Menurut Wayan Yona, warga setempat yang pengelola dan orang kepercayaan Friends of The National Parks Foundation atau (FNPF), kelak pelepasliaran curik ini akan dilakukan di sembilan kabupaten/kota di Bali. Syarat utamanya adalah niat, semangat,keseriusan warga untuk mendukung pelestariannya.
SEJAUH ini upaya pelepasliaran jalak putih oleh FNPF itu sudah dilakukan setidaknya di lima kabupaten. Yakni di Jembrana, Bali Barat, di Tejakula, Buleleng, di Karangasem, di Nusa Penida, Klungkung dan di Desa Tengkudak, Penebel, Tabanan.
Burung yang tampak selalu ceria ini setahun mampu bertelur satu hingga dua kali di alam liar dan bisa bertelur hingga tiga kali di penangkaran, dengan pakan yang lebih terjamin.
Di Banjar Tingkih Kerep, Tengkudak, Penebel, Tabanan, warga memang sudah begitu kompak, penuh cinta dan sehati untuk bersama-sama merawat, melestarikan si curik nan keren ini.
Jangakan untuk surik bali yang konon dari cerita nenek moyang mereka dulu kala, beberapa tahun silam memang di wilayah Penebel banyak burung kicau liar. Termasuk jalak putih ini. “Yang menyediakan air untuk mandi dan minuman burung ya warga desa, dengan suka rela,” tutur Wayan Yona soal kepedulian warga.
Makanya di pohon-pohon bunga jepun warga, banyak terpasang kotak-kotak plastik berisi air yang memang disediakan untuk makan dan minum burung jalak.
Jawa Pos Radar Bali juga menyaksikan sendiri bagaimana burung-burung jenis lain, macam perkutut (Geopelia striata), hingga burung ruak-ruak (Amaurornis phoenicurus) bisa leluasa bertelur dan mengasuh anaknya di rerumputan areal got atau pembuangan air di antara rumah penduduk dan pohon-pohon bunga yang rendah dan sama sekali tidak diganggu warga.
Nah, bila mereka nyaman, mereka akan lebih produktif. Bisa bertelur tiga kali dalam setahun. Dengan jumlah telur rata-rata dua, tiga butir. “Menetasnya tergantung cuaca. Kalau kemarau lebih mudah menetas karena suhu udara yang hangat, panas, tercukupi,” jelas Yona.
Satwa yang periode tahun 2000-an banyak ditangkarkan di Jawa karena harganya selangit, hingga belasan juta ini mendunia setelah pada tahun 1910 terpantau oleh pakar hewan berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild.
Sehingga akhirnya spesies burung eksotis ini nama ilmiahnya Leucopsar rothschildi, ada nama ilmuwan Inggris itu. Seperti biasa, bangsa barat selalu melakukan klaim ilmiah dengan Namanya, meskipun temuan itu sudah diakrabi warga setempat, tentunya. Macam klaim Columbus penemu daratan Amerika.
Di Tejakula, Buleleng, bisa lebih produktif menetasnya karena cuacanya lebih panas dibandingkan dengan di Desa Tengkudak, Penebel.
“Di sini lebih dingin. Lebih susah untuk bisa menetas semua. Biasanya ada satu, butir yang tidak menetas,” imbuhnya.
Namun, kelebihannya di Banjar Tingkih Kerep, Desa Tengkudak, ini masyarakatnya sangat mendukung total dan mencintai satwa. Sehingga si curik pun produktif bertelur dan semakin menyebar anaknya, kelak di kemudian hari. [*]
Editor : Hari Puspita