Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sasar Penghobi Ikan Hias, Warga Didorong Budidaya Koi pada Masa Pandemi

Yoyo Raharyo • Minggu, 12 September 2021 | 09:15 WIB
Budidaya koi di masa pandemi di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng.
Budidaya koi di masa pandemi di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng.
Warga di Desa Kedis, Kecamatan  Busungbiu, tengah melirik peluang baru. Mereka mengembangkan budidaya ikan koi. Budidaya ikan hias ini diyakini menjadi salah satu solusi pemulihan ekonomi pada masa pandemi.

EKA PRASETYA, Singaraja

SUARA gemercik air begitu memanjakan telinga. Di kejauhan hamparan sawah hijau memanjakan mata. Di sisi sawah, terlihat empat petak kolam ikan terlihat berjejer. Masing-masing petak memiliki ukuran 3x4 meter.

Dari empat kolam yang tersedia, dua di antaranya berisi puluhan ekor ikan koi. Rata-rata ukuran ikan koi itu lebih dari 75 centimeter. Sementara dua kolam lainnya berisi ikan-ikan yang berukuran 3-4 centimeter. Hasil pemijahan indukan koi.

Sejak setahun terakhir, warga di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu melakukan budidaya ikan koi. Budidaya itu dilakukan sejak setahun terakhir. Proses budidaya dilakukan oleh Kelompok Budidaya Mina Pinjinan.

Perbekel Desa Kedis, Nengah Suparna mengungkapkan, budidaya itu telah dilakukan sejak setahun terakhir. Nyaris tak ada kendala berarti dalam proses budidaya. Biaya yang dikeluarkan juga relatif murah.

“Saat ini biaya paling besar itu untuk pakan. Kalau yang lain, tidak terlalu banyak. Air juga tidak makan biaya besar. Karena air di desa kami melimpah. Air untuk kolam ini kan langsung dari sumbernya,” ungkap Suparna.

Menurut Suparna selama ini kelompok juga tak pernah mengalami kesulitan dalam memasarkan ikan hias tersebut. Biasanya ikan disuplai pada penjual di Kota Denpasar. Biasanya ikan hias itu dilego dengan harga Rp 10 ribu per ekor.

Selain itu beberapa penghobi ikan koi juga mulai melirik lokasi budidaya itu. Biasanya mereka mencari jenis ikan yang spesifik.

“Biasanya dicari yang warnanya bagus, bentuk tubuhnya. Penghobi punya kesukaan tersendiri. Jadi mereka memilih sendiri. Harganya otomatis lebih tinggi,” tuturnya.

Dampaknya ekonomi warga pun mulai terbantu. “Anggota kelompok ekonominya lebih terangkat. Mereka yang dulu di-PHK dari pekerjaannya di Denpasar, sekarang serius melakukan budidaya. Jadi ada pemasukan untuk keluarga. Ini sangat membantu perputaran ekonomi di desa kami,” kata Suparna.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng I Gede Putra Aryana mengatakan, Kelompok Mina Pinjinan merupakan salah satu kelompok yang berhasil melakukan budidaya ikan koi. Kelompok itu juga telah mendapat bantuan indukan koi yang bersumber dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Menurut Aryana pada masa pandemi Covid-19, tren penghobi koi tak surut. Justru makin meningkat. Sehingga pihaknya mendorong warga menggeluti budidaya ikan koi.

“Jumlah penghobi koi sekarang ini terus menunjukkan tren meningkat. Sehingga kami melihat ini menjadi peluang baru yang bisa digeluti masyarakat,” kata Putra Aryana

Dengan bantuan bibit koi yang diberikan, kelompok bisa lebih produktif. Seekor ikan koi betina bisa menghasilkan setidaknya tiga ribu benih. Apabila pemijahan sukses, kelompok bisa mendapat imbal hasil yang signifikan. Apalagi seekor ikan koi bisa dijual senilai Rp 10 ribu per ekor.

“Untuk kontes malah bisa sampai jutaan. Apalagi kalau sudah pernah menang kontes, bisa puluhan juta harganya. Makanya anggota kelompok kami dorong mereka lebih serius dalam proses sortir. Semakin tekun mereka melakukan penyortiran, mereka akan semakin paham mana yang masuk kualitas kontes dan tidak,” demikian Aryana. Editor : Yoyo Raharyo
#penghobi ikan koi #bali #budidaya ikan koi #ikan koi #buleleng #desa kedis busungbiu