Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Wawancara Khusus dengan Donny Fattah Gagola Pencipta Lagu Musisi(1):“Ini Lagu Saat Kami Sedang Galau”

Hari Puspita • Minggu, 23 Juli 2023 | 20:05 WIB
SANTAI, LOW PROFILE : Donny Fattah mencipta lagu Musisi karena galau masa depan musisi era 1970-an.
SANTAI, LOW PROFILE : Donny Fattah mencipta lagu Musisi karena galau masa depan musisi era 1970-an.

Pemusik berdarah Bugis-Jawa dari orang tuanya ini dikenal low profile. Santai. Tidak terlalu banyak terekspose, seperti Ahmad Albar atau Ian Antono, misalnya. Namun di balik tampilan kalem pria kelahiran Makassar,24 September 1949 silam ini, dia yang mencipta salah satu lagu paling ikonik God Bless, Musisi. Berikut ini petikan wawancaranya dengan Hari Puspita dari Radar Bali.

Anda merasa lagu ini (Musisi) paling istimewa?

Nggak juga. Lagu yang lainnya (di God Bless) juga bagi saya istimewa. Bukan hanya lagu ini. Banyak lagu yang kami ciptakan bersama-sama. Terutama aransemennya (sambil menyebut beberapa lagu, seperti lagu Cermin, Anak AdamSemut Hitam, yang idenya dari dia).

Saya sendiri tidak menyangka kalau lagu ini akhirnya banyak disukai di kemudian hari. (Lagu Musisi ini syair lengkapnya sebagai berikut:

Getar jiwa kuungkapkan ke dalam nada oh tercipta lagu
Kutuliskan kata hati ke dalam bait oh tercipta lirik

Berkisah nada riang dan nada sendu
Curahan desah kalbu di kala itu

Pada gitar kupetikkan nada indah oh damai di hati
Kan kutuangkan bisik hati dalam kata oh derita jiwa

Hamparan kisah hidup dan perih rasa
Alunan getar jiwa ke ujung jari

Dalam musik kutuangkan sanubari oh luapan kalbu
Semua kata hati tercurahkan dalam lirik oh alunan kisah

Dengarlah ketuk nada dalam irama
Inilah getar jiwa bagi musisi.

 Baca Juga: God Bless Tuntaskan Syuting Musisi di Nusa Dua

Lagu ini selama era 1990-an, di sejumlah ajang festival musik rock di Indonesia, khususnya festival yang digelar Log Zhelebour selalu menjadi salah satu lagu rock berbahasa Indonesia yang dijadikan lagu wajib untuk dibawakan. Lagu ini juga yang dipilih sebagai video klip pertama dari album God Bless Anthology 50th Anniversary, yang disutradarai Erick EST)

Anda perlu waktu khusus saat membuat lagu (Musisi) ini?

Nggak juga. Ini lagu yang saya bikin secara spontan saja, sebetulnya.

Ya, waktu itu kan kami, di God Bless masih sangat muda. Masih menggelegaklah, jiwa muda kami. Masih penuh gejolak jiwa sebagai seniman, sebagai musisi.

Saya ingin menuangkan gejolak jiwa kami itu lewat lagu. Sebetulnya saat itu kami sedang galau sebagai musisi yang tidak menentu hidupnya.

Tidak menentu bagaimana?

Kami ini  kan musisi kelas jalanan saja kan. Musisi jalanan. Kami ini cuma musisi gembel. Gembel, kami ini. Musisi yang tidak punya masa depan.

Kumpul dengan preman, pemabuk, pemakai narkoba, di jalan-jalan. Kami juga pemabuk , waktu itu. Tahun-tahun segitu, memakai narkoba juga ngawur-ngawur, gila-gilaan. Cuma jenis beda kalau zaman itu.

Musisi di God Bless ini suka sekali merendah. Masak sekelas God Bless pemusik kelas gembel?

Lho, bagaimana nggak musisi kelas gembel? Kami ini buat makan aja susah. Nggak cukup. Rumah nggak punya. Ngontrak pindah-pindah. Bertahun-tahun begitu.

Kalau kemudian kami disebut legend, itu karunia Tuhan yang luar biasa. Bersyukur masih bisa berkarya terus di usia setua ini. Rata-rata kami sudah 70 tahun. Kecuali si Fajar (drummer yang juga drummer-nya band Edane, bareng Eet Syahrani).

Kami ini dulu ya main musik di emperan-emperan, ngamen. Kadang nggak dibayar. Ditinggal pergi promotornya. Macam-macamlah, suka dukanya.

Itu efek basnya bagus sekali, terdengar aneh gitu. Apalagi untuk era segitu?

Oh, itu. Itu teman yang nawarin efek bas itu. Nggak tau dia pakai efek apa. Tapi ya gitu-gitu aja. Saya nggak tahu juga apa nama efeknya. Hahaha.

Saya pikir efek basnya cocok, bagus,  dipakai untuk intro lagu itu (Musisi). Kami berdiskusi dengan teman-teman untuk aransemennya, jadilah lagu itu, Musisi.

Efek basnya (lagu Musisi) sudah kayak basnya band Muse, seperti di lagu Hysteria itu ya?

Oh, Muse itu. Iya. Tapi jauh sebelum zamannya Muse. Nggak tahu, itu ide teman saya untuk efek bas di intro lagu. Saya pikir sangat pas untuk lagu itu. Ya, udah, dipakai aja.

Syair lagu ini begitu kuat, seperti punya ruh, gitu. Sebetulnya apa sebabnya?

Karena saat itu usia kami masih 20-an, ya. Masih sangat muda. Waktu itu kamis masih galau soal masa depan kami sebagai musisi.

Waktu itu (dekade 1970-awal 1980-an), menjadi musisi, jadi anak band mau makan apa? Manajemen masih kacau. Nggak seperti sekarang. Jauh. Sekarang manajemen (band, artis) sudah bagus-bagus.

Sekarang kayak Slank, Dewa, manajemennya udah bagus-bagus. Kalau dulu, wah, masih serba kacau.Nggak ada manajemen.

Apalagi waktu itu kami yang sudah berkeluarga ini penghasilan tidak menentu. Sudah punya anak, hidup susah. Waduh, mau hidup dari mana? Penghasilan dari musik itu kan serba tidak menentu. Tidak cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Dari situlah, kami sebagai musisi ini terilhami. Karena gejolak batin seperti itu yang sedang kami rasakan waktu itu.

Ada promotor musik yang kabur setelah selesai pertunjukan, sama sekali nggak dibayar. Ya, begitu-itulah tahun-tahu segitu.

Sesulit itu kehidupan musisi saat itu?

Iyalah. Siapa yang mau anaknya dinikahin musisi? Mau makan apa. Anak, istri, masu dikasih makan apa? Rumah masih kos, masih ngontrak.

Ian (Ian Antono) itu bertahun-tahun di Jakarta nggak punya rumah dia. Ngontrak. Pindah-pindah sama keluarganya.

Padahal kami juga ingin seperti yang lain punya rumah juga. Sampai akhirnya bikin lagi Rumah Kita itu.

Tapi liriknya bukannya Theodore KS?

Ya, dibantu Theodore KS, tapi ide tema lagu, dari Ian sama istrinya juga. Karena pengin punya rumah. Theodore KS akhirnya diminta untuk membantu membuat syairnya.[*]

Editor : Hari Puspita
#musisi #Donny Fattah #god bless 50 tahun #god bless