SUASANA tampak semarak. Di Klenteng Kongco Bio Tabanan tampak umat dari keturunan Tionghoa berdatangan, mereka bersembahyangan mengenakan pakaian serba merah.
Dari orang tua hingga anak-anak terlihat khusuk bersembahyang dengan harapan dan tujuan mereka di tahun dapat tercapai.
“Persembahyangan ini sudah dilakukan sejak tadi pagi sekitar pukul 05.30 sampai malamnya nanti sekitar pukul 21.00. Ini persembahyangan tutup tahun namannya,” Ketua Yayasan Kerta Yasa Lim Surya Adinata atau Tiam Lay, saat ditemui di Kongco Bio Tabanan.
Dia menuturkan bahwa persembahyangan Imlek tahun ini memang agak sedikit berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Karena umat Tionghoa yang bersembahyang lebih ramai, setelah pemerintah menerapkan pelonggaran penggunaan masker dan mencabut PPKM level 3.
“Maka kami di pengurus Koncong Bio memberlakukan umat yang bersembahyang secara bergilir, agar tidak terlalu penuh. Sehingga ada yang sembahyang saat pagi hingga malam nanti,” tutur Lim Surya.
Untuk rangkai sembahyang saat perayaan Imlek ini, umat Tionghoa terlebih dahulu bersembahyang tutup tahun. Itu dimulai dari rumah baru berlanjut ke tempat ibadah yakni kongco atau konco dan vihara.
Persembahyangan di rumah yakni kepada leluhur.“Jadi setiap umat Tionghoa ada altar perabuan di rumah masing-masing. Keluarga berkumpul berkumpul terlebih dulu baru melaksanakan persembahyangan,” ungkapnya.
Untuk persembahyangan di kongco ritual yang dilakukan bersembahyang di altar, bakti sala, darma sala, pagoda dan terakhir melakukan persembahyangan dengan membakar kertas emas atau kimcua.
Kimcua bukan uang yang dibakar, tetapi kertas emas. Kertas emas ini yang berisikan tulisan dan harapan untuk tahun depan. Kimcua ini juga sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan leluhur.
“Kami bakar kimcua dengan harapan supaya ke depan kehidupan lebih baik dan hal-hal negatif pada diri kita bisa dinetralisir. Harapan pula agar di Shio Kelinci ini rezeki bertambah,” pungkasnya. [juliadi/radar bali]
Editor : Hari Puspita