RADAR BALI - Aktivitas seismik di wilayah Indonesia menunjukkan intensitas yang cukup tinggi sepanjang paruh pertama Maret 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat sebanyak 30 kejadian gempa bumi yang getarannya dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah, mulai dari Pulau Sumatera hingga Papua.
Salah satu peristiwa yang paling signifikan adalah gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Laut Selatan Sukabumi, Jawa Barat, pada Jumat, 13 Maret 2026 pukul 02.18 WIB.
Aktivitas subduksi lempeng memicu gempa yang getarannya merambat luas hingga ke wilayah Banten.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa titik pusat gempa berada di laut pada kedalaman 53 kilometer.
Episenter gempa terletak pada koordinat 8,04 LS dan 106,86 BT, atau berjarak 121 kilometer arah tenggara Kabupaten Sukabumi.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi," kata Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono.
Analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa tersebut memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip).
BMKG juga melakukan pemutakhiran data magnitudo yang semula tercatat M 5,4 menjadi M 5,3. Berdasarkan pemodelan BMKG, peristiwa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Sebaran Aktivitas Gempa di Seluruh Indonesia
Aktivitas kegempaan di Indonesia pada paruh pertama Maret 2026 tersebar merata dari wilayah barat hingga timur.
Di Pulau Sumatera, warga di Bener Meriah dan Bireuen merasakan getaran pada 12 Maret, disusul gempa cukup kuat di Sinabang dan Lebong yang dampaknya terasa hingga Argamakmur, Kepahiang, dan Bengkulu. Wilayah Lampung juga sempat diguncang getaran yang terasa di Bengkunat.
Bergeser ke wilayah tengah, Pulau Sulawesi menjadi area yang cukup aktif. Gempa dirasakan masyarakat di Kolaka Timur, Kolaka, Konawe, dan Konawe Utara.
Selain itu, daerah Tojo Una-Una, Toli-Toli, Pasangkayu, dan Luwu Timur juga melaporkan adanya guncangan tektonik.
Sementara itu, wilayah Kalimantan yang biasanya stabil, mencatatkan getaran di Melawi, Sintang, dan Sanggau.
Kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku tidak luput dari aktivitas ini. Getaran dirasakan di Sumbawa, Waingapu, dan Sumba Timur.
Di wilayah Maluku, guncangan terjadi di Halmahera Timur, Halmahera Utara, serta Seram Bagian Timur. Di ujung timur Indonesia, warga di Fakfak dan Nabire juga merasakan dampak dari pergerakan lempeng bumi.
Di Pulau Jawa, selain gempa besar di Sukabumi yang getarannya meluas hingga Garut, Tasikmalaya, Bandung, dan Bayah, aktivitas minor juga tercatat di wilayah Pacitan dan kawasan Dieng di Wonosobo.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan posisi Indonesia yang berada di jalur aktif pertemuan lempeng dunia.
Dampak Guncangan Gempa Sukabumi
Guncangan gempa Sukabumi dirasakan dengan skala intensitas yang beragam di berbagai daerah:
Skala IV MMI: Cidolog dan Ciracap (Dirasakan orang banyak di dalam rumah).
Skala III-IV MMI: Tasikmalaya, Cijati, Pagelaran, Sukanegara, Agrabinta, Sindangbarang, Garut, Cidahu, Cimanggu, Campaka, Jampang Tengah, Kadupandak, dan Tegal Buleud.
Skala III MMI: Bayah, Klapanunggal, dan Kabupaten Bandung (Getaran nyata di dalam rumah seakan truk berlalu).
Skala II-III MMI: Pangandaran dan Ciamis.
Kejadian ini menambah daftar panjang aktivitas tektonik di sepanjang zona subduksi Indonesia.
Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta memastikan bangunan tempat tinggal cukup kokoh menghadapi potensi guncangan di masa depan.***
Editor : Ibnu Yunianto