TABANAN, radarbali.id - Sejumlah petani di Banjar Dinas Bugbugan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel Tabanan ternyata telah lama melakukan budidaya tanaman kecombrang.
Biasanya daun kecombrang atau warga Bali menyebut bongkot ini dijadikan campuran makanan. Sedangkan pohon kecombrang dijadikan hias.
Menariknya budidaya dari tanaman kecobrang ternyata menjadi penghasilan tambahan petani untuk belanja kehidupan sehari-hari. Pasalnya mulai banyak orderan berdatangan dari sejumlah warung makan di Tabanan dan Denpasar.
Salah seorang petani asal Banjar Dinas Bugbugan Desa Senganan I Nyoman Bagia Darma mengatakan menanam tanaman kecombrang memang tidak butuh pemeliharaan serius. Cukup ditanam diareal pertanian dan diberikan pupuk organik tau kotoran sapi secukup.
Setelah bibit tanam baru satu atau setengan bulan kemudian. Mulai mereka berkembangbiak dan muncul tumbuh tunas atau beranak.
"Jadi memeliharanya agak gampang, pakai pupuk seadanya. Dengan kami mulai budidaya menanam kecombrang sejak tiga tahun lalu" ujarnya, ditemui Sabtu (29/6).
Ia menyebut jika sudah tumbuh tunas, mulai kemudian muncul daun kecombrang atau disebut dengan bongkat. Baru panen bisa dilakukan.
Daun kecombrang ini pihaknya panen untuk memenuhi kebutuhan warung, karena daun kecombrang dijadikan campuran dari masakan.
"Kalau kami panen setiap tiga atau lima hari sekali. Lumayan setiap kami panen bisa 300 daun kecombrang kami dapat dari luasan lahan sekitar 15 are," ungkap pria berusia 56 tahun.
Untuk pemasaran hasil daun kecombrang atau bongkot ini dijual ke warung khususnya masakan Bali yang ada di daerah Denpasar, Badung dan Tabanan. Sedangkan dari sisi harga setiap daun kecombrang Rp 500 perbiji.
"Hasil lumayan hitung-hitung bisa jadi tambahan penghasilan kami setiap hari. Disamping hasil dari tanaman lainnya," pungkasnya. ***
Editor : M.Ridwan