Konektivitas Digital di Desa Kukuh: Data Dalam Genggaman, Wujudkan Layanan Cepat dan Transparan

Maulana Sandijaya • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 06:08 WIB
PENGEMBANGAN SDM: Guru TK di Desa Kukuh, Ni Putu Novi Wahyuni Sari, memanfaatkan internet untuk mengajari siswa menggambar kerang.
PENGEMBANGAN SDM: Guru TK di Desa Kukuh, Ni Putu Novi Wahyuni Sari, memanfaatkan internet untuk mengajari siswa menggambar kerang.

Desa Kukuh di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, menjadi salah satu contoh desa yang sukses memanfaatkan internet dengan baik. Sejak 2020, desa yang berada 200 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu aktif membangun konektivitas digital agar warganya bisa terhubung, tumbuh, dan terjaga.

JARUM jam menunjukkan pukul 09.20 Wita saat wartawan Radar Bali sampai di Kantor Perbekel (Desa) Kukuh di Jalan Manik Wangi. Jalanan tampak lengang, karena warga sibuk beraktivitas di sawah, ladang, dan sebagian pergi bekerja ke kota. Ketika masuk halaman kantor desa, suara tonggeret (cicada) terdengar nyaring bersahutan. 

Salah satu staf keluar meminta wartawan koran ini menunggu perbekel (kepala desa) yang sedang keliling desa. Tidak lama kemudian, Perbekel Kukuh, I Nyoman Widhi Adnyana datang. Sebagai perbekel milenial, Widhi pembawaannya santai, tetapi cekatan. Saat ditanya tentang konektivitas digital, pria 38 tahun itu semangat menerangkan. 

Widhi mengatakan, meski hidup di desa, warga tidak boleh tertinggal mengakeses informasi. Karena itu, di sejumlah fasilitas umum seperti wantilan desa (balai desa), balai dusun dan taman kanak-kanan (TK), dan pura dipasangi internet gratis. Widhi menjamin ruang digital yang aman dan terpercaya, karena jaringan diproteksi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tabanan. 

”Semua warga bisa mengakses internet free (gratis) selama 24 jam. Kami juga menempatkan CCTV di persimpangan jalan untuk memantau keamanan,” ujar alumni jurusan Teknik Informatika Instinki Denpasar itu, Rabu (7/10).

Dijelaskan lebih lanjut, jumlah penduduk Desa Kukuh 2.845 jiwa dengan jumlah kepala keluarga (KK) 826. Secara adat, Desa Kukuh terdiri dari Desa Adat Bale Agung Kerambitan dan Desa Adat Samsaman, dengan lima banjar dinas dalamnya.

Widhi menambahkan, internet yang dipasang di fasilitas umum merupakan bantuan dari Pemkab Tabanan dan salah satu provider. ementara di kantor desa yang juga bisa diakses warga, dibiayai anggaran desa. ”Anggara desa kami memang kecil, tetapi kami tidak boleh menyerah, digitalisasi adalah kunci,” tuturnya. 

Sebagai bukti, Widhi mengajak Radar Bali ke ke Balai Dusun Samsaman Kelod, salah satu titik yang dipasangi internet gratis. Tampak sejumlah ibu-ibu muda duduk santai di bangunan sederhana tersebut. Di sebelah balai dusun berdiri TK Rama Bawa II milik Desa Kukuh. Di dua tempat inilah internet dimanfaatkan untuk sosial dan pendidikan. ”Jadi, internet di desa kami sifatnya inklusif, bisa dinikmati semua warga. Dengan inklusifitas ini, kami berharap mendorong warga terus tumbuh,” tukasnya.

Saat Radar Bali datang, 19 anak TK sedang mewarnai gambar kerang di atas kertas HVS A4. Pola gambar kerang itu diunduh oleh guru dari laptop yang terhubung dengan internet gratis. ”Bisa lihat sendiri, peran internet sangat penting untuk mendukung perkembangan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan,” tukas Widhi.

Sementara itu, Ni Putu Novi Wahyuni Sari, guru TK yang sedang mengajar tampak menunjukkan gambar di laptop pada anak-anak. Gambar itulah yang akan diwarnai pada pertemuan selanjutnya. ”Manfaat internet ini sangat besar bagi kami. Salah satunya membantu mencari bahan ajar, sehingga kami bisa terus berinovasi,” tutur Novi.

Internet membuatnya tetap terhubung dengan instansi yang ada di kota. ”Kami tidak bingung lagi kalau ada webinar. Kadang seminggu bisa tiga sampai empat kali webinar,” tukas perempuan 33 tahun itu.

Selain di balai dusun, Widhi juga memasang internet di balai desa. Dibandingkan balai dusun, balai desa ukurannya lebih luas. Saat sore tiba, banyak pelajar datang ke balai desa untuk mengerjakan tugas sekolah. ”Pokoknya setiap hari ada saja pelajar yang datang. Jadi, internet di desa kami ini mendukung terciptanya smart village,” imbuh Widhi.

Sementara itu, Kadek Aprilia Pradnyamika, salah satu warga yang memakai internet di balai desa mengatakan, hampir setiap hari menggunakan WiFi di Balai Desa Kukuh. Ia memanfaatkan jaringan internet untuk mencari informasi yang dibutuhkan. ”Intinya internet ini sangat membantu kami anak-anak muda. Semoga fasilitas ini bisa dipertahankan dan dikembangkan,” ucap Aprilia. 

Selain ikut memajukan pendidikan, internet di Desa Kukuh juga berperan menunjang layanan kesehatan. Dijelaskan Widhi, setiap sebulan sekali ada pemeriksaan kesehatan lansia rutin dari puskesmas. Pemeriksaan kesehatan meliputi mata, gula, dan jantung. Nah, ketika tenaga kesehatan datang, perlu sambungan internet memadai untuk membuka aplikasi dan data online.

Di Desa Kukuh, semua data tentang warga sudah dalam genggaman karena terintegrasi secara digital. Mulai nomor induk kependudukan (NIK), nomor telepon, pekerjaan, golongan darah, hingga riwayat sakit. ”Misalnya ada warga yang sakit jantung dan diabetes, maka kami hubungkan dengan puskesmas untuk mendapat program layanan penyakit kronis (prolanis) dari BPJS,” tuturnya.

Selain itu, internet di balai desa juga digunakan untuk pengembangan seni, adat, dan budaya. Ini karena intensitas kegiatan adat, seni, dan budaya di Bali cukup tinggi. Widhi mencontohkan belum lama ini saat Hari Suci Nyepi, sekaha teruna-teruni (pemuda-pemudi) membuat ogoh-ogoh. Dari awal persiapan hingga ogoh-ogoh jadi butuh waktu sekitar empat bulan. ”Selama empat bulan tersebut, mereka kalau malam kumpul di balai desa ini. Jaringan internet menjadi kebutuhan pokok anak-anak muda untuk berkreasi, berinovasi, dan berekspresi,” ucapnya.

Widhi menegaskan, konektivitas digital membuat pelayanan pada masyarakat menjadi cepat dan transparan. ”Urusan administrasi cukup 5-10 menit,” ungkap ayah dua anak itu. Saat ditanya surat apa yang paling diurus warga, Widhi menyebut surat keterangan usaha untuk pengajuan pinjaman kredit usaha rakyat (KUR). Untuk mendapat surat tersebut, warga cukup memberitahu NIK lewat WhatsApp (WA). Setelah itu softcopy surat akan dikirim. Jika surat ingin dicetak, maka warga tinggal ambil di kantor desa. Begitu juga dengan pengurusan surat keterangan tidak mampu, surat pindah, surat keterangan belum kawin, dan administrasi kependudukan lainnya.

Inovasi terbaru yang dilakukan Widhi yakni membangun Desa Kukuh sebagai desa siaga bencana. Teknisnya, ketika cuaca ekstrem, informasi peringatan dini langsung disampaikan kepada nomor WA warga.

