SEMARAPURA, Radar Bali.id-Mirip yang terjadi di Jembrana, di Kecamatan Nusa Penida dalam lomba ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi diwakili komunitas perantauan asal Nusa Penida yang tinggal di Bali daratan.
Anggaran yang terbatas membuat Kecamatan Nusa Penida tahun ini belum bisa mengirim perwakilan dari sekaa yang ada di Nusa Penida.
Camat Nusa Penida I Kadek Yoga Kusuma mengungkapkan, bersama perwakilan perbekel telah menghadap ke Dinas Kebudayaan Klungkung terkait tidak ikutnya Kecamatan Nusa Penida dalam perlombaan ogoh-ogoh akibat terbatasnya biaya.
Tetapi dari pihak Disbud Klungkung justru memberikan informasi jika Kecamatan Nusa Penida akan diwakili oleh komunitas perantauan asal Nusa Penida yang tinggal di Bali.
Dengan demikian, Nusa Penida turut serta dalam perlombaan tersebut bersama tiga kecamatan yang lainnya di Kabupaten Klungkung.
”Komunitas perantauan asal Nusa Penida yang tinggal di Bali berminat mengikuti lomba tersebut mewakili Nusa Penida,” ungkapnya.
Dengan demikian, Nusa Penida diwakili oleh komunitas seni Gangsaran (Gabungan Hang Nusa Rantauan) berkolaborasi dengan Sanggar Ratu Kinasih. Dari Kecamatan Klungkung diwakili oleh Karang Taruna Desa Tojan. Lalu ada Sekaa Teruna Satya Dharma dari Kecamatan Dawan, dan Sanggar Sandhi Suara dari Kecamatan Banjarangkan.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan Klungkung, I Ketut Suadnyana, lomba ogoh-ogoh akan digelar di Alun-alun Ida Dewa Agung Jambe pada 25 Maret 2025.
Untuk peserta perwakilan kecamatan di Klungkung daratan seperti Banjarangkan, Dawan dan Klungkung akan mendapat masing-masing dana pembinaan sebesar Rp30 juta. Sementara untuk Nusa Penida mendapatkan Rp35 juta.
”Sementara untuk hadiah Juara I akan mendapat Rp25 juta, Juara II sebesar Rp20 juta dan Juara III sebesar Rp15 juta. Hadiah juga diberikan kepada Juara Harapan sebesar Rp10 juta,” bebernya.
Ada sejumlah persyaratan yang harus diikuti peserta dalam lomba ini. Disbud Klungkung menekankan pentingnya penggunaan bahan ramah lingkungan, dapat didaur ulang, serta menerapkan teknik anyam tradisional.
Selain itu, peserta dilarang menampilkan unsur seksual, tarian striptis, simbol penghinaan terhadap organisasi atau partai politik, serta unsur SARA yang dapat memicu polemik.
”Kami ingin memastikan bahwa lomba ini tetap menjaga nilai budaya dan etika yang tinggi,” tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita