RADAR BALI – Euforia kedatangan Layvin Kurzawa ke Persib Bandung pada putaran kedua Super League 2025/2026 disambut peringatan realistis dari sang pelatih, Bojan Hodak.
Meski Kurzawa datang dengan profil bintang dunia eks Paris Saint-Germain (PSG), Hodak meminta Bobotoh tidak mengharapkan keajaiban instan di lapangan.
Pelatih asal Kroasia tersebut secara terang-terangan membandingkan situasi Kurzawa dengan dua pilar asing lainnya, Stefano Beltrame dan Federico Barba.
Keduanya sempat diragukan di awal kedatangannya namun akhirnya berhasil membuktikan kualitasnya setelah melewati masa adaptasi yang cukup.
Jalan Terjal Adaptasi Beltrame dan Barba
Permintaan sabar dari Bojan Hodak merujuk pada sejarah sukses dua pemain asing sebelumnya yang tidak langsung "meledak" di laga debut.
Stefano Beltrame, eks pemain Juventus, sempat menuai kritik tajam pada beberapa laga awalnya di musim 2023/2024.
Fisiknya dinilai belum siap menghadapi intensitas liga Indonesia dan ia tampak kesulitan menyatu dengan aliran bola lini tengah Maung Bandung.
Namun, setelah melewati masa adaptasi sekitar dua bulan, Beltrame menjelma menjadi motor serangan vital yang membawa Persib meraih gelar juara.
Hal serupa dialami Federico Barba. Bek asal Italia ini datang dengan ekspektasi tinggi namun membutuhkan waktu untuk memahami karakteristik penyerang di Asia dan membangun komunikasi dengan pemain lokal.
Seperti halnya Beltrame, kesabaran tim pelatih membuahkan hasil saat Barba akhirnya menjadi tembok kokoh yang sulit ditembus di lini pertahanan.
"Kita tahu dia (Kurzawa) sudah lama tidak bermain, sama seperti kasus Barba atau Stefano Beltrame dulu. Pemain yang absen beberapa bulan butuh waktu, tapi dia punya kualitas yang kita butuhkan. Kami akan bersabar," ujar Hodak.
Tantangan Fisik: Menit Bermain dan Riwayat Cedera
Kesabaran yang diminta Hodak bukan tanpa alasan kuat. Data menunjukkan bahwa Kurzawa memiliki tantangan besar pada kebugaran.
Sebelum merapat ke Bandung, ia tercatat hanya tampil dalam 4 pertandingan dengan total 170 menit bermain saat membela Boavista di Liga Portugal musim 2024/2025.
Selain minim menit bermain, Kurzawa juga tercatat menghabiskan total 73 hari untuk pemulihan cedera otot selama di Portugal. Hal inilah yang membuat tim pelatih Persib menyiapkan program latihan khusus untuk Kurzawa.
Harapannya sang pemain bisa mencapai puncak performanya dalam waktu kurang lebih 3,5 bulan ke depan tanpa risiko cedera berulang.
Solusi Strategis di Tengah Jadwal Padat
Meski membutuhkan waktu, kehadiran Kurzawa dianggap sebagai langkah cerdas manajemen untuk menambal lubang yang ditinggalkan Muhammad Rezaldi Hehanussa dan Al Hamra Hehanussa.
Fleksibilitas Kurzawa yang bisa bermain sebagai bek kiri, bek tengah, maupun sayap kiri akan memberikan dimensi baru dalam skema rotasi.
"Dalam 3,5 bulan ke depan, kita akan menjalani minimal 19 hingga 25 pertandingan, jadi pasti ada menit bermain untuknya. Kami akan melakukannya perlahan," tambah Hodak.
Menatap Asia dengan Skuad Matang
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat Adhitia Putra Herawan menegaskan bahwa pengalaman Kurzawa sangat dibutuhkan untuk mengarungi babak 16 besar AFC Champions League Two.
Manajemen percaya bahwa dengan dukungan Bobotoh, Kurzawa akan mengikuti jejak sukses Beltrame dan Barba.
"Tim pelatih merekomendasikan perekrutannya untuk menambah kedalaman skuad. Kami berharap kontribusi terbaiknya seiring dengan adaptasi yang berjalan," tutup Adhitia.
Kini, bola ada di tangan Kurzawa untuk membuktikan kelasnya. Namun bagi Bobotoh, kuncinya adalah memberikan ruang bagi sang bintang untuk bernapas dan kembali ke performa terbaiknya.***
Editor : Ibnu Yunianto