Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-Liku Petani Jeruk Tabanan Melepas Ketergantungan dari Pupuk Kimia: Menuai Hasil Setelah Melewati Ejekan

Juliadi Radar Bali • Selasa, 9 Juli 2024 | 02:30 WIB
PAKAI PUPUK ORGANIK : I Gusti Wayan Simpen petani asal Banjar Dinas Bugbugan Senganan, Penebel Tabanan, kini bertani jeruk dengan budidaya pupuk organik. [juliadi/radar bali]
PAKAI PUPUK ORGANIK : I Gusti Wayan Simpen petani asal Banjar Dinas Bugbugan Senganan, Penebel Tabanan, kini bertani jeruk dengan budidaya pupuk organik. [juliadi/radar bali]

Salah seorang petani Tabanan, I Gusti Wayan Simpen akhirnya bisa lepas ketergantungan dengan pupuk kimia. Dia mengembangkan budidaya tanaman jeruk dengan memanfaatkan pupuk organik.

SOSOK  petani satu ini terbilang unik. I Gusti Wayan Simpen satu-satunya petani di Desa Senganan, Penebel Tabanan yang terbilang nekat menanam jeruk. Padahal lokasi tempat tinggalnya sebagian besar menanam kopi.  

Tanaman jeruk yang ditanam telah lepas menggunakan pupuk kimia. Melainkan menggunakan pupuk organik saat ini yang dibuat dari kotoran sapi dan pupuk cair hasil fermentasi buah-buahan atau yang biasa disebut dengan eco enzym.

Ditemui di lokasi budidaya tanaman jeruk miliknya di Tabanan orange farm Banjar Dinas Bugbugan Desa Senganan. Wayan Simpen mengaku ia bergerak mulai menanam jeruk sejak tahun 2012 lalu. Padahal ia dulunya bekerja di sektor pariwisata. 

"Saya harus kembali ke kampung kasihan lihat lahan terbengkelai. Kemudian melihat masyarakat desa belum begitu banyak tersentuh dengan pertanian modern," aku pria berusia 52 tahun itu, Minggu (7/7/2024). 

Mengawali menanam jeruk di Desa memang begitu berat tantangannya. Karena wilayah desanya merupakan sentra pertanian kopi dan tanaman tradisonal lainnya. 

Begitu masuk dengan tanaman jeruk, orientasi orang di desa tanaman jeruk pusatnya adalah Kintamani. 

 Baca Juga: Pasar Ekspor Menjanjikan, Manggis Makin Dilirik Petani Buah Buleleng

"Tantangan banyak sekali dulu ketika memulai tanam jeruk. Banyak ejekan dari masyarakat tidak mungkin berhasil. Namun itikad baik dan usaha keras. Akhir bisa jalan dan berhasil," ungkap Wayan Simpen. 

 

Kendati ia basic pariwisata, namun DNA orang tua petani sehingga membuatnya tak patah semangat. Mulai dengan banyak belajar budidaya jeruk dari petani Kintamani hingga belajar dari buku-buka bacaan soal pertanian organik. 

 

Saat mulai tanam jeruk disebutkan Wayan Simpen, ia budidaya jeruk diawal dengan menggunakan pupuk kimia atau konvensional. Hasilnya lumayan bagus. Bahkan dari sisi buah jeruk dengan jenis buah jeruk siam yang ditanam lebih besar dari jeruk Kintamani. Dengan jeruk kategori buah median. 

 

Meski hasil cukup bagus, disatu sisi kos biaya menanam jeruk dengan pupuk kimia ternyata lebih tinggi yang dikeluarkan. Ditambah lagi yang menyakitkan membuat tingkat kesuburan tanah menjadi menurun, karena sudah terkontaminasi dengan pupuk kimia. 

"Saya pikir-pikir karena jeruk tanaman jangka panjang. Juga untung tipis gunakan pupuk kimia. Sejak itulah memberanikan diri beralih menanam jeruk dengan budidaya secara organik," ungkapkan. 

Barulah pada saat pandemi Covid-19 tahun 2019 mulai menanam jeruk seluas 2 hektar dengan budidaya organik. Peralihan dari menggunakan pupuk kimia ke organik memang tidak mudah menemui tantangan berat. Karena perlu penyesuaian yang sangat tinggi dan butuh proses panjang. 

Dimana tanaman jeruk merupakan tapi tanaman jangka panjang dan akar dari tanaman ini panjang ke bawah. Sehingga pupuk kompos alami untuk masuk ke akar tanaman memerlukan waktu cukup panjang bertahun-tahun lama.

"Tapi tak masalah bagi saya, yang penting tidak rugi di tanah agar tidak mati," jelasnya.  

Perubahan dari tanaman jeruk ketika menggunakan pupuk organik. Itu tampak terlihat di awal dari sisi hasil jeruk organik menurun dan hama tanaman mulai muncul.

Kondisi demikian tak pula membuat Wayan Simpen yang menjadi anggota kelompok Tani Tabanan lestari harus berpikir lagi untuk mencari solusi menghilangkan hama tanaman. 

Ia pun membuat sistem pertanian wana tani, menyisipkan dengan menanam tanaman lainnya seperti seru, pisang dan kelor. 

"Ternyata berhasil, mengeceoh hama tidak terfokus pada satu tanaman jeruk. Ada pilihan dari hama untuk menyerang tanaman lainnya. tidak hanya pada tanaman jeruk," ungkapnya. 

Untuk pupuk organik sendiri ia gunakan kotoran sapi yang difermentasi selama enam bulan. Kotoran sapi ini diambil dari beberapa petani yang memelihara sapi. Sementara untuk pupuk organik cair dibuat eco enzym berasal dari buah jeruk rusak dan buah-buahan lainnya. 

Kini jeruk siam yang sudah ditanam selama 12 tahun full dengan budidaya menggunakan pupuk organik pada lahan seluas 2 hektar. Menariknya kos biaya yang dikeluarkan bisa ditekan, karena bahan pupuk dari lingkungan sekitar. 

"Bahkan saya saat ini sedangkan tahap proses peralihan tanaman jeruk seluas 1,5 hektar untuk total menggunakan pupuk organik," ucapnya. 

Disinggung soal rata-rata hasil panen buah jeruk dengan budidaya organik. Wayan Simpen menyebut rata-rata per pohon hasil panen jeruk didapat 50-80 kilogram.

Untuk pemasaran buah jeruk organik sendiri orientasi masih kepada market lokal di Tabanan dan untuk agro wisata. Bahkan sudah ada pelanggan khusus untuk jeruk organik sehat. 

"Kami belum kirim keluar Tabanan, apalagi tujuan ekspor. Karena jeruk buah sehat kami masih fokus jaminan mutu dan kualitas buah dihasilkan," pungkasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#tabanan #petani #pupuk organik