Yang menarik, warga Desa Kukuh juga bisa memantau transparansi pengelolaan keuangan desa secara online. Widhi memasukkan rincian pemasukan dan pengeluaran keuangan desa secara riil time. Data itu bisa dilihat warga melalui website maupun aplikasi SIKADEK (Sistem Informasi Desa dan Kependudukan) yang bisa diunduh melalui android. Menariknya lagi, website ini juga dilengkapi kanal pengaduan, sehingga warga bisa menyampaikan aspirasinya secara langsung. Berdasar pengecekan, kolom pengaduan dipenuhi aduan tentang lampu jalan padam, air got meluber, hingga vaksinasi rabies. Aduan tersebut menjadi acua perangkat desa memberikan pelayanan. Setelah selesai ditangani, admin memberikan keterangan centang pada kolom selesai.

”Orientasi desa digital adalah percepatan layanan, sehingga tidak ada masyarakat yang tidak terlayani dengan cepat. Kapanpun dan di manapun, kami bisa memberi layanan. Astungkara (bersyukur), sampai saat ini belum ada pelayanan yang mandek,” tukas lulusan Magister Teknologi Pembelajaran Undiksha itu.

Berkat kegigihan dalam membangun konektivitas digital tersebut, Desa Kukuh mendapat berbagai penghargaan dari pemerintah daerah maupun pusat. Salah satunya adalah penghargaan sebagai Desa Terinovatif Dalam Pelayanan pada 2023. Gaung inovasi digital Desa Kukuh juga terdengar ke tingkat nasional. Sejumlah instansi berdatangan melakukan studi tiru. Di antaranya Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Pemprov Jateng; Pemerintah Desa Tengger Kidul, Kabupaten Kediri; Pemerintah Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur; Pemerintah Kabupaten Demak, Pemerintah Kabupaten Kediri; hingga Komisi V DPR-RI.

Perguruan tinggi di Bali maupun provinsi lain juga mulai mengirim mahasiswanya ke Desa Kukuh untuk kuliah kerja nyata (KKN). Hingga saat ini tercatat Universitas Udayana (Unud), Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) Denpasar, Universitas Mahasaraswati, Universitas Warmadewa, dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kehadiran rombongan dari luar desa dimanfaatkan Widhi untuk membantu perekonomian warga. Mahasiswa yang KKN biasanya menyewa rumah warga untuk ditinggali. Sementara rombongan tamu luar daerah yang datang disuguhi pentas seni dan kuliner desa. ”Sebisa mungkin kami maksimalkan kedatangan tamu bisa memberikan dampak ekonomi pada warga,” tukasnya.

Meski sudah mampu melayani warga dengan cepat, Widhi mengaku tidak akan berhenti berinovasi. Ia akan mengembangkan aplikasi yang ada untuk meningkatkan keamanan desa. ”Semoga pemerintah daerah maupun pusat juga mau menambah titik internet, sehingga kami bisa semakin maju,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kominfo Tabanan, I Gusti Putu Winiantara yang diwawancarai terpisah menerangkan, berdasar pantauan lapangan Dinas Kominfo, setiap satu titik internet memiliki kapasitas kecepatan bandwidth 50 Mbps. Setiap titiknya rata-rata digunakan 10-11 orang dalam sehari. Namun, saat momen seperti Hari Suci Nyepi, pemakaiannya bisa meningkat. ”Tinggal mengalikan saja jumlah titik dan rata-rata penggunanya,” terangnya.

Ia mengapresiasi Pemerintah Desa Kukuh yang telah berhasil memanfaatkan internet untuk memaksimalkan pelayanan publik dan inovasi diberbagai bidang. ”Tujuan utama internet ditempatkan di fasilitas umum memang untuk membuka informasi kepada warga dan meningkatkan pelayanan,” tutupnya. ***

 

Editor : Maulana Sandijaya
Sumber : radarbali.jawapos.com
tabanan desa kukuh Jaringan internet desa digital