Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Adhikara Grahana Sabet Juara I Festival Singasana III, Karya Megah Senilai Rp 70 Juta

Juliadi Radar Bali • Senin, 16 Maret 2026 | 06:54 WIB

BERSAING SENGIT : Penampilan ogoh-ogoh Adhikara Grahana karya Sekaa Teruna (ST) Dharma Bhakti Banjar Tapak Karang, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Tabanan,juara 1. (Juliadi)
BERSAING SENGIT : Penampilan ogoh-ogoh Adhikara Grahana karya Sekaa Teruna (ST) Dharma Bhakti Banjar Tapak Karang, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Tabanan,juara 1. (Juliadi)

 

TABANAN, RadarBali.id – Dinas Kebudayaan (Disbud) Tabanan resmi mengumumkan pemenang Lomba Ogoh-ogoh Festival Singasana III. Gelar Juara I jatuh ke tangan Sekaa Teruna (ST) Dharma Bhakti, Banjar Tapak Karang, Desa Apuan, Baturiti, melalui karya fenomenal mereka yang bertajuk Adhikara Grahana.

Ogoh-ogoh yang mengangkat kisah asal-usul Rahwana dari Babad Lokapala ini berhasil menyisihkan pesaing tangguh lainnya. Juara II diraih oleh ST Tri Wikrama, Banjar Kamasan, dengan karya Ngerejeg Bhoma Palatra (nilai 261,8), disusul STT Permata, Banjar Tanah Bang, sebagai Juara III dengan karya Kunti Seraya (nilai 259,7).

Perjuangan 6 Bulan dan Biaya Fantastis

Undagi ST Dharma Bhakti, I Made Widiartha ,24, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian yang di luar ekspektasi ini. "Kami mulai menggarapnya sejak September 2025 secara mandiri tanpa tenaga luar. Ini benar-benar perjuangan yang tidak sia-sia," ujarnya.

Proses kreatif ini memakan waktu hampir enam bulan dengan total biaya mencapai Rp 70 juta (termasuk konsumsi). Tak hanya soal teknis, tantangan fisik pun harus dihadapi saat membawa ogoh-ogoh dari Baturiti ke lokasi festival.

 "Perjalanan sampai empat jam karena harus menghindari kabel listrik dan pepohonan di sepanjang jalur Penebel," tambah Widiartha.

Detail yang Menentukan

 Juri lomba, I Gede Arum Gunawan, menjelaskan bahwa penilaian tahun ini sangat ketat, terutama pada aspek harmonisasi anatomi, pewarnaan, dan pencahayaan. "Pencahayaan sangat krusial. Beberapa warna bisa terlihat berbeda saat di dalam ruangan dibandingkan saat terkena cahaya matahari langsung," jelasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan, I Made Subagia, berharap ajang ini terus menjadi ruang bagi undagi lokal untuk mengasah kreativitas agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi.[*]

Editor : Hari Puspita
#tabanan #pemenang lomba #lomba ogoh-ogoh #malam pengerupukan