Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Berkunjung ke Kampung Jalak Bali di Banjar Tingkih Kerep, Desa Tengkudak, Tabanan (4) : Musuhnya Burung Bubut

Hari Puspita • Senin, 7 April 2025 | 02:10 WIB
SERAMNYA PREDATOR CURIK : Burung bubut ini suka mengincar curik bali, khususnya yang masih muda. (foto :: pixabay/@Finflix-Design-Jon)
SERAMNYA PREDATOR CURIK : Burung bubut ini suka mengincar curik bali, khususnya yang masih muda. (foto :: pixabay/@Finflix-Design-Jon)

Di Tingkih Kerep, predator atau ancaman si curik cantik ini bukan manusia atau ular. Tapi burung bubut. Burung dengan postur lebih besar ini dikenal sebagai pemangsa yang kejam dan tanpa ampun.

BURUNG bubut atau Centropus sinensis adalah pemangsa utama jalak bali di Banjar Tingkih Kerep. Burung dengan warna dominan cokelat hitam ini terbilang cukup banyak juga di wilayah Penebal, Tabanan.

Seperti diketahui, burung bubut ini  adalah burung dari keluarga Cuculidae, dari genus Centropus. Burung ini merupakan jenis burung pemakan ulat, belalang, kumbang, hemiptera, katak hingga reptil macam tokek, kadal.

Sepintas, burung dengan paruh kuat ini mirip burung cendet (Lanius schach). Dia bisa berubah beringas menyerang hewan yang dianggapnya sebagai musuh atau mangsanya.

Dari penelusuran Jawa Pos Radar Bali, burung bubut habitat terbaiknya di tepi hutan, belukar sekunder, semak tepi sungai, hutan mangrove. Namun bisa juga tersebar sampai ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Nah, kondisi wilayah Kecamatan Penebel sendiri juga merupakan wilayah yang berada di ketinggian dan lumayan dingin, banyak dijumpai burung predator ini.

Burung bubut yang punya paruh runcing bisa menyerang dan memangsa jalak bali sebagai makanannya. “Beberapa kali kejadian ada yang dimangsa burung bubut,” terang Wayan Yona.

Biasanya yang menjadi mangsa mudah bagi burung bubut ini adalah anakan jalak bali yang masih belia. Ini karena jalak bali biasa menyapih anaknya atau mengusir anaknya untuk menjauh biar mandiri. Tidak tergantung lagi kepada orang tuanya.

Bagaimana pencegahannya? Menurut Yona, sulit juga kalau terjadi di alam bebas. Karena yang terjadi adalah bagian dari hukum alam.

Namun, menurutnya itu hanya beberapa kali kejadian saja. Karena memang postur tubuh burung bubut ini lebih besar dan lebih kekar daripada jalak bali.

Apakah tidak ada predator lain seperti ular misalnya, di kebun-kebun atau ladang sekitar permukiman penduduk? Menurut Yona itu bisa saja terjadi. Karena Sebagian dari curik itu bersarang dan bertelur ladang atau Perkebunan warga.

Namun sejauh ini yang pernah dilihat langsung oleh warga adalah  kejadian burung bubut yang memangsa curik bali. “Kalau bersarang di areal permukiman warga kayaknya akan lebih aman,” jawabnya soal potensi predator di alam liar.

Meskipun begitu, karakteristik curik yang sudah liar adalah menyapih anaknya untuk menjauh dari indukan atau orang tuanya, agar mandiri, mencari mkakan sendiri.

“Biasanya indukan jalak atau yang sudah dewasa itu punya wilayah. Mereka punya territory. Nah, anaknya yang sudah dewasa juga diusir untuk mencari territory sendiri, di luar daerah kekuasaan, di luar teritorial indukannya,” ungakap Yona.

Dengan begitu, diharapkan nanti setelah bertelur dan terus beranak pinak dari tetasan itu, curik bali diharapkan bisa meluas jangkauan persebarannya ke penjuru Tabanan.

Ini karena anak-anak curik akan terus mencari wilayah kekuasaannya. Sehingga akan terus menyebar dan menyebar. Tidak terkonsentrasi di suatu wilayah saja. Semoga. Astungkara.[*]

Editor : Hari Puspita
#suaka #jalak bali #tabanan #penebel #Dessa Wisata #curik bali #penangkaran #konservasi