Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mendadak Dokter Caput Mundur dari PDIP, Ini Alasannya

Francelino Junior • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 18:55 WIB
MUNDUR DARI PDIP: Dokter Caput mundur dengan memberikan surat pengunduran diri ke Sekretariat DPC PDIP Buleleng. Dia mengaku ingin fokus di luar politik.(francelino junior)
MUNDUR DARI PDIP: Dokter Caput mundur dengan memberikan surat pengunduran diri ke Sekretariat DPC PDIP Buleleng. Dia mengaku ingin fokus di luar politik.(francelino junior)

SINGARAJARadar Bali.id - Gejolak terjadi di tubuh PDIP Kabupaten Buleleng. Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Banteng Muda Indonesia (BMI) Kabupaten Buleleng sekaligus Wakil Ketua DPC PDIP Buleleng Bidang Kaderisasi Ideologi, Ketut Putra Sedana alias Dokter Caput memilih memundurkan diri. Ia mengaku kecewa dan sadar diri bukan apa-apa.

Keputusan ini tentu mengejutkan, mengingat Dokter Caput dianggap kader potensial dari partai berlambang banteng moncong putih. Ia secara resmi mengembalikan Kartu Tanda Anggota (KTA) PDIP dan seragam BMI ke Sekretariat DPC PDIP Buleleng pada Jumat (16/8) sekitar pukul 11.00 Wita

Pengunduran dirinya itu juga dibarengi dengan surat yang ditembuskan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP utamanya kepada Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

 Baca Juga: Muncul Spanduknya di Jalan-Jalan, Begini Respons Dokter Caput

Tak sendiri, ia didampingi sejumlah pengurus BMI Buleleng yang juga memilih mengundurkan diri. Mereka juga membawa satu kresek merah berisi seragam BMI yang merupakan organisasi sayap partai. Mundurnya Dokter Caput juga diikuti oleh pengurus BMI di tingkat kecamatan yang ada di seluruh Kabupaten Buleleng.

Dokter Caput sendiri sudah menjadi kader banteng sejak tahun 1996 dan memiliki KTA PDIP sejak tahun 1999.

 Baca Juga: Dokter Caput Kembalikan Formulir Pilkada Buleleng, Diiringi Kesenian Megoak-goakan dan Hadrah

Ia mengaku bila keputusannya ini cukup berat, namun pasca keluarnya rekomendasi pasangan calon dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP pada Rabu (14/8), membuat banyak aspirasi dari arus bawah yang kemudian menambah pertimbangannya untuk mundur.

 

Memang kekecewaan pasca keluarnya rekomendasi sangat mendasari kemundurannya, meski ia sendiri harus legawa dengan penilaian dari pimpinan partai yang objektif dan subjektif terkait figur yang diberikan rekomendasi.

Sebelumnya, Dokter Caput merupakan satu dari delapan orang yang mendaftarkan diri sebagai calon kepala daerah di PDIP. Selain ia, ada juga nama I Nyoman Sutjidra, Nyoman Arya Astawa, Ketut Rochineng, Gede Supriatna, Ketut Ngurah Arya, Wayan Masdana, dan Dewa Nyoman Sukrawan. 

Namun ada juga sejumlah pertimbangan yang membuatnya memilih keluar dari “kandang banteng”. Alasan lainnya, karena Dokter Caput ingin lebih berkonsentrasi dalam bidang akademisi dan praktisi kesehatan, yang menuntut juga profesionalisme dan konsentrasi dalam tugas. 

Selain dengan alasan kaderisasi yang harus terus berjalan di tubuh PDIP Buleleng, karena ia sudah terlalu lama berada di PDIP.

Bahkan pertimbangan dan aspirasi ini pun harus dirapatkan oleh Dokter Caput bersama dengan pengurus BMI Buleleng dan Loyalis Dokter Caput (LDC) pada Kamis (15/8), sehingga menimbulkan keputusan bulat.

 

”Yang jelas hal ini sikap dan aspirasi dari bawah. Kekecewaan jelas sudah pasti mendasari. Tapi saya harus sadar diri, saya bukan apa-apa,” ujarnya kepada Radar Bali.

 

Meski mundur, namun Dokter Caput tetap mengucapkan rasa terima kasihnya kepada PDIP, lantaran perjalanan panjangnya sejak tahun 1996 di partai tersebut, sudah memberikan banyak pelajaran terkait nilai dan ideologi bangsa.

Termasuk juga menyampaikan permintaan maaf kepada teman-teman kader yang sudah bergelut bersama dalam memperjuangan dan membesarkan PDIP di Buleleng.

”Meski keluar, tapi persahabatan dan pertemanan tidak akan putus. Tetap akan beri masukan demi kebesaran partai, utamanya untuk masyarakat Buleleng,” lanjut Dokter Caput.

Apakah pindah partai? Politisi asal Kelurahan Banjar Jawa ini mengaku belum memikirkan hal tersebut. Menurutnya, semua partai dengan ideologi dan visi misi serta nilai yang dijabarkan, tentu bermuara pada kesejahteraan masyarakat yang adil, sejahtera, dan makmur.

Dokter Caput lebih memilih untuk tetap meneruskan kegiatan sosialnya, meski sudah tidak “berbaju merah” lagi. Sebab katanya, tidak ada kegiatan sosial yang tidak bermanfaat atau tidak bernilai.

Ia menyebutkan, bila kegiatan serupa dapat terus digelar tanpa harus melihat wadah maupun warna baju, namun lebih kepada murninya kegiatan tersebut untuk masyarakat.

”Saya pasti akan menyerap aspirasi. Dimanapun saya berada, pasti akan berusaha berbuat, bertingkah laku, berpikir untuk masyarakat Buleleng,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Buleleng, Gede Supriatna mengungkapkan bila pihaknya sangat menyayangkan mundurnya salah satu kader senior di PDIP itu. 

Bahkan sebelumnya, Supriatna sempat bertemu dengan Dokter Caput guna membahas perihal kemundurannya itu. Namun pilihan dari politisi berkumis itu tetap ingin mundur, karena lebih memilih berfokus di luar politik.

”Kalau itu sudah jadi keputusan Dokter Caput, ya itu hak beliau seperti itu, walaupun kami sangat sayangkan beliau kader senior yang mempunyai kemampuan dan pengalaman,” katanya dikonfirmasi via telepon.

Namun Supriatna mengharapkan kemunduran kadernya itu bukan karena urusan Pilkada Buleleng 2024, melainkan alasan di luar politik. Ia juga menegaskan PDIP akan tetap solid meski ditinggalkan Dokter Caput.

”Semoga sesuai dengan komitmennya (tidak terkait rekomendasi), nanti masyarakat yang akan menilai beliau,” pungkasnya. [*]

 

 

Editor : Hari Puspita
#pdip #politik #buleleng