup 2025.

Hal ini menunjukkan bahwa filosofi agresifnya bukan hanya menarik di atas kertas, tetapi juga efektif dalam meraih kemenangan puncak di turnamen yang sesungguhnya.

5. Pemain Kunci Timnas yang Sesuai Skema Kapadze

Skema Kapadze, baik 4-3-3 maupun 3-4-3, menuntut pemain yang disiplin posisi, memiliki stamina tinggi, dan cepat dalam transisi. Skuad Timnas Indonesia saat ini memiliki beberapa pemain yang secara profil sangat cocok untuk menjalankan filosofi agresif pelatih ini:

Bek Sentral Agresif (Pengatur Serangan): Jay Idzes dan Rizky Ridho sangat cocok. Kapadze menyukai bek yang berani melakukan build-up dari belakang dan aktif memotong serangan lawan.

Gelandang Penggerak (Box-to-Box): Thom Haye dan Joey Pelupessy ideal di lini tengah untuk mendistribusikan bola secara vertikal sekaligus memimpin high-pressing.

Bek Sayap Serang (Wing-Back): Dalam sistem Kapadze, bek sayap dituntut aktif menyerang dan bertahan, memberikan umpan silang berkualitas. Calvin Verdonk dan Kevin Diks memiliki atribut kecepatan, stamina, dan kemampuan menyerang yang dibutuhkan untuk mengeksploitasi sektor sayap.

Penyerang Pressing dan Cepat: Di lini depan, dibutuhkan penyerang yang memiliki kecepatan untuk melakukan transisi super cepat dan memicu pressing dari garis depan.

Ragnar Oratmangoen dan pemain muda potensial seperti Miliano Jonathans dinilai sesuai untuk peran ini.

Dengan filosofi yang mengombinasikan agresivitas menyerang, high-pressing, orientasi hasil yang kuat, dan kesuksesan teruji dalam pengembangan pemain muda, Timur Kapadze tidak hanya akan melanjutkan warisan STY.

Dia juga berpotensi membawa Timnas Indonesia melangkah ke level yang lebih tinggi, mengincar lolos ke turnamen tingkat tinggi seperti yang pelatih berkepala plontos ini lakukan bersama Uzbekistan.***

Editor : Ibnu Yunianto
#pssi #timnas indonesia #shin tae yong #tim nasional Indonesia #Timur Kapadze #patrick kluivert #erick thohir