Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Jawa Timur resmi menutup Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Paralayang Kategori Ketepatan Mendarat Tahun 2025 di Bukit Waung, Kabupaten Malang, pada Minggu (23/11/2025).
KALI ini, kejuaraan diikuti 100 atlet dari berbagai provinsi ini ditandai dengan persaingan sengit, terutama setelah cuaca ekstrem dan angin yang berubah cepat menjadi tantangan utama bagi seluruh peserta.
Kontingen Bali, yang menurunkan 13 atlet putra dan putri, berhasil menunjukkan ketangguhan mereka di tengah kondisi yang tidak menentu.
Meskipun tantangan cuaca sempat menghambat capaian di nomor perorangan, tim Bali berhasil menorehkan prestasi gemilang di kategori beregu.
Tim Bali Amankan Posisi Tiga Nasional
Pelatih Paralayang Bali, I Komang Gede Arta Susila, membenarkan bahwa atlet-atlet Bali berjuang keras melawan kondisi angin yang membuat akurasi pendaratan sulit dicapai.
"Secara nasional atlet-atlet kita sangat bisa bersaing, tapi karena faktor cuaca yang tidak menentu karena hujan, jadinya untuk ketepatan mendarat perorangan putra hanya berada di luar enam besar," jelas Arta Susila pada Selasa (25/11/2025).
Namun, semangat juang beregu Bali terbayar tuntas. "Di tim dengan menggunakan nama Tim Bali, kita berada di posisi tiga, dan untuk tandem kita berada di posisi empat," lanjutnya bangga.
Dua atlet muda dari Kabupaten Klungkung, Darumaka Rajasa dan Gede Bayu Sukrana, turut menjadi bagian dari perjuangan kontingen Bali di tiga nomor perlombaan: KTM perorangan putra, KTM beregu putra, dan KTM tandem putra.
Tantangan Angin dan Potensi Atlet
Arta Susila menyoroti performa stabil atlet tandem Bali. Darumaka Rajasa yang terbang bersama Bayu mencatat total sembilan poin dari tiga ronde. Pasangan Kadek Vero Surya Prakaca dan Azmi, serta Agus Sumanjaya dan Yudha, juga menunjukkan penampilan kompetitif meskipun harus beradaptasi dengan perubahan arah dan kecepatan angin di udara.
Secara umum, pelatih menilai penampilan para pilot Bali pada Kejurnas ini menunjukkan potensi besar yang terus berkembang. Ia menekankan bahwa konsistensi latihan dan memperbanyak jam terbang adalah kunci untuk meningkatkan kemampuan akurasi pendaratan di berbagai kondisi cuaca.
"Atlet kita ini memiliki potensi besar, tinggal konsistensi latihan dan memperbanyak jam terbang. Cuaca di Malang kemarin cukup ekstrem, tapi mereka tetap fight," tegas Arta Susila.
Selain menjadi arena kompetisi nasional, Kejurnas Paralayang di Bukit Waung ini sekaligus memperkuat posisi Kabupaten Malang sebagai salah satu lokasi paralayang dengan pemandangan laut dan kontur tebing yang menantang di Indonesia. Hasil akhir dan peringkat resmi masih menunggu verifikasi dari FASI Pusat.[*]
Editor : Hari Puspita