SINGARAJA– Diduga dipicu masalah setra atau kuburan, dua desa adat di Kecamatan Buleleng, Bali bersitegang.
Dua desa adat yang bersitegang itu yakni Desa Adat Tista dan Desa Adat Bangkang.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, ketegangan antara krama atau warga di dua desa di wilayah administratif Desa Baktiseraga terjadi dari, sejak Minggu lalu (7/2).
Ketegangan antar warga dua desa adat yang masih bertetangga ini berawal saat berlangsungnya kegiatan gotong royong di areal setra Desa Adat Bangkang atau tepatnya di sebelah utara SDN 2 Baktiseraga, pada Sabtu (6/2) dan Minggu (7/2).
Gotong royong itu dianggap ganjil. Sebab yang melakukan gotong royong bukan berasal dari krama Desa Adat Bangkang, maupun Desa Adat Tista.
Melainkan dari salah satu yayasan yang ada di Buleleng. Hal itu pun memicu kekhawatiran tersendiri. Terutama bagi krama di Desa Adat Bangkang.
Belakangan pada Senin (8/2) terlihat ada aktivitas menurunkan material berupa batu di setra tersebut. Puncaknya terjadi pada Selasa (9/2) pagi.
Sebuah kendaraan material kembali terlihat menurunkan material semen dengan didampingi krama dari Desa Adat Tista.
Kondisi itu membuat krama dari Desa Adat Bangkang gelisah. Akhirnya sekitar pukul 08.00 pagi, krama dari Desa Adat Bangkang dan Desa Adat Tista terlibat adu mulut di depan pintu masuk setra.
Krama dari Desa Adat Bangkang tak terima dengan rencana renovasi yang dilakukan oleh Desa Adat Tista.
Krama dari Bangkang mengklaim selama ini tidak menerima informasi apapun dari Desa Adat Tista.
Bahkan kondisi makin diperparah dengan munculnya informasi yang berseliweran di media sosial, yang menyebut akan dibangun krematorium di setra tersebut.
Akhirnya sekitar pukul 08.30 WiTA, pihak dari Desa Adat Tista dan Desa Adat Baktiseraga bersedia duduk bersama.
Pertemuan itu dilakukan di halaman SDN 1 Baktiseraga. Pertemuan dihadiri Perbekel Baktiseraga Gusti Putu Armada dan Kapolsek Kota Singaraja Kompol Ketut Darma Ariawan. Selain itu Kelian Desa Adat Bangkang Gede Gelgel dan Kelian Desa Adat Tista I Nyoman Supardi.
Dalam mediasi awal itu, Kelian Desa Adat Tista I Nyoman Supardi mengatakan pihaknya sudah pernah bersurat pada Desa Adat Bangkang terkait rencana renovasi setra.
Menurutnya, renovasi itu hanya diniatkan menjaga agar kondisi setra tak mengalami kerusakan lebih jauh. Sebab selama ini bantaran di sisi barat setra, terus tergerus air bah.
Konon perbaikan disponsori oleh pihak ketiga. Hanya saja tak disebutkan siapa yang mensponsori perbaikan itu.
Sementara itu, salah seorang krama Desa Adat Bangkang, Gusti Made Artana mengaku keberatan dengan rencana renovasi itu.
Salah satu alasannya, karena tidak ada komunikasi pada Desa Adat Bangkang.
Sehingga krama merasa tak dihargai. Padahal setra itu digunakan untuk kepentingan bersama dua desa adat.
Gusti Artana pun menyebut komunikasi semestinya dilakukan antara kedua belah pihak, agar tak terjadi salah paham.
Lebih lagi saat proses renovasi itu, krama mendengar adanya isu akan dibangun krematorium di areal setra.
Isu itu dikatakannya membuat krama merasa tidak nyaman. Ditambah lagi informasi yang minim dari Desa Adat Tista, membuat krama makin gelisah.
Perbekel Baktiseraga Gusti Putu Armada menyebut, ketegangan sebenarnya sudah terjadi sejak Sabtu (6/2) lalu.
Pihaknya sudah berusaha meredam ketegangan antara kedua belah pihak. Hanya saja suasana keburu memanas, sehingga terjadi adu mulut antara krama dari Desa Adat Tista dan Desa Adat Bangkang.
Armada mengatakan pihaknya akan melakukan mediasi pada Rabu (10/2) pagi di Kantor Perbekel Baktiseraga. “Ini kan dua desa adat yang bertetangga. Masih satu desa dinas juga. Tadi sudah sepakat akan mediasi besok (hari ini, Red) pagi. Kalau ada miskomunikasi biar diselesaikan lewat forum. Jangan sampai ada krama yang dirugikan. Sebab setra itu kan digunakan untuk kepentingan krama di Desa Adat Bangkang dan Tista,” katanya.
Sementara itu, Camat Buleleng Nyoman Riang Pustaka menyebut, ketegangan antara dua desa adat itu hanya masalah miskomunikasi semata.
“Besok (Rabu (10/2)) akan mediasi, biar klir masalahnya. Nanti mediasi dengan Muspika juga. Selama ini hubungan kedua desa adat itu baik-baik saja. Saya kira ini hanya masalah miskomunikasi saja,” tukasnya.
Editor : Didik Dwi Pratono