Deonisius Cristedeligori ang tinggal di asrama mahasiswa yang terletak di Jalan Dewi Sartika Selatan Nomor 11, Kelurahan Kaliuntu, itu diduga mengalami sakit. Namun tak pernah mendapat pengobatan.
Saat tinggal di sana, korban diketahui sekamar dengan Dipen Wisal, 19, rekannya yang sama-sama berasal dari Papua. Keduanya mulai tidur pada pukul 23.00 Selasa (27/12) malam lalu. Rekannya sempat melihat korban terbangun pada pukul 03.00 Rabu dini hari. Setelah itu korban kembali tidur. Namun pada Rabu sekitar pukul 07.57 pagi, korban mendadak berteriak dan mengerang sebanyak tiga kali. Rekannya pun dibuat kaget. Saat didekati ternyata korban sudah lemas. Dipen pun langsung memanggil teman-temannya yang juga tinggal di asrama tersebut. “Memang sebelumnya sudah mengalami sakit sekitar dua minggu. Tapi masih bisa beraktivitas, tidak sempat ke dokter,” kata Dipen Wisal, rekan sekamar korban.
Peristiwa itu kemudian dilaporkan pada pihak rektorat serta aparat kepolisian. Dari hasil pemeriksaan tim medis di Puskesmas Buleleng I, korban telah dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Tim identifikasi dari Polres Buleleng juga melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian. Selanjutnya jenazah korban dibawa ke RSUD Buleleng untuk proses visum dan otopsi.
Kapolsek Kota Singaraja AKP Pawana Jaya Negara mengatakan, dari hasil pemeriksaan tim medis, korban sudah meninggal dunia. Diperkirakan korban sudah meninggal sekitar 2 jam sebelum dilakukan pemeriksaan luar. Itu berarti korban sudah meninggal sekitar pukul 08.00 pagi. “Sementara jenazahnya kami bawa ke RSUD Buleleng untuk visum dan otopsi. Supaya lebih jelas apa yang jadi penyebab kematian korban,” kata Pawana.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Undiksha, Prof. I Wayan Suastra mengatakan, pihaknya tak mendapat kabar bahwa korban sempat jatuh sakit. “Memang kami tidak dapat informasi itu. Tadi pagi temannya juga terkejut karena tahu-tahu meninggal di kamar. Selama dua minggu ini kami juga tidak tahu, apakah dia aktif hadir kuliah atau tidak,” kata Suastra saat ditemui kemarin.
Menurutnya rektorat telah berkoordinasi dengan keluarga. Pihak keluarga meminta agar korban dipulangkan ke rumah duka di Papua. “Kami sudah komunikasi. Untuk biaya otopsi dan pemulangan jenazah, akan kami fasilitasi. Karena pihak keluarga minta supaya jenazahnya bisa dibawa pulang ke daerah asal,” demikian Suastra. (eps)
Editor : Donny Tabelak