Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Luas Lahan Pertanian Padi Organik Bertambah di Subak Jaka, Marga, Tabanan, tapi Pemasaran Kurang Maksimal

Juliadi Radar Bali • Senin, 16 September 2024 | 22:40 WIB
ORGANIK : Pertanian padi organik di Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga Tabanan. (Foto Desa Kukuh Marga untuk Radar Bali)
ORGANIK : Pertanian padi organik di Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga Tabanan. (Foto Desa Kukuh Marga untuk Radar Bali)

TABANAN, Radar Bali.id - Sejumlah petani di Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga Tabanan masih tetap eksis dan bertahan dengan pertanian padi organik. Menariknya luas lahan pertanian padi organik terus berkembang pesat sampai tahun ini. 

Pekaseh Subak Jaka Desa Kukuh Marga Wayan Yusa mengatakan resmi menyadang status pertanian organik dengan sertifikasi yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LeSOS) Kerta Bali Sejahtera Pemprov Bali sejak tahun 2019. Namun pihaknya melakukan pengembangan pertanian padi organik dimulai sejak tahun 2016 lalu. 

"Kurang lebih butuh tiga tahun kami di petani Subak Jaka baru bisa mendapat lisensi pertanian padi organik LeSOS dari Pemerintah Provinsi Bali," ungkap Wayan Yusa, Minggu (15/9/2024).  

Diakuinya kembali, ia bersama petani mengembangkan pertanian organik dan mampu bertahan sampai saat ini. 

Sejatinya dengan alasan mengikuti program pemerintah daerah. Dulunya ada program gerbang pangan serasi. Dengan dukungan bantuan pemerintah diberikan berupa bibit padi, pupuk organik dan 10 ekor sapi.

Di samping itu petani ingin agar lahan sawah dilakukan pemugaran ulang agar lahan pertanian menjadi alami tanpa adanya proses kimia.  

"Petani disini saat itu mau dan sukarela lahannya dijadikan percontohan pertanian organik. Dengan penanaman di lahan pertanian sekitar 10 hektare," tutur pria lulusan Sarjana Pertanian Unud Denpasar.

Kendati sudah berjalan selama delapan tahun pertanian padi organik di Subak Jaka, Desa Kukuh. Akan tetapi pihaknya menemui banyak kendala di lapangan, salah satu yang paling penting adalah bagaimana hasil panen dari padi organik ini bisa diserap dan dipasarkan. 

Diawal memang ada komitmen kerjasama dengan pemerintah daerah melalui badan usahanya untuk menyerap hasil padi organik. Sayang terputus, karena permintaan kebutuhan cukup tinggi tidak sebanding dengan hasil panen. 

Meski demikian pihaknya dibantu BUMDes di Desa Kukuh terus berupaya melakukan pemasaran pada sejumlah hotel dan akomodasi pariwisata di Bali.   

Untung bisa tersalurkan. Bahkan ada pemerhati pertanian organik dari India dan Jerman yang membeli hasil pertanian organik. 

"Dari 10 hektar lahan pertanian padi organik itu kami menghasilkan gabah kering dengan rata-rata sekitar 5 ton," jelasnya.  

Wayan Yusa menambahkan luasan lahan pertanian padi organik Subak Jaka kini terus mengalami penambahan seiring dengan kesadaran petani bertani organik. 

Diawal 10 hektar lahan yang dikembangkan kini tengah mencapai 17 hektar. Artinya 10 hektar semua total dengan penggunaan pupuk organik dan budidaya perlakuan secara organik. Sementara sisanya 7 hektare lahan pertanian organik, 75 persen sudah budidaya pertanian organik tanpa kimia. 

"Namun target kami tahun 2025 17 hektare lahan tuntas dengan penggunaan pupuk organik tanpa embel-embel kimia lagi," tandasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#tabanan #Organik #pertanian