Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan Bedugul terus menunjukkan taringnya dalam pengelolaan destinasi secara mandiri. Setelah sukses berdikari pasca-berakhirnya kerja sama pengelolaan dengan Pemkab Tabanan pada 2021, kini destinasi ikonik di Baturiti ini membuktikan kemandiriannya dalam menangani persoalan sampah.
INI Adalah fakta yang memerlukan Solusi. Setiap harinya, ratusan kilogram sampah yang berasal dari sisa makanan wisatawan, sampah taman, hingga sisa sarana upacara di Pura Luhur Ulun Danu Beratan, diolah sepenuhnya di lokasi khusus tanpa harus dibuang ke TPA.
Humas DTW Ulun Danu Beratan, I Made Sukarata, mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan implementasi nyata dari Perda Provinsi Bali Nomor 19 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber.
Meski sempat terhambat pandemi, sistem pengolahan ini mulai berjalan optimal sejak tahun 2022 di lahan seluas 2 are di luar kawasan The Blooms Garden.
"Sampah dari DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden dikelola dalam satu lokasi secara mandiri dengan pekerja khusus. Kami tidak lagi bergantung pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan," ungkap Sukarata, Minggu (10/5/2026).
Dari Sampah Menjadi Media Tanam
Inovasi ini membawa keuntungan ganda bagi pihak manajemen. Sampah organik yang terkumpul setiap harinya mencapai 100 hingga 150 kilogram. Sampah ini dicacah dan difermentasi menggunakan cairan Effective Microorganisme (EM) selama kurang lebih dua bulan.
Setelah melalui proses fermentasi dan dicampur sekam padi, hasilnya menjadi media tanam berkualitas tinggi.
Pupuk kompos inilah yang kini digunakan untuk merawat dan melakukan pembibitan berbagai jenis bunga cantik yang menghiasi taman di Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden.
"Kalau dulu kami harus membeli media tanam dari luar, sekarang tidak lagi. Kami sudah bisa produksi sendiri untuk kebutuhan internal," tutur Sukarata.
Pemberdayaan Staf Kebun
Sistem pengelolaan ini juga menerapkan pemilahan yang ketat. Untuk sampah anorganik dan residu, pihak manajemen menjualnya kepada pihak ketiga.
Menariknya, hasil penjualan sampah non-organik tersebut sepenuhnya diberikan kepada sekitar 30 staf kebun sebagai insentif tambahan di luar gaji resmi mereka.
"Hasil berupa uang itu diterima langsung oleh staf. Dari sisi manajemen, fokus utama kami adalah bagaimana sampah terkelola dengan baik demi kenyamanan wisatawan," jelasnya.
Dengan sistem yang telah mapan ini, DTW Ulun Danu Beratan mengaku lebih tenang menghadapi isu krisis sampah yang kerap melanda Bali. Fokus utama manajemen kini tetap pada menjaga kebersihan dan estetika destinasi agar wisatawan tetap merasa nyaman berkunjung ke salah satu ikon pariwisata Bali tersebut.[*]
Editor : Hari Puspita