Mengenai patung Buddha yang berada di areal Vihara Empu Astapaka, Gilimanuk, merupakan patung Buddha tertinggi di Bali, bahkan salah satu patung Buddha tertinggi di Indonesia. Karena patung Buddha memiliki tinggi 25 meter dari atas tanah.
"Memang ada yang menyebut sebagai salah satu patung Budha yang tertinggi di Indonesia," ujar Ketua Umum Yayasan Empu Astapaka Gilimanuk Pandita Sudiarta Indrajaya.
Patung Buddha berada di areal Vihara Empu Astapaka, Gilimanuk, dibangun dengan posisi berdiri memiliki makna yang luas. Sikap berdiri dengan kedua tangan di dada disebut sikap abaya mudra. Sikap itu artinya, tentang hukum karma. Memiliki pesan jangan takut, jangan gentar, tidak akan terjadi sesuatu pada diri kalau bukan hasil perbuatan sendiri.
Karena, kadang ada orang yang takut menyeberangi laut, karena khawatir ada musibah. Jadi, semestinya jangan khawatir, tetap tenang."Kalau istilahnya tabur tuai, karma pala kalau istilah di Bali," ungkapnya.
Kemudian, sikap abaya mudra itu berarti untuk bapak juga. Artinya mendoakan keselamatan, mendoakan setiap yang berlalu lintas di Selat Bali diberkahi keselamatan dan keberkahan.
Patung Buddha Vihara Empu Astapaka juga sebagai perlambang selamat datang di pulau Dharma.
“Bali sebagai Pulau yang masyarakatnya sangat mencintai kebenaran, menghargai perbedaan, penuh toleransi dan cinta kedamaian," ungkapnya.
Sekilas mengenai sejarah vihara, merupakan salah satu vihara tertua di Bali. Didirikan pada tahun 1970--an. Berawal dibangunnya tempat meditasi di daerah Banjar, Buleleng. Kemudian banyak yang datang dari Jawa, mulai dari bikhu dan pelajar.
Akhirnya sesepuh di Gilimanuk, diantaranya Nengah Srimaya, yang saat itu kepala resort hutan Bali Barat. Mengumpulkan sesepuh lain untuk belajar kebatinan, di tempat berdirinya vihara dulu tempat bersemedi dan berdiskusi tentang teo sofi.
Diceritakan juga, konon banyak pelaku spritual dari Jawa, tidak hanya umat Budha beribadah di lokasi vihara. Ada juga dari muslim yang datang dari Jawa juga menjadikan tempat solat. "Pada saat membangun patung sekitar tahun 2007 menyaksikan sendiri. Ada yang menumpang solat," terangnya.
Dipilihnya nama Empu Astapaka oleh para tetua yang mendirikan Vihara Empu Astapaka, sebagai rasa hormat dan bakti kepada seorang empu yang datang ke Bali. Memperkuat nilai nilai keagamaan dan juga persaudaraan serta keharmonisan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Vihara dibangun sedemikan rupa, dilengkapi dengan taman juga sebagai edukasi. Jadi bagi orang -orang yang datang, bisa mempelajari ajaran Budha.
Di samping itu ada bale pesandegan atau balai istirahat. Setiap orang yang datang dari Jawa atau datang dari Denpasar akan menyeberang bisa istirahat lebih dulu. Fasilitas umum juga disiapkan untuk siapa saja yang datang. "Vihara juga sebagai tempat wisata," ungkapnya.
Sementara di sebelah utara, terdapat patung Siwa, tepatnya di taman siswa yang berada di seberang Pelabuhan Gilimanuk. Patung Siwa Mahadewa itu, sebagai lambang bahwa Bali sebagai pulau darma. Sesuai dengan sesanti bhineka tinggal Ika.
"Kehadiran Patung Siwa Mahadewa di sisi pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk, di utara Vihara Empu Astapaka juga menunjukkan Bali sebagai pulau yang harmoni. Selaras dengan sejarah peradaban Nusantara," ujarnya. (bas) Editor : Yoyo Raharyo