TABANAN, RadarBali.id – Sebagai wilayah dengan luas daratan terbesar kedua di Bali, Kabupaten Tabanan menyimpan pesona alam yang kontras: dari lereng pegunungan yang hijau hingga pesisir pantai selatan yang eksotis.
Baca Juga: Tebing Longsor, Akses Jembatan Peken Belayu – Kukuh Dibatasi untuk Kendaraan Berat
Namun, di balik keindahan topografinya, terdapat "alarm" waspada yang tak boleh diabaikan.
Sekretaris Daerah Tabanan, I Gede Susila, mengungkapkan bahwa berdasarkan reviu dokumen kajian risiko bencana tahun 2022–2026, Tabanan menghadapi sembilan jenis ancaman bencana dari total 14 potensi bencana nasional. Angka ini bukanlah sekadar statistik, melainkan cerminan dari kondisi tanah Tabanan yang variatif dan terkadang labil.
Peta Risiko: Dari Perbukitan hingga Pesisir
Ancaman bencana di Tabanan terbagi secara geografis mengikuti kontur alamnya:
- Zona Utara (Perbukitan): Kecamatan Pupuan, Penebel, Baturiti, dan Marga menjadi langganan ancaman tanah longsor serta banjir bandang, terutama saat intensitas hujan tinggi mengguyur tanah yang curam.
- Zona Tengah (Dataran Rendah): Wilayah Kediri, Tabanan, dan sebagian Marga lebih rentan terhadap genangan banjir.
- Zona Selatan (Pesisir): Ancaman tsunami tetap menjadi kewaspadaan utama bagi desa-desa yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
- Zona Perkotaan & Kering: Selemadeg dan Selemadeg Timur dibayangi kekeringan saat kemarau, sementara pemukiman padat kota dihantui risiko kebakaran.
"Kajian Risiko Bencana ini adalah dokumen fundamental. Kita butuh perencanaan yang matang dan kolaboratif untuk mitigasi hingga pemulihan pasca-bencana," tegas Susila dalam Focus Group Discussion (FGD) di Tabanan, Kamis (23/4/2026).
Kolaborasi Lintas Sektor
Kepala BPBD Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri, menambahkan bahwa penanggulangan bencana bukan "pertunjukan tunggal" pemerintah. Melalui FGD yang melibatkan BMKG hingga PLN ini, pihaknya berupaya menyusun strategi yang aplikatif.
"Kami butuh data akurat dan dukungan semua pihak. Tujuannya satu: mempercepat respons dan memastikan masyarakat paham cara menyelamatkan diri sebelum bencana benar-benar terjadi," pungkas Srinadha Giri.[*]
Editor : Hari Puspita