INI tradisi sudah turun temurun. Bendesa Adat Tumbak Bayuh, Ida Bagus Gede Widnyana menyebutkan tradisi ini rutin dilaksanakan tiap Tumpek Kandang atau Tumpek Uye.
Filosofi perang gandu berdasarkan dari konsep Ida Sang Hyang Widhi ketika akan menciptakan Sang Hyang Rwa Bhineda atau dua yang berbeda.
“Filosofinya itu juga di dalam memohon anugerah karunia Tuhan Yang Maha Esa di dalam kehidupan kita di alam manusia yang merupakan anugerah dari hasil penciptaan-Nya," jelasnya tentang makna filosofis.
Seperti makanan, minuman, udara, dan semua energi alam yang menunjang pertumbuhan manusia,” tuturnya.
Dalam hal ini, Sang Hyang Rwa Bhineda diciptakan dalam kehidupan manusia adalah pria dan wanita yang nanti merupakan lambang dari feminim dan maskulin.
“Itu berarti kita menghormati, memuja beliau, meraga sang hyang rwa bhineda demi sebuah hasil ciptaan yang bisa menunjang kelangsungan dari alam semesta,” sambungnya. [*]
Editor : Hari Puspita