Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Siasati Kemarau Panjang, Petani di Tabanan Ramai-Ramai Alih Tanam Palawija

Juliadi Radar Bali • Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:17 WIB
SIAGA HADAPI KEMARAU PANJANG : Petani di lahan pertanian di Desa Beraban, Selemadeg Timur, Tabanan yang mulai menanam jagung saat musim kemarau.(juliadi/radar bali)
SIAGA HADAPI KEMARAU PANJANG : Petani di lahan pertanian di Desa Beraban, Selemadeg Timur, Tabanan yang mulai menanam jagung saat musim kemarau.(juliadi/radar bali)

Memasuki musim kemarau panjang yang sudah terjadi di bulan Juli ini, sejumlah petani di Kabupaten Tabanan mulai memutar otak. Untuk menyiasati keterbatasan pasokan air, mereka kini mulai beralih menanam komoditas palawija.

BERDASARKAN data dari Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan, tercatat sebanyak 14 subak yang tersebar di tujuh desa telah memulai penanaman palawija karena keterbatasan air irigasi. Salah satu jenis palawija yang paling banyak ditanam adalah jagung.

Baca Juga: Bali Mulai Masuk Kemarau, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan dan Kebakaran Lahan di Bulan Agustus

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Pradnyana, menjelaskan bahwa langkah beralihnya sejumlah petani Tabanan dari tanaman padi ke palawija ini merupakan strategi adaptif dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem saat ini.

\Saat ini, petani yang sudah mulai menanam tanaman palawija berada di wilayah Kecamatan Selemadeg Timur, meliputi daerah Desa Beraban, Desa Tanguntiti, dan Desa Megati.

“Total luas lahan yang sudah ditanami palawija hingga saat ini mencapai sekitar 1.243 hektare,” ujar I Nyoman Pradnyana ketika dikonfirmasi pada hari Rabu (9/7/2026).

Menurutnya, keputusan petani menanam palawija tidak terlepas dari minimnya pasokan air akibat musim kemarau, sehingga lahan sawah tidak memungkinkan untuk ditanami padi. "Petani pun memilih menanam komoditas palawija yang relatif lebih tahan terhadap kekeringan," tegasnya.

Pradnyana menambahkan, saat ini petani di subak-subak tersebut sudah memasuki tahap masa tanam pada siang hari sekitar pukul 11.00 Wita. Pergeseran pola tanam ini menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah kondisi cuaca yang kurang mendukung.

"Kami Dinas Pertanian Tabanan terus melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap petani agar peralihan ke palawija dapat berjalan optimal serta tetap memberikan hasil yang baik bagi petani," pungkasnya.

Sebelumnya, Distan Kabupaten Tabanan juga telah menyalurkan bantuan benih padi hibrida dan bibit jagung lebih dari 25 ton kepada petani pada tahun 2026. Total bantuan terdiri dari 23 ton benih padi hibrida dan 2.325 kilogram bibit jagung sebagai wujud program Pemkab Tabanan untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan pertanian di tingkat subak.

Untuk bibit jagung, bantuan disalurkan di antaranya ke Subak Serampingan, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg sebanyak 450 kilogram dengan cakupan lahan 30 hektare. Kemudian Subak Gede Mambang, Desa Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur sebanyak 1.275 kilogram untuk 85 hektare, serta Subak Penyalin, Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan sebanyak 600 kilogram untuk 40 hektare. [*]

Editor : Hari Puspita
#ketahanan pangan #tabanan #pertanian #palawija #kemarau panjang