Situasi sulit bagi sopir pengangkut logistik saat ini dengan kondisi jalan ambles di Tabanan memang bagaikan “maju kena mundur kena”. Ada-ada saja yang memanfaatkan kondisi darurat jalanan Gilimanuk-Denpasar ini.
PELUANG itu ada saja yang memanfaatkan. Para calo jalanan bergentangan saat malam hari memanfaatkan situasi jam rawan yang sepi untuk dapat melintas melalui jalur alternatif.
Para calon mengawal truk-truk sumbu tiga untuk dapat melewati jalur alternatif melalui Jalan Serma Arda dan Jalan Sruti yang merupakan wilayah Bajera Jero, Bajera Kelod da Bajera Tengah. Padahal jalan tersebut masuk jalan desa.
Meski jalan tersebut telah diberikan larangan oleh Kepolisian Polres Tabanan dan desa setempat hanya bisa dilewati oleh truk kendaraan roda dua sampai roda enam. Sementara untuk truk bertonase berat dan bersumbu tiga diminta menggunakan jalan Denpasar menuju Singara atau melalui jalur Kabupaten Karangasem.
Menurut sumber informasi di lapangan truk bersumbu tiga dapat melewati jalur alternatif yang dilarang setelah ada pengawalan dari para calon jalanan. Mereka biasanya lewat sekitar pukul 02.00 wita sampai pukul 03.00 wita dini hari.
Mereka mendapat pengawalan dari para calo dengan ongkos pengawalan untuk bisa melewati jalur alternatif kisaran pembayaran sebesar Rp 150-200 ribu per truk yang akan melintas jalur alternatif berada di Banjar Dinas Bajera Kelod, Bajera Tengah dan Bajera Jero.
Para sopir truk bertonase berat yang ingin melewati jalur alteratif tersebut dikumpulkan terlebih dahulu di lokasi lahan parkir kosong di Jelijih, Desa Megati Selemadeg Timur.
Setelah 10 sampai 15 truk bertonase terkumpulkan dan melakukan transaksi pembayaran. Barulah truk tersebut dikawal oknum calo jalanan untuk bisa melewati jalur alternatif.
Adanya truk-truk bertonase berat melewati jalur alternatif sempat mendapat protes dan penghadangan dari warga setempat. Pasalnya jalan yang dilalui adalah jalan desa tidak cukup untuk truk bersumbu tiga. Bahkan telah dilarang.
Namun faktanya di lapangan kondisi ini tidak sekali dua kali terjadi. Malah para calon jalanan ini justru melakukan berulang kali sejak jalan nasional Denpasar-Gilimanuk yang amblas. Mereka ternyata para calo jalanan ini memanfaatkan kelengahan kondisi aparat kepolisian yang tidak berjaga di jalur alternatif saat tengah malam.
Perbekel Desa Bajera, Selemadeg I Putu Sukarata membenarkan kejadian soal adanya truk tronton bertonase berat memakai jalur alternatif yang semestinya telah dilarang untuk melintas di jalan tersebut.
"Tiba-tiba ada yang nyolong langsung truk tronton lewati jalur alternatif. Saat itu pula langsung kami stop. Mereka rupanya memanfaatkan situasi lengah jam malam. Kami langsung suruh putar balik," akunya.
Bahkan mereka yang masuk jalur alternatif tersebut dilakukan pengawalan oleh oknum calo jalanan tanpa sepegetahuan pihaknya.
"Kapan hari itu orang-orang yang saya curigai dan sudah saya tandai. Termasuk saya pula sudah minta untuk jangan mengambil kesempatan ditengah kondisi seperti ini. Kalau tidak siap-siap tanggung resiko," ungkapnya.
Kejadian adanya truk nyolong masuk dan mendapat pengawalan dari calo jalanan untuk melalui jalur alternatif tersebut pihaknya sudah laporkan kepada kepolisian. Agar bisa ditindak lanjuti.
Pihaknya juga sudah menurunkan aparat desa LInmas dan masyarakat juga untuk melakukan pemantauan.
"Itu yang jadi calo orang luar dari desa kami. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait hal tersebut," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita