MANGUPURA,radarbali.id - Viral di sosial media, Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Banjar Dinas Kelodan, Desa Punggul, Abiansemal, Badung dikurung dalam ruangan berjeruji besi. Video yang tersebar diunggah oleh akun TikTok I Wayan Setiawan.
Pihak keluarga pun telah melakukan klarifikasi bahwa ODGJ dengan nama I Made Sumandi Arta atau Made, 46, telah dirawat sejak tahun 1998 karena skizofrenia. Bahkan ia telah keluar masuk RSJ Provinsi Bali sebanyak 10 kali.
Berselang satu minggu setelah dibawa pulang ke rumah, Made kembali kumat dan mengamuk. Ia pun tak mau meminum obat yang menurutnya adalah narkoba.
Baca Juga: Ketika Tim Esport Bali Lolos PON Aceh-Sumatera Utara: Tekuk Jakarta tanpa Perlawanan, Bidik Medali PON
Ketika mengamuk, Made melempar-lemparkan batu ke rumah sebelah, berbuat onar hingga tetangganya melakukan upacara mecaru, hingga masuk ke sekolah dan memukuli salah satu siswa.
"Sewaktu-waktu saja dia kumat, biasanya tiga hari sebelum rahinan pasti kumat dan teriak-teriak. Kalau di luar pasti dia ngamuk, makanya dia dimasukin (ke ruangan dengan jeruji besi, red). Sebetulnya tidak tega mengurung seperti ini," kata ipar dari Made, Putu Ngurah Gunawan ketika ditemui di kediamannya, kemarin (18/9/2023).
Bahkan dari salah satu yayasan dengan rutin tiap minggu memeriksa kondisi Made. Mulai dari cek tensi, memberikan injeksi, obat, hingga sembako sampai sekarang. Keluarga pun selalu merawat dan memberikan makan tiga kali sehari.
Baca Juga: Ini Manfaat Ampas Kopi : Untuk Pupuk Kompos hingga Pengempuk Daging
"Istri saya yang selalu menanyakan mau makan apa, kalau ingin lawar, saya belikan lawar. Dulu awal (skizofrenia, red) karena sakit perut lalu koma di RS Sanglah selama 10 hari. Baru sadar, langsung ngemik-mik (berbicara sendiri, red)," sambungnya.
Setelah dirawat jalan, Made mulai mengamuk dan dibantu oleh masyarakat sekitar hingga polisi untuk dibawa ke RSJ Provinsi Bali. Dengan sifatnya yang keras dan pendendam, dikatakannya Made masih mengingat orang-orang yang pernah menyakitinya.
Adapun pekerjaan Putu Gunawan yang saat ini merawat Made, yaitu seorang petani. Sehari-harinya ia menggarap sawah seluas 10 are untuk memenuhi kebutuhan beras. Sementara untuk lauk pauknya, ia mengelola dana dari bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
Baca Juga: Mau Ladeni Stallion Laguna FC, Rumput Sintetis Bukan Alasan untuk Kalah bagi Bali United, Boyong 23 Pemain
Terkait dengan tersebarnya video sang kakak, Putu Gunawan mengaku mengetahui dari Kelian Banjarnya.
"Saya diinfokan oleh kelian dan dikirimi video yang ada di medsos. Saya (awalnya, red) belum tahu dan ke bale banjar cari wifi. Lalu besoknya saya buat klarifikasi," tuturnya.
Menurut Kelian Banjar Dinas Kelodan, Gusti Made Sudika, bantuan berupa PKH telah diberikan sejak awal adanya program ini di tahun 2014. Bahkan dari pemerintahan desa, kabupaten, samai pusat sudah memberikan bantuan untuk Made dan keluarganya.
Baca Juga: Harga Beras Naik Tak Terkendali, Gabah Kering Juga Diborong ke Luar Bali, Warga Harus Kurangi Konsumsi Nasi
Pengunggah video yang viral itu pun tidak ada mengonfirmasi keadaannya ke pihak desa dan hanya konfirmasi ke sanak keluarga, dalam hal ini ayahanda Made yang berusia lebih dari 77 tahun.
"Artinya tuduhan pemerintahan desa tidak memperhatikan itu saya sanggah. Kami sudah berbuat untuk itu dan pengobatan-pengobatan dari puskesmas dan RS sampai saat ini dilakukan pengobatan," kata Sudika.
Made dirawat di rumah lantaran ada kendala jika dibawa ke RS. Seperti batasan rawat inap di RSJ dan keadaan yang tidak memungkinkan untuk bolak-balik ke RSJ.
Baca Juga: Mimih, Kebakaran Hutan Bromo Gegara Foto Prewedding Capai 504 Hektare
"Kalau bolak-balik, keadaannya seperti ini dan iparnya punya anak tiga masih kecil-kecil. Orang tuanya juga lebih nyaman anaknya di rumah," sambungnya.
Rumah yang khusus dibuatkan untuk Made merupakan inisiatif dari pihak keluarga agar Made juga tak membahayakan lingkungan sekitar ketika kumat.
Bidang rumah dengan jeruji besi ini dibangun menggunakan APBDes sebesar Rp20 juta dan sudah dilengkapi beragam fasilitas, termasuk kamar mandi.
Baca Juga: Viral, Bule yang Berhubungan Intim Depan Rumah Warga Kuta Ditangkap, Wanitanya Kabur
Setelah dibuatkan rumah untuk Made, pihak desa juga mengusulkan renovasi untuk rumah keluarga agar layak dihuni dengan program Kualitas Rumah Sehat ke Dinas Sosial Kabupaten Badung. Akhirnya rumah orang tua Made direnovasi pada tahun 2018 dengan dana sekitar Rp35 juta.
Dengan adanya video viral ini, ia mencoba untuk mengambil sisi positifnya. Mulai banyak yang datang dan memberikan bantuan ke Made dan keluarganya. Ia pun sering membalas komentar-komentar dari warganet terkait dengan video yang viral.
Untuk penyebar video, ia tidak akan memperpanjang masalah ini dan hanya mengambil sisi positifnya. Pasca viralnya video tersebut, pihak Puskemas, Dinas Kesehatan, hingga RSJ Provinsi Bali telah memeriksa kembali kondisi Made, kemarin (18/9).
Baca Juga: Dua Residivis Sindikat Narkoba Lintas Provinsi Ditangkap, Modusnya Sembunyikan Ganja dalam Pakaian Bekas
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Bagus Surya Kusumadewa, Sp.KJ ungkap Made memang memiliki gangguan jiwa skizofrenia. Riwayatnya menunjukkan Made sudah beberapa kali masuk RSJ Provinsi Bali dan terakhir sekitar bulan Mei 2015 silam.
"Untuk sekarang kondisinya pasien ini memang masih mengalami halusinasi dan ada suara-suara yang menyuruh dia atau mengajak berbicara. Dia sekarang juga dalam kondisi punya waham atau keyakinan yang salah," jelasnya.
Oleh karenanya, saat ini Made akan menerima pengobatan dan dibawa ke RSJ Provinsi Bali untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Baca Juga: Nah! SBY Janji Turun Gunung Demi Prabowo, Ini Alasannya
Di hari yang sama, Made dibawa ke RSJ oleh tim dari Puskesmas. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan terkait dengan kondisi di RSJ saat ini. Surya mengakui hanya tersedia 400 tempat tidur atau bed di sana.
Sedangkan menurut riset kesehatan dasar tahun 2018 yang dilakukan Kemenkes, tercatat hampir 12 ribu ODGJ di Bali. Sehingga dilakukanlah sistem rolling, yang perlu perawatan dan akut dibawa ke RSJ, sementara yang sudah bisa rawat jalan akan dipulangkan. Ditanyakan terkait lama penanganan untuk Made, Surya ungkap tergantung pada kondisinya saat itu.
"Penanganannya nanti tergantung kepada kondisi pasien, jadi setiap orang berbeda. Kalau secara BPJS memang ada batasan-batasan waktunya. Tetapi itu tidak menjadi sebuah keharusan, disesuaikan dengan kondisi pasien itu sendiri," kata Surya.***