RADAR BALI – Kontingen Indonesia dipastikan mengukir sejarah baru dalam perhelatan SEA Games 2025 yang berlangsung di Thailand pada 9–20 Desember.
Melalui pencapaian yang membanggakan, Indonesia berhasil mengamankan posisi runner-up pada klasemen perolehan medali, sebuah prestasi yang telah dinanti selama puluhan tahun.
Hingga tanggal 19 Desember pukul 22:00 WIB semalam, Indonesia kokoh di peringkat kedua dengan koleksi 91 medali emas.
Di bawahnya, Vietnam membuntuti dengan 87 medali emas. Meski hari ini masih menyisakan beberapa pertandingan final, posisi Indonesia secara matematis sudah tidak mungkin terkejar lagi.
Kemenangan Indonesia sebagai peringkat kedua telah terkunci aman. Berikut adalah perbandingan sisa potensi medali emas di hari terakhir.
Indonesia memiliki 2 kesempatan perebutan emas, sedangkan Vietnam memiliki 2 kesempatan perebutan emas.
Dalam skenario terburuk, jika Vietnam menyapu bersih ketiga emas tersebut, total perolehan mereka tetap hanya mencapai 89 emas.
Artinya, raihan medali Vietnam masih di bawah 91 medali emas milik Indonesia. Dengan demikian, bendera Merah Putih dipastikan berkibar sebagai juara kedua.
Memutus Rantai Sejarah Sejak 1995
Pencapaian ini merupakan tonggak sejarah baru bagi olahraga nasional. Indonesia terakhir kali menempati peringkat runner-up pada SEA Games tahun 1995.
Selama hampir tiga dekade, khususnya saat bertanding di luar kandang (bukan tuan rumah), posisi Indonesia biasanya tertahan di peringkat ketiga atau keempat.
Keberhasilan tahun 2025 ini membuktikan adanya peningkatan signifikan dalam kualitas dan mentalitas atlet nasional.
Meskipun sukses di klasemen umum, perjalanan Indonesia di Thailand diwarnai dengan dinamika di berbagai cabang olahraga (cabor). Terdapat kehilangan emas di nomor bergengsi, namun berhasil ditutupi oleh lonjakan prestasi di sektor lain.
Beberapa kegagalan medali emas yang cukup krusial meliputi:
Sepak Bola Putra: Timnas U-22 Indonesia gagal total mengulang raihan emas di SEA Games 2023 dengan gagal lolos di fase grup.
Bola Voli Putra: Rekor kemenangan beruntun (hattrick emas) Indonesia terhenti setelah kalah dramatis 2-3 dari Thailand di final.
Sepak Bola Putri: Indonesia gagal membawa pulang medali setelah takluk 0-2 dari Thailand dalam perebutan perunggu.
Bulu Tangkis: Meski meraih emas di tunggal putra, Indonesia kehilangan emas di nomor Ganda Putri dan Beregu Putri (keduanya meraih perak), serta Ganda Campuran (perunggu).
E-sports & Futsal: Dominasi di nomor Free Fire memudar (hanya perak dan perunggu), sementara Futsal Putra harus puas dengan perak setelah dikalahkan tuan rumah.
Di sisi lain, Indonesia berhasil merebut kembali takhta di beberapa nomor penting:
Atletik (Estafet 4x100m Putra): Lalu Muhammad Zohri dkk. berhasil merebut kembali "emas yang hilang" dari tangan Thailand.
Tunggal Putra Bulu Tangkis (Alwi Farhan): Membuktikan regenerasi tunggal putra tetap solid dengan meraih emas nomor perorangan.
Panahan & Dayung: Tim Compound Putri memberi kejutan dengan mengalahkan tuan rumah. Sementara di cabor Kano, penggunaan sport science membuahkan dominasi emas di nomor-nomor baru.
Lonjakan emas terlihat di cabor Pencak Silat (nomor seni), Renang (nomor punggung putra), serta Wushu pada nomor Sanda (tarung).
Menpora Erick Thohir menekankan bahwa hasil gemilang ini tidak terlepas dari dukungan penuh Presiden RI serta kebijakan strategis dalam mengirimkan atlet terbaik.
Selain itu, kebijakan tambahan berupa insentif sebesar Rp1 miliar bagi peraih emas sebagai jaminan tabungan masa depan menjawab kekhawatiran orang tua mengenai masa depan atlet, sehingga mereka dapat fokus sepenuhnya pada prestasi.***
Editor : Ibnu Yunianto