Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan mengingatkan kepada seluruh petani kakao untuk mewaspadai serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di tengah musim panen yang sedang berlangsung.
BIASANYA, gejala tanaman kakao (Theobroma cacao L) terserang PBK ini menunjukkan ciri gejala buah masak awal dengan warna tidak merata.
Bila terserang PBK ini, akan tampak tanda-tanda yang khas bekas gerakan larva. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Tabanan I Made Subagia, Minggu (11/8/2024).
Ia menjelasakan selain kopi, vanili dan manggis sebagai komoditas utama perkebunan di Tabanan. Juga dikenal dengan pertanian kakao.
Namun ditengah musim panen kakao yang akan berlangsung sampai bulan November mendatang. Dominan masalah yang dihadapi petani kakao adalah PBK atau penyakit tanaman penggerek buah kakao.
Penyakit PBK ini banyak faktor yang menyebabkan selain faktor cuaca, juga karena faktor memang kualitas tanah yang disebabkan oleh masifnya penggunaan pupuk kimia yang secara berlebihan dilakukan oleh petani.
Penggunaan pupuk kimia yang tidak terstandar atau berlebihan sehingga membuat kualitas PH tanah menjadi turun minus lima. Sehingga membuat zat asam terlalu tinggi.
"Kondisi inilah yang terjadi. Apalagi petani sudah menggunakan pupuk kimia bertahun-tahun lama," ungkapnya.
Banyak ditemukan penyakit PBK pada tanaman kakao. Pihaknya saat ini telah bekerjasama dan bergerak dengan pupuk Indonesia untuk menguji kualitas PH tanah pada tanaman kakao. Beberapa sampel hasil pengujian memang menunjukkan PH tanah kurang dari enam. Bahkan sampai turun ke minus lima.
Untuk itu pihaknya sudah menyarankan petani dengan dapat melakukan pengapuran. Bisa juga dekomposter membedah tanah untuk menaikkan PH tanah.
"Selain itu bisa juga mengurangi penggunaan pupuk kimia beralih ke pupuk organik. Petani sebenarnya dapat gunakan pupuk kimia, tapi terstandar atau ada ukurannya," bebernya.
Hal yang lain dapat dilakukan petani untuk mengantisipasi PBK ini adalah dengan melakukan pemeremajaan pada tanaman kakao. Bisa melakukan dengan cara mengganti tanaman kakao kembali atau melakukan pencangkokkann.
"Bila pengelolaan ini konsisten dilakukan, maka tanaman kakao bisa tumbuh mencapai 50 tahun dan tahan dengan penyakit," jelasnya.
Khusus di Tabanan saat ini wilayah dengan penghasil komditas kakao berada di Selemadeg Raya. Yakni Kecamatan Pupuan, Selemadeg Barat, Selemadeg dan Selemadeg Timur sebagai sentra dari komoditi kakao.
"Empat kecamatan ini sebagai penghasil komoditi kakao, juga kopi, manggis, durian dan vanili," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita