Tak banyak yang tahu bahwa bisnis unggas yang satu ini terbilang minim risiko dan cukup menjanjikan. Juga tak perlu lahan terlalu luas.
BICARA soal bisnis peternakan, ingatan masyarakat biasanya langsung tertuju pada ayam ras pedaging atau petelur.
Baca Juga: Usai Pasar Menanga Terbakar Ternyata Pedagang Menolak Dipindahkan, Desa Adat Gelar Pecaruan
Namun di tangan I Gede Ari Wastika, seorang warga asal Desa Buahan, Tabanan, peluang bisnis justru datang dari jenis unggas yang sangat dekat dengan tradisi lokal: ayam caru.
Berawal dari tingginya kebutuhan sarana upacara keagamaan (Yadnya) di Bali, pria yang juga menjabat sebagai Perbekel (Kepala Desa) Buahan ini sukses menyulap lahan sempit menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.
Bagi Ari Wastika, beternak ayam caru awalnya hanyalah sebuah hobi produktif untuk melepas penat di luar jam dinasnya sebagai pelayan masyarakat.
"Hitung-hitung sebagai refreshing sehabis bekerja dan mengisi waktu luang. Beternak ayam caru ini dibantu pula oleh istri," ujar Ari Wastika saat ditemui di kandangnya, Kamis (28/5).
Bermodal Otodidak di Lahan 3 Are
Ari menceritakan kisah awal mulanya terjun ke bisnis ini pada awal tahun 2023. Ia memulai langkah pertamanya dengan memelihara 200 ekor ayam caru jenis mentari. Hebatnya, seluruh proses pemeliharaan ia pelajari secara otodidak.
Memanfaatkan lahan terbatas seluas 3 are, Ari membangun 12 kandang model tertutup (boks) berbahan triplek dan kayu berukuran 1,5 x 2,5 meter. Siapa sangka, dengan manajemen ruang yang baik, fasilitas tersebut kini mampu menampung hingga 2.600 sampai 3.000 ekor ayam.
Catatan Teknis Budidaya Ayam Caru Ari Wastika:
- Durasi Pemeliharaan: Sekitar 35 hari hingga siap panen.
- Kapasitas Lahan: 12 kandang boks di lahan 3 are.
- Sumber Bibit (DOC): Didatangkan dari wilayah Marga, Tabanan, hingga luar daerah Bali.
- Populasi Saat Ini: Bertahan di angka 500-an ekor siap edar.
Pasar Stabil, Harga Melonjak Setiap Nyepi
Alasan utama Ari memilih ayam caru adalah kepastian pasar. Sebagai elemen penting dalam ritual adat di Bali—terutama menjelang Hari Raya Nyepi—permintaan terhadap ayam jenis ini tidak pernah sepi. Saat ini, pasar utamanya mencakup wilayah domestik Desa Buahan hingga mencakup skala Kabupaten Tabanan.
Soal omzet, bisnis sampingan ini terbilang sangat lumayan. Dalam satu bulan normal, rata-rata penjualan Ari bisa mencapai 100 ekor.
"Harga ayam caru sendiri fluktuatif, berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per ekor. Tapi kalau sudah mendekati Hari Raya Nyepi, harga ayam caru pasti melonjak tinggi," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita