TABANAN, Radar Bali .id- Tidak sempurna bila sekolah tidak peduli dengan lingkungan dan ikut serta dalam upaya pengolahan sampah. Setidaknya dalam mengurangi sampah organik yang dapat diolah menjadi kompos.
Hal itulah yang dilakukan oleh Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Gubug di Kecamatan Tabanan. Mengingat pelik masalah sampah di Bali yang belum tertangani.
Baca Juga: Sinergi Adat dan Dinas, Desa Adat Denpasar Komitmen Dukung Penanganan Sampah Organik di Sumber
SDN 5 Gubung menghadirkan inovasi ramah lingkungan melalui pembuatan pupuk organik cair dengan konsep Pocaris (Pupuk Organik Cair dari Tong Komposter).
Inovasi ini menjadi bagian dari program Tebas Lestari (Teba Modern, Bank Sampah, Alat Komposter, dan Sirkular 3R) yang terintegrasi dengan upaya ketahanan pangan di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Dewan Klungkung Minta Pemkab Perketat Pengawasan Cacahan Organik di PKB Gunaksa
Program ini memanfaatkan sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran dari kantin dan sisa makanan dari program makan bergizi gratis (MBG). Kemudian memanfaatkan sisa daun kering yang diolah menggunakan tong komposter.
Dengan proses pengolahan melibatkan siswa dengan pendampingan guru sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan.
Kepala SD Negeri 5 Gubug, Ni Nyoman Dian Trisna Dewi menyebut ide mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dimulai dari lingkungan sekolah ini. Karena kondisi saat ini, mengingat masalah sampah tengah terjadi Bali.
Khusus dalam pengolahan. Apalagi di Tabanan sendiri mulai per 1 Mei mendatang, TPA Mandung yang berlokasi di Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan tidak menerima sampah organik, hanya menerima sampah residu yang tidak bisa diolah.
"Karena itulah inovasi Pocaris muncul bagaimana kami di lingkungan sekolah ikut serta mengolah keberadaan sampah organik yang dihasilkan di lingkungan sekolah," ungkapnya, Minggu (19/4/2026).
Ia menjelaskan pengolahan sampah dengan cara Pocaris memiliki berbagai manfaat. Diantaranya menyuburkan tanaman di kebun sekolah, meningkatkan pertumbuhan tanaman secara alami, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Selain itu, inovasi ini juga mendukung program ketahanan pangan sekolah sekaligus menjadi sarana edukasi bagi siswa dalam memahami pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Keunggulan lain dari Pocaris adalah proses pembuatannya yang sederhana, biaya rendah, serta mampu mengubah limbah organik menjadi produk bernilai guna.
"Sisi positif lainnya adalah siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung dalam menjaga lingkungan," jelasnya.
PIhaknya berharap dengan inovasi ini memberikan dampak positif bagi sekolah. Dengan inovasi ini, SD Negeri 5 Gubug tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga memanfaatkannya menjadi sumber daya yang berguna.
Ia menambahkan, inovasi Pocaris menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara kreatif dan edukatif, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan serta meningkatkan kualitas pembelajaran siswa.
Sementara dalam proses pembuatannya, sampah organik dari sisa makanan kantin dan MBG serta dedaun terlebih dahulu dikumpulkan dan dipilah oleh siswa. Selanjutnya dimasukkan ke dalam tong komposter.
Tahap selanjutnya ditambahkan air dan aktivator seperti EM4 atau bahan alami sejenis, sebelum ditutup dan difermentasi selama 1 hingga 3 bulan.
"Hasil dari proses tersebut berupa cairan lindi yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita