Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Petani Kopi di Tabanan Keluhkan Kopi Dibeli Tengkulak dengan Harga Murah

Juliadi Radar Bali • Rabu, 20 Desember 2023 | 11:05 WIB
Petani Kopi asal Desa Pujungan Kecamatan Pupuan, Tabanan.
Petani Kopi asal Desa Pujungan Kecamatan Pupuan, Tabanan.

TABANAN– Meski setiap tahun petani kopi di Pupuan, Tabanan mampu menghasilkan berton-ton kopi. Namun, petani di sana terkendala dengan belum adanya pabrik kopi yang mampu menyerap hasil kopi secara langsung di petani.

Petani Kopi asal Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan I Ketut Suandi Andre Putra mengaku kopi jenis robusta masih terbesar dihasilkan oleh petani di Pupuan. Baru kemudian jenis kopi arabika.

Jenis kopi robusta sekali musim panen tiba di bulan September hingga Desember. Rata-rata petani kopi Pupuan mampu menghasilkan 4 ton dalam luas areal tanam sekitar 4 hektar.

“Saat ini luas areal tanam kopi robusta di Pupuan sekitar 4.740 hektar. Sedangkan kopi arabika seluas 110 hektar,” terangnya.

Kendati potensi produksi kopi robusta melimpah di Pupuan, akan tetapi serapan hasil kopi dari petani belum maksimal. Lantaran belum ada pabrik kopi dalam skala besar yang menyerap hasil kopi petani.

“Petani masih jalan sendiri-sendiri belum terintegrasi, mereka memasarkan sendiri. Kadang kala diambil oleh tengkulak dengan harga kopi yang murah,” ungkapnya.

Sejatinya di Pupuan sendiri telah ada pabrik kopi, namun itu masih skala rumah tangga yang hanya mampu mengolah biji kopi kering skala kecil dengan 400 kilogram dalam sehari. Sementara petani setiap kali panen menghasilkan berton-ton kopi.

“Maka tidak heran hasil kopi robusta di Pupuan tidak terserap maksimal, sehingga serapan kopi masih bergantung pada pemain kopi dan tengkulak saat ini,” jelasnya.   

Pihaknya berharap bisa dibuatkan pabrik bersama dikelola oleh petani, agar serapan kopi benar-benar maksimal.

“Ingin kami ada pabrik yang dibangun pemerintah, sehingga proses hilirisasi produk pertanian terjadi. Ini juga memangkas tengkulak, apalagi kopi satu tahun sekali panen,” pintanya.

Sejauh ini untuk harga kopi berkisar antara Rp 30-40 ribu per kilogram biji kering. Masih jauh dibandingkan dengan harga kopi arabika yang mencapai Rp 50-60 ribu per kilo gramnya.***

Editor : Donny Tabelak
#PETANI KOPI #kopi robusta #pupuan tabanan