Jembatan tersebut diketahui mengalami kerusakan pada tahun 2022 lalu saat wilayah Kabupaten Tabanan dan sekitar diterjang musibah banjir dan tanah longsor.
Kini jembatan tersebut agar bisa dilalui warga, lantaran merupakan akses utama untuk menuju wilayah Kecamatan Penebel. Warga pun telah membangun jembatan sementara waktu yang terbuat dari bambu.
I Made Jonita menyatakan jembatan penghubung Biaung- Senganan rusak pasca akibat banjir pada bulan November 2022 lalu. Pasca jembatan alami kerusakan belum ada tanda-tanda akan dilakukan perbaikan oleh dinas terkait lainnya.
“Jembatan ini penghubung bagi warga. Buktinya warga rela bangun jembatan sementara dari bambu, agar bisa dilalui saja,” ujar I Made Jonita, Jumat (7/6/2023).
Lantaran menjadi akses penghubung warga menuju daerah Penebel, pihaknya berharap agar segera dilakukan perbaikan oleh pemerintah daerah. Mengingat warga merasa terbantu aksesnya dengan adanya jembatan itu.
Selama ini dikatakan Made Jonita, setiap hasil perkebunan warga untuk dibawa ke Desa Senganan atau sebalik dan dijual ke Kota Tabanan selalu menggunakan akses jembatan itu. “Mudahan dibangun secepatnya, hanya itu harapan dari warga,” pintanya.
Sementara itu, sebelumnya Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Tabanan, I Made Dedi Darmasaputra, memastikan bahwasan sejumlah jembatan yang alami kerusakan akibat banjir tahun 2022 akan dilakukan perbaikan tahun ini.
Jalan penghubung Marga menuju Apuan jembatan Yeh Kajang yang putus pasca banjir yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 11,4 miliar.
Kemudian Perbaikan pada jembatan di Desa Geluntung akan memerlukan biaya mencapai Rp 4,5 miliar dengan panjang mencapai 12 meter. Selain beberapa jembatan di desa lainnya yang rusak karena banjir.
“Sejauh ini proses untuk pembangunan jembatan masih perencanaan, tetapi paling lambat akhir Mei 2023 kalau tidak ada kendala di (lelang) pengadaan. Di mana pembangunannya nanti dengan anggaran menggunakan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi Bali,” pungkasnya. [juliadi/radar bali] Editor : Hari Puspita