SEBANYAK tiga buah tiang dangsil berdiri tegak di madya mandala Pura Desa Sangsit Dangih Yeh. Para krama lanang bersorak, karena proses yang begitu menguras tenaga itu akhirnya tuntas.
Dangsil menjadi salah satu sarana utama dalam prosesi ngusaba desa dan ngusaba nini di Desa Adat Sangsit Dangih Yeh. Ketiga tiang dangsil itu jadi perlambang para dewata.
Krama lanang telah mengerjakan pembuatan dangsil sejak Senin (3/4) lalu. Setiap dangsil berisi hiasan berupa janur yang disebut srembeng dangsil. Jumlahnya pun berbeda-beda. Selain itu di puncak tiang terdapat hiasan berupa janur dan bunga.
Setiap dangsil memiliki jumlah srembeng yang berbeda. Dangsil dengan sebelas serembeng merupakan perlambang dari Dewa Brahma. Sementara dangsil dengan sembilan serembeng merupakan perlambang Dewa Wisnu, sedangkan yang memiliki tujuh serembeng merupakan simbol dari Dewa Siwa.
Proses membuat dangsil bukan perkara mudah. Sebab dangsil harus dibuat dari pohon tertentu. Yakni pohon pinang. Sementara jumlahnya semakin langka. Pada ngusaba kali ini, krama menemukan pohon pinang yang cocok di Desa Pakisan.
“Biasanya memang kami temukan di sekitar sana, seperti di Pakisan, Bebetin, atau Sekumpul. Tapi lokasinya ya di hutan-hutan, jadi kami harus nedunang krama. Sebenarnya dulu sempat kami coba tanam, tapi tidak bagus tumbuhnya. Kendalanya memang pinang sekarang makin langka,” kata Manggala Karya Ngusaba, Wayan Sunarsa.
Sunarsa mengatakan, prosesi ngusaba akan mencapai puncaknya pada hari ini (5/4) yang bertepatan dengan purnama kedasa. Selanjutnya pada Kamis (6/4) akan berlangsung prosesi ngusaba bukakak yang ditunggu-tunggu oleh para krama.
Lebih lanjut Sunarsa mengungkapkan, dalam rangkaian ngusaba kali ini, krama desa telah melakukan persembahyangan di sejumlah tempat. Diantaranya di Pura Empalan, Pura Panti, dan Pura Gaduh.
Di Pura Empalan, krama mengucap syukur kepada Ida Bhatara Wisnu, sekaligus memohon agar selalu diberikan limpahan air dan kesuburan untuk lahan pertanian. Mengingat pertanian menjadi salah satu tulang punggung masyarakat setempat.
Selanjutnya di Pura Panti krama menghaturkan terima kasih kepada Dewi Sri, karena hasil panen sudah bagus dan melimpah. Sementara di Pura Gaduh krama mengucap syukur pada Bhatara Ganesha karena membantu para petani menanggulangi hama dan penyakit. (eka prasetya/rid) Editor : M.Ridwan