Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

VIRUS ASF Merebak, Disperpa Badung Gencarkan Biosecurity, Begini Bahayanya

Made Dwija Putera • Senin, 1 April 2024 | 13:12 WIB
Ilustrasi virus African Swine Fever (ASF) yang kembali merebak di Kabupaten Badung
Ilustrasi virus African Swine Fever (ASF) yang kembali merebak di Kabupaten Badung

MANGUPURA, radarbali.id - Virus African Swine Fever (ASF) kembali merebak dan mengkhawatirkan para peternak babi di Bali khususnya di Kabupaten Badung.

Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Badung meminta para peternak menggencarkan biosecurity. Sehingga, penyebaran virus ASF bisa diantisipasi sejak dini.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung, I Wayan Wijana mengakui bahwa untuk mengantisipasi penyebaran ASF di Badung telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang ditujukan kepada para peternak. SE Nomor : 524.3/959/Diperpa Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Penyakit African Swine Fever (ASF). SE ini dikeluarkan lantaran telah ditemukannya penyakit ASF pada bulan Januari 2024 di Kabupaten Badung.

“Di Badung belum ada laporan (ASF) lagi, tapi kami tetap mengimbau peternak untuk selalu menjaga kebersihan kandang, membatasi orang dan barang masuk dalam kandang untuk meminimalisasi  penyebaran virus,” jelas Wijana.

Ia mengakui  belum adanya vaksin yang dapat melawan virus ASF. Karena itu, peternak diharapkan melakukan langkah-langkah antisipasi.

Yakni melakukan biosecurity yang menjadi salah satu cara mencegah penyebaran ASF. “Terpenting dalam pengendalian ASF adalah biosecurity, karena sampai saat ini belum ada vaksin ASF.

Selain menerapkan biosecurity juga menjaga sanitasi kandang dan lingkungannya, membersihkan kandang secara teratur dengan menggunakan desinfektan, membatasi orang yang keluar masuk kendang.

Misalnya dengan memasang tulisan di depan pintu kendang, petugas kandang menggunakan pakaian dan alas kaki yang bersih dan khusus.

Setiap petugas kandang, peralatan dan sarana lainnya yang masuk kandang harus disemprot terlebih dahulu dengan desinfektan, tidak memasukkan babi baru ke peternakan, apalagi babi berasal dari luar daerah.

“Jika membeli babi baru, babi tersebut perlu dikandangkan di luar peternakan beberapa waktu untuk dikarantina. Tidak memanfaatkan sisa-sisa makanan hotel, restoran dan rumah makan. Jika memanfaatkan harus dimasak/direbus terlebih dahulu,” paparnya.


Lebih jauh diterangkan, pembeli babi tidak boleh masuk kendang dan kendaraan serta alat penangkap babi harus disemprot dengan desinfektan sebelum memasuki halaman kandang.

Mencegah kontak langsung antara babi sehat dan babi sakit dan babi yang sakit harus segera dipisahkan dan ditempatkan di kandang isolasi atau kandang yang paling akhir.  

“Kami  himbau peternak agar segera melaporkan ke petugas Puskeswan jika menemukan babi yang sakit, dengan menghubungkan nomor yang telah disebarkan di masing-masing kecamatan,” pungkasnya. ***

Editor : M.Ridwan
#virus #biosecurity #ASF #kabupaten badung #African Swine Fever