Sang Guru Besar Tinju Bali itu akhirnya berpulang. Filosofi dan petuahnya untuk para petarung akan abadi dikenang : "Juara lahir dari kebiasaan, bukan dari panggung."
DI sudut sasana Adi Swandana Boxing Camp (ASBC), udara biasanya dipenuhi suara napas yang memburu dan dentuman sarung tinju yang menghantam samsak. Namun, Rabu (18/2/2026) pagi, suasana berubah senyap.
Denyut jantung tinju Bali seolah berhenti sejenak, saat sang pendiri, Drs. I Gusti Made Adi Swandana, M.Fis, mengembuskan napas terakhirnya di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah.
Bali tidak hanya kehilangan seorang mantan jawara emas PON, tetapi juga seorang "Bapak" yang telah menghabiskan puluhan tahun waktunya untuk menjaga api tinju tetap menyala di Pulau Dewata.
Lebih dari Sekadar Teknik
Bagi I Gusti Agung Satrya Wiguna Swandana, atau yang akrab disapa Gung De, sang ayah bukan sekadar pelatih yang berdiri di sudut ring dengan handuk dan instruksi taktik.
"Beliau itu seperti sekolah kehidupan bagi kami," ujar Gung De dengan nada getir, Jumat (19/2/2026). "Banyak atlet dibesarkan dengan hati, bukan hanya teknik. Itulah yang membuat kami merasa kehilangan sosok ayah di dalam maupun di luar ring."
Adi Swandana membangun ASBC pada tahun 1993 bukan untuk mencetak mesin petarung, melainkan membentuk karakter manusia. Filosofinya sederhana namun mendalam: "Juara lahir dari kebiasaan, bukan dari panggung." Pesan inilah yang membuat sasana tetap riuh dengan latihan meski jadwal pertandingan masih jauh di ufuk.
Membentuk Mental Baja: Kesaksian Kornelis Langu
Salah satu bukti nyata "tangan dingin" Adi Swandana adalah Kornelis Langu. Petinju peraih emas PON 2021 dan perak SEA Games 2019 ini mengenang mentornya sebagai sosok yang mampu melihat potensi di balik keraguan.
"Beliau adalah orang yang membuka jalan. Tanpa beliau, mungkin dunia tidak akan mengenal siapa saya hari ini," kenang Kornelis.
Bagi Kornelis, metode latihan Adi Swandana mungkin tampak sederhana, namun ada penekanan luar biasa pada kerja keras dan kepercayaan diri. Almarhum tak jarang merogoh kocek pribadi demi mencukupi kebutuhan atletnya, sebuah bukti ketulusan yang melampaui tugas seorang pelatih profesional.
Warisan yang Takkan Padam
Meski raga sang legenda kini telah tiada, semangatnya dipastikan akan terus hidup dalam setiap jab dan hook yang dilepaskan para petinju binaannya. Nilai-nilai disiplin dan ketulusan yang ia tanamkan sejak 1993 telah menjadi fondasi yang terlalu kokoh untuk runtuh.
Dunia olahraga Bali kini bersiap memberikan penghormatan terakhir. Sesuai rangkaian adat keluarga, prosesi palebon (pengabuan) almarhum dijadwalkan akan dilaksanakan pada 5 Maret mendatang.
Lonceng ronde terakhir mungkin sudah berbunyi bagi Adi Swandana, namun di dalam ring kehidupan, ia pulang sebagai pemenang sejati yang telah mencetak banyak juara.[*]
Editor : Hari Puspita