Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Lahan Kosong Dekat Areal Museum Manusia Purba Banyak Sampah, Kini Dibersihkan

Muhammad Basir • Sabtu, 21 Oktober 2023 | 19:00 WIB
DIBERSIHKAN : Alat berat dikerahkan untuk membersihkan sebagian kawasan kosong dekat Museum Manusia Purba yang sempat jadi TPS dibersihkan. (foto: lurah gilimanuk, jembrana)
DIBERSIHKAN : Alat berat dikerahkan untuk membersihkan sebagian kawasan kosong dekat Museum Manusia Purba yang sempat jadi TPS dibersihkan. (foto: lurah gilimanuk, jembrana)

NEGARA, Radar Bali.id - Lahan kosong yang berdampingan dengan museum Manusia Purba Gilimanuk, kembali menjadi tempat pembuangan sampah. Padahal sudah ada larangan karena akan dibangun fasilitas penunjang museum Manusia Purba satu-satunya di Bali.

Sehingga dinas terkait dan kelurahan berjibaku membersihkan sampah setiap hari dan menjaga ketat agar tidak ada lagi oknum warga yang membuang sampah sembarangan.

Pembuangan sampah ke lahan kosong milik TNBB dekat museum manusia purba tersebut, sebelumnya memang salah satu fasilitas pembuangan sampah sementara.

Sehingga disediakan kontainer sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Jembrana, agar masyarakat membuang sampah pada kontainer.

"Sekitar setahun lalu, tempat itu jadi tempat sementara pembuangan sampah," ujar Lurah Gilimanuk Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, Jumat (20/10/2023).

Lokasi pembuangan sampah sementara itu, diberlakukan sejak setahun lalu karena tempat pembuangan sampah sebelumnya. Dimana TPS yang sudah puluhan tahun digunakan masyakarat dikeluhkan karena berada di tengah pemukiman dan menimbulkan bau. Akhirnya dipindahkan ke lahan dekat museum dan jauh dari pemukiman.

Namun solusi tersebut justru menimbulkan masalah baru, sampah dari rumah tangga dan pasar menumpuk di satu lokasi.

Setelah setahun lebih beroperasi, Kelurahan Gilimanuk menjalankan program kedas dari pemerintah Kabupaten Jembrana.

Awalnya, masyakarat berlangganan pengangkutan sampah dari setiap rumah tangga, bahkan sempat tercatat sebanyak 2000 KK berlangganan. "Tapi belakangan banyak yang berhenti langganan," ujarnya.

Warga yang berhenti langganan kembali menggunakan tempat pembuangan sampah dekat museum. Padahal sudah dilarang dan kontainer sudah tidak ada, sehingga terkesan areal destinasi wisata itu jorok dengan sampah yang berserakan. "Tempat sementara pembuangan sampah itu mau dibangun, jadi sudah tidak boleh lagi membuang sampah di sana," ujarnya.

Karena itu, saat ini pihaknya kembali mengimbau masyarakat untuk kembali untuk mengikuti program kedas. Karena sampah akan diambil dan dikelola di TPST yang ada di TPA Peh Desa Kaliakah.

"Mengatasi sampah ini perlu kesabaran. Harus bertahap, karena harus menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan mengolah sampah dari rumah tangga," terangnya.

Selain imbauan, tidak segan menerapkan sanksi denda dan sanksi administrasi kepada masyarakat yang kedapatan membuang sampah sembarangan. " Sanksi sudah ada kesepakatan pada saat forum rapat," tandasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#museum manusia purba #jembrana #sampah