TABANAN, radarbali.id - Di atas lahan seluas 23 hektare di Desa Selemadeg, Tabanan, dikembangkan konsep pertanian terpadu berbasis organik yang mencakup budidaya padi, produksi minyak atsiri dari sereh, pengolahan pupuk organik, budidaya cacing, hingga pengembangan potensi wisata edukasi dan spiritual. Kawasan ini dikelola dengan mengedepankan prinsip pelestarian sistem subak serta keberlanjutan lingkungan, sejalan dengan kebijakan daerah terkait Sistem Pertanian Organik Bali.
Selama hampir satu dekade, kawasan tersebut difokuskan pada upaya pemulihan kesuburan tanah yang sebelumnya terpapar residu bahan kimia. Dalam proses transformasi tersebut, petani setempat memperoleh pendampingan dari Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali sebagai mitra penguatan kapasitas dan pengembangan usaha. Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah budidaya cacing merah yang sebelumnya hanya menjadi hasil sampingan peternakan, kini diarahkan menjadi produk dengan nilai tambah ekonomi.
Program pendampingan ini berlangsung pada Desember 2025 hingga Juli 2026 dan melibatkan tiga dosen dari Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali, yaitu Gusti Ayu Aghivirwiati, S.H., M.M. (Program Studi Bisnis Digital), I Gusti Ngurah Ady Kusuma, S.Kom., M.Kom. (Program Studi Sistem Komputer), serta I Gusti Ngurah Putra Arimbawa, S.Pd., M.Kom. (Program Studi Bisnis Digital). Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari mahasiswa pada Program Studi Bisnis Digital.
”Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah produk suplemen berbahan dasar cacing organik dengan merek Lumbrimanan,” ujar Aghivirwiati didampingi Ngurah Ady Kusuma dan Arimbawa. Dijelaskan, budidaya dilakukan di lingkungan bebas pestisida guna menjaga kualitas dan keamanan bahan baku.
”Produk ini dipasarkan sebagai food supplement yang mendukung metabolisme dan daya tahan tubuh, dikemas dalam botol kaca berkapasitas 60–120 gram,” imbuhnya.
Dalam implementasinya, tim pendamping turut membantu proses hilirisasi produk, mulai dari perumusan konsep merek, desain kemasan berbasis botol kaca, penguatan identitas branding, hingga pengembangan situs web serta strategi pemasaran melalui media sosial. ”Dengan pendekatan ini, produk lokal tidak hanya diproduksi, tetapi dipersiapkan untuk bersaing di pasar modern,” terangnya.
Melalui sinergi antara Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali dan masyarakat, program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan UMKM yang berkelanjutan. ”Termasuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta membuka peluang ekonomi baru bagi petani lokal,” pungkasnya.
Editor : Ida Bagus Indra Prasetia