Tak hanya metaksu di panggung pertunjukan, sosok guru besar ini Adalah guru sejati sejumlah seniman kesenian drama gong di Bali.
SUASANA haru menyelimuti Krematorium Punduk Dawa pada Rabu (21/1/2026). Pengabenan maestro drama gong sekaligus Guru Besar UHN Sugriwa, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, berlangsung khidmat dan unik dengan iringan pementasan drama gong di lokasi upacara.
Pementasan lakon Pauwus Ayu oleh Paguyuban Drama Gong Lawas dan Sekaa Mahaswari Gianyar ini menjadi simbol penghormatan terakhir bagi sosok yang dikenal ikonik lewat perannya sebagai Patih Agung.
"Ini adalah bentuk penghormatan atas perjuangan beliau. Pesan moral dalam lakon ini adalah mandat bagi generasi muda untuk terus melestarikan drama gong," ujar Anak Agung Gede Oka Aryana, Ketua Paguyuban Drama Gong Lawas.
Kepergian Prof. Sugita meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni Bali. Ni Wayan Suratni, seniman yang dikenal lewat peran Liku, mengenang almarhum sebagai guru yang rendah hati.
"Beliau bukan hanya rekan panggung, tapi sosok yang menuntun saya sejak awal belajar seni. Bali kehilangan guru besar yang luar biasa," tuturnya sembari menahan isak.[*]
Editor : Hari Puspita