Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bentengi Remaja dari Paparan radikalisme, Densus 88 Serukan Literasi Digital, Simak Hasil Simposium ICMI Badung

Djoko Heru Setiyawan • Senin, 2 Maret 2026 | 21:29 WIB

DIGITAL: Simposium Anti Radikalisme dan Terorisme yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Badung dan Densus 88 di Ruang Kertha Gosana, Puspem Badung, Minggu (1/3/2026)
DIGITAL: Simposium Anti Radikalisme dan Terorisme yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Badung dan Densus 88 di Ruang Kertha Gosana, Puspem Badung, Minggu (1/3/2026)
 

MANGUPURA, radarbali.jawapos.com - Berdasar temuan badan intelejen negara (BIN) ternyata di Bali ada remaja sempat terpapar radikalisme. Guna mencegahnya, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Badung bersama Densus 88 Antiteror Polri, inisiasi Simposium Antiradikalisme dan Terorisme di Ruang Kertha Gosana, Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, Ahad (1/3/2026).

’’Kegiatan ini bertujuan membentengi generasi muda dari ancaman radikalisme digital yang kian masif di media sosial,’’ kata ketua panitia, Abdullah Taib dalam kegiatan bertitel Moderasi, Literasi Digital, dan Ketahanan Ideologi Bangsa ini.

Simposium ini, libatkan; jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, aparat keamanan, serta organisasi kepemudaan masjid se-Kabupaten Badung.

Fokus utama diskusi mencakup tiga pilar penting: moderasi beragama, literasi digital, dan penguatan ideologi Pancasila.

Ketua Umum ICMI Orwil Bali Farida Hanum Ritonga, menegaskan Pancasila harus tetap menjadi fondasi dalam menghadapi ancaman ideologi radikal.

Dia menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif dan sikap toleransi yang tidak memaksakan keyakinan kepada pihak lain.

Perspektif Pemerintah dan Keamanan

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa melalui sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Badan Kesbangpol Badung Ni Made Umi Larasati menyoroti, radikalisme bukan sekadar masalah keamanan.

Radikalisme bisa tumbuh dari kesalahpahaman, rasa ketidakadilan, serta lemahnya literasi digital.

’’Pendekatan kita tidak cukup hanya penegakan hukum, tetapi harus melalui penguatan pendidikan dan karakter,’’ tegas Bupati Arnawa dalam sambutannya.

Beberapa poin penting yang disampaikan Bupati Badung; selain kemajuan ekonomi, ruang digital juga menjadi lahan subur penyebaran ujaran kebencian dan propaganda.

Ditegaska, moderasi bukan melemahkan keyakinan, melainkan menempatkan keyakinan dalam koridor kebangsaan dan nilai kemanusiaan.

Tantangan Daerah Wisata Karakter Badung yang heterogen dan dinamis memerlukan SDM yang berdaya saing sekaligus berkarakter kuat.

Kanit Densus Cegah Satgaswil Bali Densus 88 Anti Teror Polri Ipda Hadinata Kusuma, menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendeteksi dini paparan paham radikalisme pada anak.

Mengenali Gejala pada Anak

Ipda Hadinata menjelaskan tanda-tanda seseorang, terutama anak-anak, terpapar radikalisme dapat dilihat dari perubahan perilaku yang drastis. Beberapa indikator yang patut diwaspadai antara lain: Simbolisme: Anak mulai sering menggambar atau menulis simbol dan tokoh dari organisasi tertentu yang mereka idolakan.

Kemudian, sikap defensive. Yakni, mulai menentang pemahaman umum tentang nasionalisme dan berani mendebat ajaran yang diberikan guru atau orang tua.

Juga pencarian identitas. Di sini, anak cenderung mencari komunitas baru di luar lingkungan keluarga yang dianggap lebih menerima pemahaman baru mereka.

’’Perubahan ini sering kali dipicu oleh informasi yang didapat dari luar. Terutama, media sosial, yang berbenturan dengan ajaran di rumah atau sekolah,’’ ujar Hadinata.

Densus 88 mencatat adanya perubahan signifikan dalam metode penyebaran paham radikal. Jika pada era 80-an hingga awal 2010, pola penyebaran dilakukan melalui pendekatan personal yang memakan waktu lama, kini proses tersebut menjadi sangat singkat melalui media sosial.

’’Saat ini, paparan bisa terjadi hanya dalam waktu satu bulan. Kami menemukan kasus anak usia 13 tahun di Bali yang terpapar karena masifnya konten digital,’’ ungkapnya.

Data menunjukkan konten radikal masih mendominasi ruang digital. Rinciannya, sekitar 33 persen atau setara 4.100 konten yang bersifat inspirasi radikal dan propaganda kelompok teror.

Hadinata menegaskan, radikalisme dan terorisme tidak melekat pada agama atau negara tertentu.

Benarkah? Fenomena ini bersifat global dan terjadi di berbagai belahan dunia, seperti; Amerika Serikat, India, Jepang, hingga Timur Tengah.

Ia mencontohkan, peristiwa di India, di mana radikalisme menyasar mayoritas pemeluk agama Hindu.

Di Indonesia, penyebaran paham ini masuk melalui berbagai celah, mulai dari kajian agama, lingkungan tempat ibadah, lembaga pendidikan, hingga ikatan perkawinan.

Pencegahan dan Edukasi

Bagaimana mencegahnya? Sebagai upaya antisipasi, Ipda Hadinata mengajak orang tua untuk lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak dan memberikan perhatian lebih terhadap lingkungan pergaulan mereka.

’’Kami terus melakukan sosialisasi dan upaya pencegahan, terutama bagi generasi muda yang bebas mengakses informasi online. Fokus kami adalah membanjiri ruang digital dengan lebih banyak konten positif untuk membangun ketahanan ideologi bangsa,’’ pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
#radikalisme #simposium #ICMI Orda Badung