Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cara Jitu Nelayan Yeh Gangga, Tabanan, Memakai Bubu Ramah Lingkungan untuk Penangkap Lobster

Juliadi Radar Bali • Selasa, 16 Juli 2024 | 00:55 WIB
BERSIAP MELAUT : Suasana dari para nelayan lobster di Pantai Yeh Gangga, Desa Sudimara Tabanan yang baru saja usai melaut. (juliadi/radar bali)
BERSIAP MELAUT : Suasana dari para nelayan lobster di Pantai Yeh Gangga, Desa Sudimara Tabanan yang baru saja usai melaut. (juliadi/radar bali)
 
 
 
Di wilayah pantai selatan Tabanan  saat ini  memasuki musim lobster. Begini jurus mereka memanen lobster di alam bebas.
 
MEREKA  memasang bubu,  alat penangkap lobster yang terbuat dari anyaman bambu. 
 
Alat tangkap bubu ini dinilai masih efektif oleh para nelayan. Selain bisa dibuat mandiri dari bahan lingkungan sekitar. Juga dinilai lebih efktif untuk menangkap udang laut, karena tidak merusak terumbu karang dan sangat ramah lingkungan. 
 
Baca Juga: Panen Lobster di Awal Musim Hujan, Nelayan Yeh Gangga, Tabanan, Bahagia Penghasilan Bisa Berjuta-juta
 
Salah Seorang nelayan Pantai Yeh Gangga, Desa Sudimara Made Purwadi, 39, mengaku bulan Juli ini sampai Desember nanti memang memasuki musim lobster atau udang laut di wilayah pantai selatan Tabanan. 
 
Sehingga sejumlah nelayan di Pantai Yeh Gangga hampir sebagian telah memasang bubu alat tangkap lobster ditengah laut. 
 
"Saya ini jam 03.00 wita pagi tadi turun melaut. Bawa alat bubu sebanyak 30 buah untuk dipasang di tengah laut. Alat bubu paling rendah saya pasang dikedalaman 10-15 meter," aku Purwadi ditemui usai melaut, Minggu pagi (14/7/2024).  
 
Ia menjelaskan meski sekarang telah banyak produksi alat tangkap lobster modern atau baru. Namun hampir sebagian besar nelayan di Tabanan masih menggunakan bubu sebagai alat tangkap lobster tradisional. 
 
Masyarakat nelayan menilai bubu alat tangkap lobster selain mudah mencari bahan bakunya, karena terbuat dari bambu. Disamping itu hemat biaya dan juga bisa dibuat nelayan disaat usai pulang melaut. 
 
Alat tangkap bubu ini tidak merusak terumbu karang di laut. Beda dengan jaring tangkap. Bahkan mudah cara penggunaannya. 
 
"Jadi cukup diletak diatas terumbu karang dan diberikan umpan. Untuk lobster diberikan umpan pakan seperti ikan lamuru, tengiri dan jenis ikan lainnya," terangnya.      
Alat tangkap bubu ini jumlahnya bisa mencapai ratusan ditengah laut yang dipasang oleh sejumlah nelayan di Tabanan. Setiap alat bubu yang dipasang diberikan tanda. Sehingga mempermudah nelayan untuk mengenali alat bubu yang dipasang. 
 
Alat bubu ini harus cek setiap hari minimal 24 jam. "Pagi kami pasang pagi lagi baru bisa diangkat," jelas Purwadi. 
 
Lebih lanjutnya, setiap satu alat bubu tidak tentu mendapat hasil tangkapan lobster. Bisa dua atau tiga lobster tertangkap. Bisa juga tidak tertangkap. Karena alat bubu tangkap lobster dipengaruhi juga oleh arus laut. 
 
"Misal kami taruh di lokasi banyak terumbu karang, bisa bergeser ke lokasi lainnya. Maka tergantung pula dari arus laut," ungkapnya. 
 
Disinggung soal harga lobster Purwadi menyebut harga lobster turun saat ini. Harga satu kilogram lobster Rp 320 ribu. Sedangkan dulunya tembus Rp 400 ribu per kilogram. "Turunnya harga lobster ini baru satu bulan yang lalu," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita
#tabanan #nelayan #lobster