I Ketut Candra Suratana telah tiada. Dia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kantor desa. Keluarga pun memiliki cerita seputar kematian korban.
IB INDRA PRASETIA, Gianyar
SETELAH dievakuasi dari Kantor Desa, jasad Sekdes Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, I Ketut Candra Suratana ditidurkan di Bale Dangin rumah duka di Banjar Jasri. Tampak putri korban bersedih atas kejadian itu. Kerabat dan warga desa juga telah berkumpul di rumah duka dan di balai banjar Jasri.
Kelian Adat Banjar Jasri, Nyoman Agus Yudiana, 46, yang juga sepupu korban juga kaget dengan kabar duka itu. Agus Yudiana menceritakan pada Sabtu pagi pukul 06.00 semua anggota keluarga sudah bangun.
“Usai bangun, sandal bapak masih di kamar. Disangka belum bangun. Apalagi Sabtu kan libur. Keluarga waktu itu membiarkan bapak istirahat,” ujarnya.
Hingga pukul 08.00 Wita, keluarga mengira Sekdes belum bangun. “Akhirnya dicek di kamar kosong. Yang ada hanya HP di kamar dan sepatu olah raga dipakai. Tapi motor masih ada. Keluarga ambil kesimpulan bapak jalan pagi,” ujarnya.
Namun hingga pukul 09.00, belum pulang. “Kami cek ke beberapa teman. Dari teman dekat jawabnya tidak tahu. Perbekel juga kami tanyai, katanya tidak ada kegiatan. Hanya Webinar PKK,” ungkapnya.
Namun pukuk 11.00, perbekel Belega kembali mengontak balik. “Sampai jam 11 dihubungi pak Mekel diminta ke kantor desa. Saya kira acara desa, ternyata bapak sudah di lantai dua gantung diri. Kami syok, kami kontak anaknya, semua syok,” ujarnya.
Mengenai persoalan di rumah, tidak pernah mengeluh. “Kami terbuka antara anak dan mantu. Masalah, megerangan (bertengkar, red) juga tidak ada,” ujarnya.
Namun, diakui, korban semasa hidup pernah sakit. “Dua Minggu lalu sempat sakit dan muntah. Cek ke dokter, katanya asam lambung dan vertigo,” ujarnya.
Kemudian, tiga bulan lalu juga cek up, ke UGD sendirian. “Sampai di UGD telepon anaknya, tolong jemput di UGD, hasilnya negatif, cuma kolesterol,” ungkapnya.
Korban meninggalkan seorang istri dan dua anak serta seorang cucu. “Surat wasiat gak ada, bahkan, kami lihat-lihat HP-nya, juga tidak ada pesan,” jelasnya.
Selanjutnya, jasad korban akan dikuburkan di setra atau kuburan desa setempat pada Sabtu sore.
“Kami mependem dulu. Karena ini tergolong, meninggal Ulah Pati (tidak wajar, red). Nanti setelah 42 hari baru upacara. Sekarang dikubur di setra dulu,” pungkasnya.
Editor : Yoyo Raharyo