Ada cara unik tersendiri bagi warga binaan Lapas Kelas IIB Tabanan di hari libur Imlek tahun ini. Mereka menggelar kerja sosial di Pura Beji, Desa Dajan Peken.
MENTARI hari Selasa (17/2/2026) menyengat cukup terik, namun suasana di Pura Beji, Desa Dajan Peken, Tabanan, mendadak ramai oleh deru sapu lidi dan celoteh semangat.
Puluhan pria berseragam khusus tampak sibuk; ada yang mencabuti rerumputan liar di sela batu candi, ada pula yang menyapu dedaunan kering yang berguguran di pelataran suci.
Mereka bukan petugas kebersihan biasa. Mereka adalah para warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan. Di tengah libur Hari Raya Imlek, saat banyak orang memilih berpelesir, mereka justru memilih "pulang" sejenak ke tengah masyarakat untuk melakukan aksi nyata.
Melewati Keterbatasan di Balik Jeruji Besi
Kegiatan kerja bakti ini bukan sekadar rutinitas bersih-bersih. Bagi para warga binaan, setiap ayunan sapu adalah upaya perlahan untuk membasuh stigma negatif yang selama ini melekat pada diri mereka sebagai "orang yang gagal".
Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka. KPLP) Lapas Tabanan, Wayan Surya Wirawan, yang turun langsung mendampingi anak buah dan warga binaannya, menyebut aksi ini sebagai jembatan emosional.
"Kami ingin menunjukkan bahwa lapas hadir dan peduli. Meski mereka berada di balik jeruji besi, rasa peduli dan keinginan untuk berbuat baik kepada masyarakat tidak boleh mati," ujar Surya Wirawan di sela-sela kegiatan.
Simbol Toleransi dan Pengabdian
Pura Beji hanyalah awal. Lapas Tabanan berkomitmen menjadikan aksi sosial ini sebagai agenda berkelanjutan. Menariknya, semangat yang diusung adalah semangat keberagaman. Setelah pura, sasaran pembersihan selanjutnya adalah fasilitas umum dan tempat ibadah lainnya, termasuk masjid.
Partisipasi warga binaan dalam merawat tempat ibadah lintas agama menjadi simbol kuat bahwa proses pembinaan di dalam Lapas bukan hanya soal hukuman fisik, melainkan juga pengasahan nurani dan toleransi.
"Ini adalah bagian dari proses pembinaan. Kami ingin mereka merasa masih menjadi bagian dari masyarakat. Dengan berkontribusi, perlahan stigma negatif itu akan terhapus dengan sendirinya," tambah Surya.
Pulang dengan Harapan Baru
Bagi warga binaan, keluar sejenak dari tembok tinggi Lapas untuk mencangkul tanah atau membersihkan area publik adalah sebuah kemewahan sekaligus tanggung jawab. Ada rasa bangga saat mereka bisa memberikan manfaat bagi warga Desa Dajan Peken, tempat di mana pura itu berdiri kokoh.
Aksi bersih-bersih ini menjadi bukti nyata bahwa kesempatan kedua itu selalu ada. Di bawah langit Tabanan, para warga binaan ini sedang menulis ulang kisah hidup mereka—bahwa menjadi bermanfaat bagi sesama tidak terbatas oleh ruang, meski raga mereka masih dibatasi oleh dinding penjara.[*]
Editor : Hari Puspita